POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak sangat penting disampaikan kepada seluruh guru di Bali, karena saat ini marak terjadi kekerasan terhadap anak. ‘’Kekerasan yang terjadi tidak lepas dari pengaruh gadget (gawai) dan media sosial (medsos) yang saat ini bisa diakses siapa saja dari berbagai kalangan usia,’’ kata Ketua Perempuan PGRI Bali, Ida Ayu Cintiya Nurina, Senin (15/12/2025).
Dayu Cintiya mengatakan itu saat sosialisasi dan seminar “Pencegahan dan Penanganan Tindak Kekerasan pada Anak” yang digelar Perempuan PGRI Bali bersama PGRI dan DPD RI. Kegiatan ini sekaligus juga memperingati Hari Ibu tahun 2025, sehingga perlu penguatan kapasitas bagi perempuan dalam menjalankan dwi-fungsi mereka.
Diikuti ratusan peserta dari guru, PGRI, IGTKI, Himpaudi, baik secara luring dan daring, sosialisasi ini menghadirkan narasumber Komite 3 DPD RI, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Kepala UPTD PPA Provinsi Bali, Luh Hety Vironika, dan Komnas PPA Lia Latifa.
‘’Kami awalnya ingin menyosialisasikan pencegahan kekerasan anak ini, kemudian disambut pak DPD RI yang sekaligus ingin menyampaikan empat pilar MPR RI. Kami punya visi yang sama sehingga kami berkolaborasi,’’ ujar Dayu Cintiya yang juga Ketua Panitia kegiatan.
Lebih lanjut dikatakan Dayu Cintiya, sasaran kegiatan ini adalah guru-guru yang sering berhadapan dengan anak-anak sehingga tahu kekerasan yang terjadi di kalangan anak didik. Apalagi di era saat ini, banyak anak kecanduan gawai hingga sampai ditangani Komnas PPA. ‘’Bahkan sampai ada anak meninggal karena kecanduan gawai, karena melewatkan makan dan tidur,’’ ungkapnya miris.
Sementara itu, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan, Indonesia, dan khususnya Bali ,mengalami masalah yang urgen harus dicegah yaitu kekerasan fisik dan mental termasuk bullying (perundungan). Salah satu faktornya adalah medsos. Keberadaan medsos dan penggunaan gawai yang masif di semua usia hingga anak-anak, membuat pergaulan dan kondisi sosial anak didik sulit dikontrol, sehingga tindakan kekerasan sulit dielakkan.
Keberadaan medsos yang mengkhawatirkan ini juga terjadi di beberapa negara. Buktinya, Australia akan mengeluarkan kebijakan pembatasan penggunaan medsos pada anak-anak. ‘’Artinya ada dampak serius dari medsos yang perlu diwaspadai. Artinya medsos ini melemahkan generasi mudanya,’’ ujarnya.
Kekerasan ini harus dipahami dan ditangani secara holistik baik lewat pendekatan politik, ekonomi sehingga tantangan di bidang pendidikan dapat ditangani. Meski demikian media sosial tidak hanya dapat memberi dampak negatif tapi juga positif.
Namun perlu kematangan dalam menganalisi konten yang ada di media sosial. ‘’Karena medsos seperti pisau bermata dua bahkan dari medsos bisa timbul kebenaran baru yang dipercayai pengguna medsos sebagai kebenaran mutlak,’’ ujarnya.
Dengan melihat data bahwa Indonesia merupakan pengguna internet dan medsos cukup tinggi di dunia, maka kebijakan bermedsos harus diatur. ‘’Kita perlu mewaspadai bersama, agar anak anak bisa memfungsikan medsos dengan baik dan matang,’’ pungkasnya. tra
























