Kunci Tertibnya Bali, Banyak Bergantung Desa Adat

  • Whatsapp
Ilustrasi: Foto: net
Ilustrasi: Foto: net

DESA ADAT memegang peranan penting  terhadap tertib dan tidak tertibnya warga Bali dalam menghadapi wabah Corona. Kalau desa adat bergerak tegas, warga tidak berani melanggarnya sebab krama desa lebih takut dengan sanksi moral daripada sanksi hukum formal.

Gubernur Bali Wayan Koster, sudah benar memberikan perhatian lebih kepada desa adat. Kini, tinggal memberikan arah dan penegasan supaya desa adat lebih berperan, apalagi dibantu dengan desa dinas di bawah komando para perbekel (kepala desa).

Banyak pelajaran yang diperoleh masyarakat dengan kasus Covid-19 (Corona) ini.  Kita harus belajar dari NTB, tetangga terdekat. Ternyata sikap guyub (bersahabat) dalam kumpulan besar membawa dampak buruk, paling tidak dalam hal melawan wabah Corona. Kenapa? Masyarakat NTB banyak kena kasus positif Corona, usai mengikuti Tabligh Akbar di Gowa (Sulawesi) bulan lalu.

Baca juga :  Satu Pasien Covid-19 di Badung Sembuh, Lima Orang Lainnya Dalam Perawatan

Konon, saking guyub-nya seperti biasa peserta dalam acara itu  saling bersalaman, pelukan, karena merasa bersaudara. Akhirnya, mereka malah banyak tertular Corona.

Gubernur NTB sudah minta masyarakat jangan menyalahkan Jamaah Tabligh (JT). Hal ini menjadi sebuah pelajaran berharga di masa mendatang.

Bagaimana kita di Bali?

Pemerintah sudah sejak awal bersama lembaga terkait di bidang keagamaan melarang desa pakraman, melakukan upacara keagamaan seperti upacara perkawinan, piodalan dan lain-lain dengan mengerahkan masyarakat.  Melakukan piodalan dengan berbakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa – pasti sikap yang mulia.

Namun wabah Corona tidak mau kompromi dengan suasana seperti itu. Sebagai manusia berakal sehat, sudah sepatutnya kita mengalah. Toh,  berikutnya kalau sudah normal, masyarakat dapat kembali melakukan upacara-upacara tersebut sebagaimana mestinya.

Baca juga :  Wuling Motors Jadi Sponsor Utama Bali United

Sikap “bengkung” membawa petaka. Hal ini yang harus disadari bersama.

Saya memperhatikan, warga desa adat di Bali semakin tertib menghadap wabah kali ini. Mereka makin sadar mengikuti anjuran pemerintah, diam di rumah, bekerja dari rumah, beribadah di rumah. Mereka juga rajin mencuci tangan, tertib menggunakan masker jika harus keluar rumah, hidup lebih sehat dan tetap melakukan bakti kehadapan leluhur. Peranan desa adat penting, tanpa mengurangi peranan lembaga yang lain.

Dampak dari kondisi tersebut tetap ada. Sejumlah kalangan tetap  “menjerit” melalui media sosial, karena belum mendapat bantuan sosial. Tetapi pemerintah pasti sudah menyiapkan untuk itu.

Kalangan swasta juga sudah bersinergi memberikan sejumlah bantuan kepada pihak yang memerlukan. Partai politik dan lembaga kemasyarakatan,  bergerak melakukan kegiatan sosial dengan membantu apa yang  mereka dapat lakukan.

Baca juga :  Dampak Corona, “Expatriate” Borong Masker untuk Ekspor

Masalah penting yang perlu diperhatikan, koordinasi, integrasi dan sikroninasasi di kalangan aparat pelaksana. Hal ini perlu dimantapkan sehingga tidak ada korban yang merasa diperlambat pelayanannya.

Sudah banyak edaran pusat bahwa anggaran pembangunan direlokasi sehingga dapat difokuskan untuk penanggulangan wabah Corona. Namun pelaksanaan rupanya tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan regulasi turunan, sehingga birokrasi tidak menyalahi hukum yang berakibat buruk di kemudian hari.

Hal inilah yang perlu disadari berbagai pihak, sehingga tidak muncul pendapat alias kritikan tanpa dasar kepada penyelenggara pemerintahan.

Semua sepakat, hei…rakyat Bali… bersatupadu melawan Corona supaya cepat musnah dari bumi ini!.

[Made Nariana, wartawan SK POSBALI]

banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 SMK BALI DEWATA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.