BULELENG – Rencana lokasi tambak udang di Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, mendapat penolakan dari beberapa orang petani tambak nener.
Penolakan itu dibuktikan dengan pemasangan puluhan spanduk tertulis “Kami Petani Nener Penyabangan Menolak Dibangunnya Tambak Udang di Desa Penyabangan” di beberapa titik beberapa waktu lalu.
Petani tambak nener merasa terancam dengan usaha budidaya udang itu. Beredar kabar, petani tambak nener yang menolak tersebut dibekingi bos petambak nener besar yang lama malang-melintang di dalam bisnis nener.
Perbekel Desa Penyabangan, Nyoman Sudiarta, menyebut pemasangan spanduk tersebut sudah dikoordinasi dengan pihak desa. “Ya rencana tambak udang itu ditolak warga. Alasan sebenarnya kenapa ditolak, secara jelas kami belum mengetahui,” cetus Sudiarta, belum lama ini.
Hanya, sambung Sudiarta, dari hasil koordinasi dengan pihak yang menolak, kabarnya mereka khawatir limbah tambak udang akan mencemari air laut di sekitar, sehingga berimbas terganggunya budidaya nener.
Sebab, mereka pernah mempunyai pengalaman soal limbah tambak udang, yang membuat usaha budidaya nener mereka terganggu. “Sebagian besar tambak warga di sini tambak nener,” terangnya.
Dia mengaku telah bersurat ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Buleleng, untuk dapat menjembatani persoalan warga tersebut dengan CV Gideon Maju Mapan yang dimiliki Ferdinandus Ferbianto. “Izin tambak itu sudah terbit, maka kami meminta Dinas terkait agar dapat memfasilitasi penyelesaian persoalan ini,” tegasnya.
Di kesempatan terpisah, Ferdinandus Ferbianto justru mengaku tidak ambil pusing atas penolakan itu. Bahkan menurut Ferdinandus, wajar saja ada penolakan itu lantaran miskomunikasi. Dia menegaskan siap bertemu dengan warga yang menolak rencana membuat tambak udang di wilayah Desa Penyabangan.
“Izin semua sudah lengkap, bahkan kami juga sudah memenuhi surat pernyataan terkait kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup, sudah dipenuhi. Saya siap bertemu kembali untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya yang menolak,” jelasnya. rik























