Ketut Wirawan Ajak Masyarakat Kembali Bertani

  • Whatsapp
SAYUR hijau yang ditanam di Yayasan Dwijendra. Foto: ist
SAYUR hijau yang ditanam di Yayasan Dwijendra. Foto: ist

DENPASAR – Bali yang merupakan destinasi wisata dunia, tiba-tiba terhenti akibat dampak pademi Covid-19. Tak ada turis yang datang, dan industri pariwisata pun lumpuh. Hotel, restoran, maupun objek wisata tutup.  

Masyarakat yang mengantungkan hidup dari gemerincing dolar pun terpaksa banting setir, dan mencoba peruntungan baru. Ada yang menjadi berdagang, dan ada juga yang kembali ke basik, yakni bertani. Kendatipun kurang menjanjikan, namun profesi baru itu terpaksa mereka lakukan untuk sekadar bertahan hidup.

Bertani inipun kini menjadi trend di tengah pandemi ini. Bahkan, Pemprov Bali tengah menggalakan pertanian dengan konsep urban farming. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah, masyarakat khsusunya yang ada diperkotaan diajak bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan di tingkat rumah tangga.

Baca juga :  Walikota Rai Mantra Apresiasi ATM Tanpa Kartu LPD Kesiman

Menanggapi hal itu, Ketua Yayasan Dwijendra, Dr. Ketut Wirawan SH., M.Hum., pun angkat bicara dan mengingatkan bahwa budaya leluhur masyarakat Bali adalah budaya agraris. Ia mengajak untuk tidak saling menyalahkan di tengah bencana Covid-19 ini, dan mengajak masyarakat untuk kembali bertani. ‘’Mari ambil hikmahnya dengan dengan menciptakan lapangan kerja melalui usaha bertani ini,’’ ajaknya, Kamis (25/6).

Menurutnya, di Yayasan Dwijendra sendiri telah mulai melakukan usaha-usaha pertanian dengan memanfaatkan lahan kosong. ‘’Kami di Dwijendra sudah mulai, tanam sayur, tomat, terong, cabai. Dan sudah berhasil dengan baik. Mahasiswa bisa jadi dagang kecil-kecilan,’’ katanya.

Ia siap memberikan edukasi kepada masyarakat tentang tata cara bertani di lahan yang sempit. ‘’Kalau di seputaran Denpasar ada tanah pertanian nganggur, bisa dipinjamkan ke Dwijendra. Ayo kerjasama bikin kebun percontohan untuk masyarakat,’’ pungkasnya. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.