Madiadnyana: Pembelajaran Daring Gagal Total!

  • Whatsapp
PENGAMAT Pendidikan, Drs. I Nengah Madidanyana, MM. foto: gus alit

”Lakukan Fervikasi Protokol Kesehatan dan Buka Kembali Sekolah”

DENPASAR – Orangtua siswa mengeluhkan sistem pembelajaran dalam jaringan (daring). Selain pelajaran yang diberikan dirasa cukup berat dan memerlukan sarana telepon pintar, juga harus dibebani pembelian kuota data yang cukup mahal di tengah anjloknya perekonomian masyarakat akibat pandemi Covid-19 ini.

Pengamat Pendidikan, Drs. I Nengah Madiadnyana, MM., mengatakan, para orangtua siswa yang notabene bukan dari tenaga pendidik belum siap betul melakukan pendampingan terhadap anak-anaknya. Apalagi di tengah pandemi ini, selain mereka harus putar otak untuk mencari nafkah yang sangat sulit, juga harus merogoh kocek lagi untuk pembelian kuota.

“Jadi mereka dihadapkan dua persoalan berbeda yang harus dijalankan secara bersamaan. Apakah mencari nafkah, atau mendampingi anaknya belajar daring? Tentu saja mereka memilih mencari nafkah untuk bertahan hidup, dibandingkan harus mendampingi anaknya. Jadi pembelajaran daring ini menelantarkan sang anak,” ujarnya di Denpasar, Kamis (30/7/2020).

Baca juga :  Gubernur Koster Ambil Sumpah Janji 763 PNS, Ini Pesannya

Lanjut dia, permasalahan pun tak terhenti di sana. Jika dari segi pribadi anak yang kebetulan malas, maka akan memicu terjadinya kekerasan terhadap anak. Orangtua siswa yang tidak sabar akan terpancing emosinya saat melakukan pendampingan.

“Guru yang di sekolah saja kesulitan mengajar anak yang malas, apalagi orangtua siswa yang bukan berlatarbelakang seorang guru. Tentunya ini menjadi permasalahan lagi. Jadi, bisa saya katakan bahwa belajar dengan sistem daring ini, 80 persen gagal total,” ujarnya.

Di tengah penerapan tatanan kehidupan era baru ini, Madiadnyana yang juga Kepala SMK PGRI 3 Denpasar inipun mengusulkan agar sekolah dibuka kembali. Seperti pariwisata yang dibuka kembali secara bertahap untuk mengangkat perekonomian masyarakat.

Baca juga :  Positif Covid-19, Pemandu Wisata Meninggal

“Saya sarankan sekolah dibuka kembali dengan syarat menerapkan protokol kesehatan dan juga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Untuk itu lakukan ferivikasi oleh dinas terkait, dan turun ke sekolah-sekolah mengecek kesiapannya. Jadi jika ada sekolah yang sudah siap, maka itu yang diperbolehkan melakukan pembelajaran dengan sistem tatap muka langsung,” sarannya.

Ketua YPLP PGRI Kota Denpasar ini menambahkan, pihak sekolah pastinya sudah siap betul menerapkan protokol kesehatan dalam pelajaran tatap muka secara langsung. Seperti menyiapkan tempat cuci tangan hingga mengatur jarak tempat duduk.

“Ya kita atur anak-anak dengan double shift, masuk pagi dan siang dengan waktu empat jam pelajaran per satu kali shift, dan tanpa istirahat untuk menghindarkan mereka bersentuhan langsung dengan siswa lain,” jelasnya seraya mengatakan, anak-anak wajib membawa hand sanitizer.

Baca juga :  Kominfo Denpasar Siapkan Pelayanan Daring di Tingkat Desa/Lurah

Kata dia, selain penerapan protokol kesehatan itu, sekolah juga harus melibatkan Satgas Gotong-royong di mana sekolah itu berdiri. “Mereka kita libatkan sebagai pengawas di sekolah-sekolah sehingga penerapan protokol kesehatan bisa lebih optimal,” tandasnya.

Dengan upaya itu, lanjut dia, maka keluhan orangtua siswa tentang pembelajaran daring ini bisa diatasi. “Kita bukan melawan virus yang tak kasat mata ini. Tapi kita harus berani memulainya seperti yang digaungkan pemerintah, yakni adaptasi kebiasaan baru dan menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan Tatanan Kehidupan Bali Era Baru,” pungkasnya. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.