POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) menerapkan pendekatan belajar mendalam atau deep learning di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Deep learning juga ditegaskan, hadir bukan untuk menggantikan Kurikulum Merdeka yang dinisiasi menteri sebelumnya, Nadiem Makarim.
Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Basyarudin Thayib, mengatakan bahwa model pembelajaran deep learning bukan teori baru, melainkan sudah menjadi teori yang berkembang selama dua dekade belakangan. PGRI, kata Basyarudin Thayib, menyambut baik model pembelajaran deep learning.
‘’Pendekatan deep learning dalam dunia pendidikan pada dasarnya merupakan metode pembelajaran dengan suasana yang menyenangkan bagi para siswa. Agar siswa senang belajar, tentu dipengaruhi oleh kemampuan bapak dan ibu guru untuk menguasai materi di satu sisi,’’ kata Basyarudin Thayib di sela-sela Konferensi Provinsi (Konprov) PGRI Bali di Denpasar, Jumat (6/12/2024)
Lebih lanjut dikatakan Basyarudin Thayib, pendekatan deep learning mengedepankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centre). Di samping itu, memperhatikan keberagaman kemampuan dan karakteristik siswa (pembelajaran berdiferensiasi), pembelajaran yang bersifat kontekstual, pendekatan konstruktivisme, pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM), membangun kemampuan berpikir kritis (critical thinking), membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS), dan menerapkan pendekatan saintifik melalui pembelajaran inquiry, discovery, eksperimen, pembelajaran berbasis masalah, dan pembelajaran berbasis proyek.
‘’Intinya, siswa diberikan kesempatan yang luas dan leluasa untuk mengamati, mengeksplorasi, menganalisis, dan mengambil kesimpulan dari materi yang dipelajarinya,’’ ujarnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan, pemerintah perlu menyadari kondisi kesiapan para pengajar menerapkan pendekatan deep learning. Ia mengingatkan, kondisi guru atau pengajar berbeda-beda. Artinya, jika pendekatan deep learning ini menjadi program nasional, otomatis akan ada penyesuaian terhadap metode mengajar.
‘’Bila deep learning menjadi pola pembelajaran wajib, ada baiknya pemerintah memberikan pelatihan khusus kepada guru-guru. Ini akan ada tantangan untuk mengubah pendekatan dan pola mengajar,” kata dia.
Oleh karena itu, seiring mengkaji deep learning, pemerintah perlu mempersiapkan kemantapan guru. Basyarudin Thayib menilai deep learning tidak akan menjadi masalah bila dipersiapkan matang.
Sementara itu, Pj. Gubernur Bali diwakili Staf Ahli Bidang PMK, I Made Sudarsana, saat membuka Konprov PGRI Bali dalam sambutannya menegaskan, pentingnya transformasi dalam banyak aspek. Pendidik juga perlu disiapkan untuk mengikuti perubahan dan tantangan zaman, transformasi digital bagi guru merupakan suatu keniscayaan. Selain terkait digital, aspek lain yang tidak kalah penting yakni transformasi pola pikir.
‘’Semoga pengurus PGRI Provinsi Bali terpilih nanti memiliki kepedulian, komitmen, integritas, daya juang hingga profesionalitas. Jadikan PGRI sebagai wadah untuk memunculkan berbagai inovasi di bidang pendidikan di berbagai tingkatan,’’ lugasnya.
Konprov PGRI Bali yang berlangsung sehari menghasilkan Ketua Umum baru yakni, Dr. Ir. I Gusti Ngurah Eddy Mulya, S.E., M.Si., menggantikan I Komang Artha Saputra. Dua kandidat bersaing dalam perebutan suara (voting) setelah peserta konferensi gagal menemui kata aklamasi. Dua kandidat Ketum itu yakni mantan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar yang kini menjabat Kepala Bapenda Kota Denpasar, Dr. Ir. I Gusti Ngurah Eddy Mulya, S.E., M.Si., dan Ketua PGRI Kabupaten Badung, I Wayan Tur Adnyana.
Setelah melewati voting, akhirnya Eddy Mulya, terpilih menjadi Ketua Umum PGRI Bali masa bakti 2024-2029. Eddy Mulya yang dikenal sangat dekat dengan guru itu menang tipis dengan meraih 122 suara, sedangkan Tur Adnyana mengantongi 116 suara.
Sedangkan Sekretaris Umum dipegang Ayu Sri Wahyuni, S.Pd., M.Pd., dipilih secara aklamasi. Pelantikan jajaran pengurus inti PGRI Bali yang baru langsung dilakukan oleh Ketua PB PGRI, Basyarudin Thayib.
Eddy Mulya adalah sosok birokrat yang dinilai mampu menggerakkan organisasi dan memberi kenyamanan serta kesejahteraan kepada anggota PGRI sebagai pengabdi di dalam pendidikan anak bangsa. Birokrat murah senyum asal Banjar Pandak, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan ini, dikenal cerdas dan mempunyai jiwa pengabdian yang tinggi.
Eddy Mulya menegaskan bahwa tidak ada yang kalah dalam konferensi melainkan kemenangan bersama milik PGRI Bali. Ia ingin dukungan semua pihak mulai dari unit sekolah hingga Cabang PGRI seluruh Bali untuk mengawal tiga misi PGRI, yakni memperjuangkan hak guru, meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme dan perlindungan bagi guru. tra
























