DENPASAR – Kelompok heteroseksual menjadi penyumbang tertinggi kasus HIV/AIDS di Kota Denpasar. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar mencatat, kasus HIV/AIDS yang tercatat di sejumlah layanan di Kota Denpasar komulatif dari tahun 1987 hingga Maret 2022 tercatat ada 14.111 kasus.
‘’Kasus tertinggi terjadi pada kelompok heteroseksual mencapai 10.173 kasus atau 72 persen,’’ jelas Kabid P2P Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. AA Gede Dharmayuda, M.Kes., saat acara Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) Kota Denpasar di SMPN 10 Denpasar, Sabtu (28/5/2022) malam.
Heteroseksualitas merupakan ketertarikan romantis, ketertarikan seksual, atau kebiasaan seksual orang-orang yang berbeda jenis kelamin atau gender dalam pengertian pasangan gender.
Selain kelompok heteroseksual, penyumbang terbesar HIV/AIDS lainnya berasal dari kelompok homoseksual sebanyak 2.696 kasus (19 persen), penggunaan narkoba suntik 630 kasus (4 persen), dan perinatal 374 kasus (3 persen).
Sementara itu, berdasarkan kelompok umur, terbanyak pada usia-usia produktif yakni umur 20-29 tahun sebanyak 5.312 kasus (38 persen). Selanjutnya, kelompok umur 30-39 persen 4.820 kasus (34 persen), kelompok umur 40-49 tahun 2.199 kasus (16 persen), dan kelompok umur 50-59 tahun 841 kasus (6 persen).
Dharmayuda mengatakan, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir terjadi tren penurunan temuan kasus HIV di Kota Denpasar. Temuan kasus HIV pada 2019 (di awal masa pandemi Covid-19) sebanyak 1.149 kasus, kemudian menurun pada 2020 temuan kasus sebanyak 824 kasus, dan pada 2021 sebanyak 804 kasus. ‘’Hal ini bukan karena menurunnya kasus baru di lapangan akan tetapi disebabkan karena menurunnya jumlah kunjungan pasien ke layanan HIV di Kota Denpasar selama masa pandemi Covid-19,’’ terangnya.
Ia mengatakan, berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kota Denpasar sudah dilakukan oleh Pemkot Denpasar. Upaya pencegahan di antaranya melalui program PMS (pencegahan melalui transmisi seksual), sosialisasi dan penyuluhan, promosi kesehatan melalui media tradisional serta media massa. ‘’Upaya lain dengan mencetak kader-kader penanggulangan HIV baik di sekolah yang disebut KSPAN maupun di desa dan kelurahan atau KDPAN,’’ sebutnya.
Sementara upaya penanggulangan HIV/AIDS dilakukan dengan penyediaan layanan HIV yang cukup dan berkualitas, seperti layanan KTS/VCT sebanyak 33 unit, layanan PDP/CST 16 unit, layanan IMS 27 unit, layanan PMTCT 2 unit, LASS 3 unit, dan layanan methadone 1 unit. Termasuk juga penyediaan paket pemeriksaan pra ARV bagi rekan-rekan ODHIV yang kurang mampu.
Upaya lain, meningkatkan kualitas hidup ODHIV. Di antaranya dengan pemberdayaan populasi kunci, pemberdayaan kelompok dukungan sebaya (KDS), pertemuan-pertemuan KDS, dan bantuan kemanusiaan untuk ODHIV yang kurang mampu.
Ia berharap, semua sektor perlu mengambil peran (bekerja sama secara sinergis). AIDS bukan hanya masalah kesehatan saja, tetapi sebagai masalah kemanusiaan. ‘’Setop diskriminasi pada ODHIV dan keluarganya, membangun empati, merangkul korban HIV, dan memberdayakan ODHIV,’’ ujarnya menandaskan. tra























