POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Komisi III dan Komisi IV DPRD Kota Denpasar pada Kamis (7/8/2025) melakukan kunjungan kerja ke SMPN 17 Denpasar guna meninjau pembangunan gedung sekolah yang berlokasi di Jalan Nagasari, Penatih Dangin Puri, Denpasar Timur, tersebut. Kunjungan ini merupakan bagian dari tugas pengawasan legislatif dan bertujuan untuk memastikan kelancaran serta kualitas pembangunan sekolah yang menjadi aset penting dalam pendidikan daerah.
Kunjungan kerja dipimpin oleh Ketua Komisi III, I Wayan Suadi Putra; didampingi Ketua Komisi IV, I Wayan Duaja, serta para anggota dari kedua komisi. Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, Anak Agung Gede Wiratama; Plt. Kepala SMPN 17 Denpasar, Ni Nengah Sujani; dan pihak rekanan, yakni PT Pandu Jaya Karya (kontraktor) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana (konsultan pengawas).
Dalam kesempatan itu, Kadisdikpora Kota Denpasar, Anak Agung Gede Wiratama, melaporkan perihal perkembangan pembangunan gedung SMPN 17 Denpasar dengan pagu anggaran Rp40,4 miliar lebih tersebut, mulai dikerjakan 8 April 2025 dan target penyelesaiannya selama 250 hari (8 bulan). Gedung sekolah dibangun 4 lantai dengan basement.
Pada lantai 1 terdapat ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang bimbingan dan konseling, ruang UKS, dan ruang kelas sebanyak 8, serta toilet. Pada lantai 2 terdapat 12 ruang kelas, ruang tata usaha/administrasi, lantai 3 terdapat 10 ruang kelas, perpustakaan, ruang OSIS, ruang laboratorium IPA, dan di lantai 4 terdapat laboratorium, ruang komputer, ruang serbaguna.
Progres pembangunan SMPN 17 Denpasar hingga 119 hari pengerjaan mencapai 67 persen. Target rampungnya proyek sekitar bulan November, diprediksi akan lebih cepat.
Ketua Komisi III DPRD Denpasar, I Wayan Suadi Putra, saat peninjauan proyek pembangunan menyampaikan, ada beberapa catatan hasil peninjauan komisi III dan IV yang dilakukan. Di antaranya, pembangunan basement gedung yang rawan genangan air. Namun hal itu telah diantisipasi dengan dua sekat air di pintu- pintu masuk.
Selain itu, luasan parkir dinilai cukup memadai walaupun luas lahan 38 are, dengan luas rencana tapak 30 are membuat ruangan kelas agak sedikit sempit. ‘’Luas parkir cukup memadai di bawah, sepeda anak- anak juga bisa masuk, cukup luas. Awalnya dipakai untuk guru, tapi ternyata cukup luas, halaman tengah bisa untuk kegiatan pendidikan luar ruangan dan pintu masuk sekolah juga bisa untuk parkir,’’ ujarnya.
Namun dengan pengaturan ruang yang bagus menurutnya dapat mengakomodir kebutuhan belajar. Maka dari itu desain harus bisa diatur dengan ketersediaan lahan yang minim di Denpasar. ‘’Tapi seandainya saja sebagian lahan ini tidak dipakai jalan, cukup sekali luasannya. Sama seperti di SMPN 16, sayangnya dipotong jalan, hilang sekian are,’’ ujarnya.
Menurutnya penggunaan lahan untuk jalan telah diperhitungkan sebelumnya karena awalnya jalan berada di tengah- tengah, membelah lahan sekolah. Namun dengan pembangunan sekolah, jalan yang berada di tengah, dipindahkan ke pinggir. ‘’Hanya itu yang bisa kita lakukan untuk memanfaatkan lahan provinsi ini,’’ tandasnya.
Pekerjaan finishing sudah mulai dikerjakan, sudah mulai pengerjaan mock up kelas. ‘’Progressnya masih aman, sesuai track. Kalau dari sisi waktu, sudah cukup bagus bahkan sepertinya progresnya maju,’’ ujarnya.
Usulan dewan terkait penggunaan kusen aluminium karena dengan demikian tidak perlu memikirkan finishing lagi, tinggal pasang dengan lem. Konstruksi beton juga sudah sesuai. Selain itu ia melihat sudah ada aplikasi bata ringan, di aula menggunakan aplikasi baja berat untuk atap, sisanya baja ringan. Namun ia mengantisipasi agar talang-talang di lantai 3 dan lantai 4 agar dikerjakan lebih awal karena biasanya menjelang waktu proyek selesai, ditinggal oleh rekanan.
Ia juga meminta agar dipasang railing di area yang agak rawan anak anak bisa melompat atau jatuh. Hasil peninjauan hari ini menurutnya proyek pembangunan SMPN 17 Denpasar bisa selesai lebih cepat karena saat memasuki bulan Agustus, proyek sudah mulai masuk proses finishing dan pengerjaan arsitektur Bali.
Ia mengingatkan, berdasarkan pengalaman tahun 2023 dan 2024, penyelesaian pekerjaan style Bali yang kerap membuat molor karena hampir semua proyek pembangunan pemerintah saat pembuatan pagar style Bali, berebut membeli material bata. ‘’Itu sudah kita antisipasi dengan mengerjakan pekerjaan style Bali untuk mengantisipasi kekurangan bahan,’’ imbuhnya.
Anggota Komisi III DPRD Denpasar, Agus Wirajaya, menambahkan, nanti Disdikpora perlu berkoordinasi dengan Dishub untuk mengatur lalu lintas. Mengingat jalan masuk menuju sekolah cukup kecil, bahkan menurutnya untuk papasan 2 kendaraan roda empat sangat mepet.
Sementara pintu masuk utama sekolah lewat Jalan Nagasari, sementara tidak ada jalan tembus di belakang sekolah untuk kendaraan roda empat. Jalan yang ada, menuju sekolah maupun jalan di belakang sekolah yang tembus di Jalan Siulan, masih berupa jalan berkapur dan paving yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Selain itu persimpangan Jalan Siulan – Jalan Trenggana pada waktu tertentu juga kerap macet. tra























