Janjikan Kejutan di Pilgub 2024, AWK Siap “Koalisi” dan Bagi Suara Calon DPD RI

AWK memberi keterangan ke media usai menyerahkan dukungan syarat minimal pencalonan DPD RI di KPU Bali, Senin (26/12/2022). Foto: hen
AWK memberi keterangan ke media usai menyerahkan dukungan syarat minimal pencalonan DPD RI di KPU Bali, Senin (26/12/2022). Foto: hen

DENPASAR – Bakal calon DPD RI yang juga anggota DPD RI petahana, IGN Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa, menggulirkan gagasan baru dalam kontestasi DPD RI. Dia ingin ada pembagian suara untuk sesama calon dengan visi yang sama. Tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku.

“Saya mengusung tagline AWK berbagi suara,” sebutnya usai menyerahkan syarat dukungan minimal pencalonan DPD RI ke KPU Bali, Senin (26/12/2022). AWK, panggilan akrabnya, membawa 6.699 lembar dukungan dari seluruh Bali meski syarat minimal hanya 2.000, dan tersebar minimal di lima kabupaten/kota.

Read More

Pencalonannya untuk kali ketiga, kata dia, hanya melanjutkan perjuangan Bali berdaulat. Misinya mengawal pembangunan infrastruktur di Bali, jangan sampai nanti ganti Presiden atau menteri kemudian programnya. Sebagai petahana, dia mendaku ada keuntungan pengalaman delapan tahun di Senayan, sehingga tahu banyak masalah.

“Saya merasa memiliki kelebihan pengalaman, apalagi tahun 2014 bareng Jokowi. Intinya, menjaga budaya Hindu Bali,” sebutnya.

Bermodalkan 700 ribu suara lebih pada Pemilu 2019, AWK mengutarakan gagasan pola politik baru setelah semua calon ditetapkan, yakni bekerja sama dengan tiga calon lain saat kampanye. Namun, mereka harus sevisi, dan dia akan memimpin “koalisi” tersebut. Yang dicari adalah calon yang nyambung dan saling bantu, paham adat istiadat Bali, dan apa kebutuhan Bali secara adat dan ekonomi.

“Juga harus paham legislasi, dan tidak jauh antara pemahaman saya dengan mereka,” tegasnya.

Meski saat ini bakal calon tetap banyak, karena ada pemetaan politik, dia tetap optimis bisa kembali melenggang ke Senayan. Tanpa meremehkan calon lawan, dia berujar pencalonan DPD juga memiliki segmentasi dan warna tertentu yang jelas. 

Mengklaim ingin jadi king maker dan negarawan, AWK menegaskan siap berbagi suara demi Bali. Mendaku sering disebut Ketua DPD RI Bali, dia berkata mendorong calon lain untuk ikut maju. “Sayang Pak Mangku Pastika tidak maju lagi,” imbuhnya dengan mimik menyayangkan. Soal bagaimana teknis berbagi suara dimaksud, dia menyebut itu masih dirahasiakan.

Disinggung potensi ikut meramaikan Pilgub Bali pada November 2024, dia hanya tertawa sembari berkelit bahwa sebagai politisi langkahnya tidak boleh dibaca lawan. Tapi, dia mengklaim jalan ke arah itu ada. Pula menjanjikan kejutan untuk Pilgub.

Menariknya, dia melempar isu kontroversial terkait belum tentu ada Pemilu pada 2024. Opsi perpanjangan masa jabatan Presiden dijadikan argumen. “Sepertinya belum tentu ada Pemilu. Pimpinan DPD dan MPR mendorong amandemen perpanjangan Presiden. Nanti bisa jadi gubernur tidak lagi dipilih, tapi ditunjuk langsung oleh Presiden seperti era Bung Karno dulu,” tegasnya dengan artikulasi percaya diri. Namun, dia tidak merinci detail kapan dan bagaimana komunikasi pimpinan DPD dan MPR itu dilangsungkan.

Dengan memberi syarat “koalisi” calon DPD harus paham adat istiadat dan kebutuhan Bali, apakah itu berarti menutup pintu bagi anggota DPD petahana Haji Bambang bergabung? Disodori pertanyaan itu, AWK terdiam sejenak. “Saya tidak komentar soal itu. Yang jelas saya ingin gimana (calon DPD) Bali bisa kompak seperti daerah lain, misalnya seperti Yogyakarta dengan istri Sultan Hamengkubuwono sebagai salah satu (anggota DPD),” tandasnya. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment