Kemenangan Tamba-Ipat Dirisak di Medsos, Golkar Janji Rangkul Semua Pihak

KETUA DPD Partai Golkar Jembrana, Made Suardana. Foto: hen
KETUA DPD Partai Golkar Jembrana, Made Suardana. Foto: hen

JEMBRANA – Sikap belum bisa segera move on dari kontestasi Pilkada Jembrana 2020 masih terjadi, dengan merisak kemenangan paslon Tamba-Patriana Krisna (Ipat) di media sosial. Belum juga dilantik, paslon yang mengalahkan Kembang-Sugiasa tersebut terus diserang dengan pesan utama kemenangan paslon yang diusung Golkar, Gerindra, dan Demokrat itu tidak lebih karena pencitraan. Rutinnya postingan sandal jepit berisi narasi mengejek di akun Facebook Suara Jembrana ditujukan kepada Ipat, yang dituding sok merakyat saat kampanye tapi kini tidak pernah berbuat begitu lagi.

Ketua DPD Partai Golkar Jembrana, Made Suardana, yang dimintai tanggapan atas realitas itu menilai riak-riak kecil sebelum pelantikan merupakan hal lumrah. Dalam istilahnya, selalu ada pihak yang “belum bisa menerima takdir” dan berulah semacam itu. Kekesalan pendukung paslon yang kalah, sebutnya, sangat beralasan. Sebab, mulai awal sampai dengan detik-detik akhir pemungutan suara, paslon Kembang-Sugiasa didukung partai besar dan kekuasaan dari pusat sampai kabupaten.

Read More

“Itu masih ditambah kemampuan dana yang tak terbatas, sampai-sampai kain brokat tidak habis dibagikan terus. Intinya, kekuatan besar dikalahkan calon bersandal jepit,” cetus anggota Komisi III DPRD Bali itu kalem.

Menyikapi nyinyiran itu, Suardana menegaskan partainya tidak mau terprovokasi. Argumennya, kompetisi tidak lepas dari suratan takdir, dan karena itu pula pihak yang dianggap lemah justru bisa menang. Saat yang sama, dia memandang jauh lebih penting bagaimana menyatukan pihak yang belum bisa menerima kekalahan untuk diajak bersama membangun Jembrana.

“Tugas pimpinan partai untuk merangkul, bersatu membangun dan memperjuangkan kepentingan masyarakat Jembrana. Suka tidak suka, kemenangan Tamba-Ipat ini kemenangan masyarakat Jembrana,” tegasnya.

Lebih jauh dilontarkan, yang ingin perubahan itu adalah masyarakat Jembrana melawan pemerintahan yang dinilai tidak ada perubahan lebih baik dibanding sebelumnya. Yang “melarang” Kembang naik dari Wakil Bupati menjadi Bupati bukan Tamba-Ipat, tapi masyarakat. “Makanya Pak Tamba bilang ini adalah kemenangan masyarakat Jembrana, bukan sebatas KJM,” jelas politisi kalem itu.

Menurutnya, Golkar sebagai penggagas koalisi, mendengar dan menyerap aspirasi masyarakat yang ingin perubahan lebih baik dari kepemimpinan selama 10 tahun terakhir. Dalam kontestasi politikseperti pilkada, ulasnya, niscaya ada pihak yang berhasil dan belum berhasil. Terlepas dari bagaimana hasilnya, tugas elite politik merajut perbedaan saat pilkada agar masyarakat bisa bersatu kembali. Hal itu demi memperjuangkan kepentingan masyarakat Jemberana.

Dia mencontohkan bagaimana sengitnya rivalitas saat Pilpres 2019 antara kubu Jokowi-Prabowo, sampai-sampai ada istilah “cebong” dan “kampret’. Namun, ketika Pilpres selesai, kedua tokoh itu bersatu kembali untuk memperkuat pertahanan Indonesia dari dunia global. “Pimpinan partai saya rasa layak memberi contoh kepada masyarakat dalam berpolitik seperti ditunjukkan di pusat sewaktu selesai Pilpres,” urai Suardana menandaskan. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.