POSMERDEKA.COM, BANGLI – Sampai saat ini kelanjutan pengelolaan pabrik kopi di Desa Mengani, Kecamatan Kintamani nyaris tidak terdengar. Padahal pabrik sangat diharap petani di sekitarnya untuk bisa menampung produksi kopi. Sekarang petani kopi di Bangli, khususnya di Kintamani, telah memasuki musim panen.
Wakil Ketua DPRD Bangli, Komang Charles, beberapa waktu lalu, mengingatkan dinas terkait agar memperhatikan keberadaan kebun kopi di areal pabrik kopi Mengani. Meski saat ini pabrik pengolahan kopi tidak beroperasi, Charles minta aset berupa kebun kopi tetap dikelola dengan baik. Apalagi sekarang masuk musim panen, dan harga kopi terbilang bagus.
Dia menuturkan, sebelumnya menerima informasi kebun kopi di sana tidak terurus sejak pabrik berhenti beroperasi. Kondisi itu dia sayangkan, mengingat kebun kopi di areal pabrik merupakan potensi menambah pendapatan daerah jika dikelola dengan baik.
Berhubung harga jual kopi menyentuh Rp15.000 per kg untuk kopi gelondong merah, Charles minta kebun diperhatikan. ”Keberadaan kebun kopi di Mengani bisa jadi potensi pendapatan asli daerah daripada kebun itu dibiarkan (tidak terurus),” serunya.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan dan Perikanan(PKP) Kabupaten Bangli, Wayan Sarma, di kesempatan terpisah, berkata sebenarnya kebun kopi di Desa Mengani selama ini rutin dibersihkan oleh pegawai secara gotong royong.
Dari 2,8 hektar total luas lahan area pabrik kopi Mengani, luas kebun kopinya sekitar 1,5 hektar. “Kebun kopi di pabrik itu berbuah, tapi tidak terlalu lebat. Untuk musim ini, secara umum produksi kopi kurang bagus dibandingkan tahun lalu,” jelasnya.
Hasil panen kopi di kebun Mengani, sambungnya, akan dijual. Hasilnya akan masuk ke kas daerah sebagai retribusi penjualan produksi usaha daerah yang rutin dilaksanakan. gia
























