Mangku Pastika Gandeng NCPI Bali Bantu Sembako untuk Pecalang

  • Whatsapp
PENYERAHAN paket sembako Mangku Pastika bersinergi dengan NCPI Bali kepada pecalang Pemogan. Foto: ist
PENYERAHAN paket sembako Mangku Pastika bersinergi dengan NCPI Bali kepada pecalang Pemogan. Foto: ist

DENPASAR – Anggota DPD RI Perwakilan Bali, Made Mangku Pastika, bersinergi dengan Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali memberi perhatian serius terhadap keberadaan pecalang yang menjalankan tugas di tengah pandemi. Kali ini sedikitnya 50 paket sembako diberikan kepada pecalang Pemogan.

“Jadi selain tenaga medis yang juga merupakan garda terdepan menangani pasien Covid-19, di lapangan dilakukan oleh desa adat melalui pecalang untuk mencegah dan juga memutus penyebaran virus ini. Jadi dalam hal ini, Pak Mangku Pastika dan juga komponen masyarakat lainnya memberikan perhatian seirus,” ungkap I Ketut Ngastawa seusai menyerahkan paket sembako kepada Pecalang Pemogan yang didampingi pengurus NCPI di Renon, Denpasar, Sabtu (16/5).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, NCPI Bali berkoordinasi dengan DPD RI Bali, Made Mangku Pastika telah berulangkali melakukan kegiatan sosial.  “Sudah delapan kali melakukan kegiatan sosial, diantaranya donasi kepada desa adat Panjer, Pemogan, dan Padang Sambian Kaja yang ketika itu diserahkan melalui Majelis Desa Adat Provinsi Bali. Jadi organisasi ini kendatipun baru, cukup tinggi memberikan atensi terhadap pandemi ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kelian Banjar Sakah, AA Gede Agung Aryawan yang mewakili pecalang Pemogan menyampaikan terima kasih atas perhatian dari NCPI dan juga DPD RI Bali, Made Mangku Pastika yang telah memberikan bantuan paket sembako kepada pecalang.

Baca juga :  Tim Jaya-Wira Klaim Kemenangan 73 Persen

“Pada prinsipnya para pecalang sudah terbiasa ngayah (bekerja tanpa dibayar-red). Pada saat penanganan Covid-19 ini, para pecalang begitu panjang waktu yang mereka lalui, yakni dari Nyepi hingga sekarang. Kurang lebih dua bulan. Saya kira dalam konsep ngayah, tetap harus ada rasa manusiawi,’’ ungkap pria yang akrab disapa Gung De ini.

Dikatakanya, para pecalang ini juga butuh makan. Tidak hanya ngayah saja. Mengingat, mereka juga punya anak dan istri di rumahnya.  “Mungkin kalau ngayah hanya satu hingga dua hari, mereka akan iklas tidak dapat apa-apa. Tapi ini kan begitu panjang. Kendatipun demikian, para pecalang ini memiliki konsep ngayah tanah kelahiran sekala-niskala. Jadi bagaimanapun kondisi kita, khususnya dalam pandemi ini, harus kita berjuang,” ujarnya. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.