GIANYAR – Pasraman Geria Gede Wayahan Buruan di Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar hadir melayani umat Hindu dalam melaksanakan upacara manusa yadnya, pitra yadnya dan dewa yadnya. Pasraman didirikan untuk memudahkan dan meringankan umat dalam melaksanakan upacara yadnya (pengorbanan suci).
Pimpinan Pasraman Geria Gede Wayahan Buruan, Ida Bagus Adi Ananda, Kamis (7/7/2022), mengatakan, biaya pada upacara bergantung jenis dan tingkatan upacara. Ada tingkatannista, madya dan utama. Upacara ngaben sederhana dengan tingkat nuasta genimisalnya, cukup dengan biaya Rp12 juta s.d. Rp15 juta. Kemudian nelubulanin tanpa babi guling cukup Rp2 juta. Untuk pernikahan paling kecil biayanya Rp2 juta tanpamejaya-jaya, hanya mekalan-kalan. Untuk upacara ngaben, pihaknya hanya melayani upacara dan banten.
“Kalau pembakarannya di tempat yang punya karya, di desa adat masing-masing. Kami hanya menyediakan upakara saja,” jelasnya.
Dia menuturkan, kehadiran pasraman untuk memudahkan umat dalam melaksanakan upacara. Apalagi di era modern saat ini, umat tidak punya banyak waktu untuk melaksanakan upacara. Di Pasraman, umat tidak perlu menyiapkan waktu banyak, paling lama tiga jam. “Mereka tidak butuh waktu dan persiapan berminggu-minggu. Tinggal telepon, daftar, datang, hadir, natab, selesai,” ungkapnya.
Mengenai kontribusi ke desa adat, dia mendaku menggunakan tenaga masyarakat untuk produksi, termasuk keamanan dari pecalang. Punia setiap bulan Rp500 ribu, tiap acara dijaga dua pecalang, masing masing dibayar p 150 ribu. “Kontribusi ke desa adat 4 juta setiap bulan, karena menggunakan jalan desa,” terangnya.
Di era modern, sambungnya, manusia sangat canggih dalam teknologi, tapi budaya dan adat harus tetap dijaga. Karena itu, di tengah kesibukan umat, Pasraman hadir memberi solusi untuk umat. “Jangan sampai karena kesibukan jadi tidak bisa melaksanakan upacara agama,” ulasnya.
Lebih jauh diutarakan, banyak yang datang dengan keluhan kena kasepekang (sanksi adat dengan dikucilkan), sehingga tidak bisa melaksanakan upacara di rumahnya. Ada juga yang datang karena ingin menggelar upacara dengan sederhana, karena keterbatasan dana. “Pasraman solusinya. Yang tidak mampu, bisa melaksanakan upacara. Begitu juga dengan yang sibuk,” pungkasnya. adi























