POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Perubahan zaman yang cepat menuntut dunia pendidikan untuk terus berinovasi. Pembelajaran tidak lagi cukup hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi harus mampu membangun kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, kreatif, adaptif, serta menghasilkan karya bermakna.
“Dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris, kemampuan literasi produktif menjadi sangat penting. Siswa tidak hanya diharapkan mampu memahami teks, tetapi juga menghasilkan gagasan, menyampaikan pendapat, menulis, berbicara, hingga menciptakan berbagai karya,” ungkap Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikpora Kota Denpasar, Ida Bagus Suryadana.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris tingkat SMP se-Kota Denpasar di SMPN 15 Denpasar, Jumat (25/9/2026). Diskusi kelompok terumpun ini mengangkat tema “Implementasi Model Adaptif Task-Based Language Teaching Berintegrasi Generative AI Terhadap Akselerasi Literasi Produktif Siswa”.
Suryadana menyambut baik pelaksanaan FGD ini sebagai ruang akademik dan profesional bagi para guru untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, sekaligus mengembangkan praktik pembelajaran yang relevan. Menurutnya, pendekatan Task-Based Language Teaching menempatkan tugas kontekstual sebagai bagian penting proses belajar, sehingga mendorong siswa menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi dan pemecahan masalah.
“Ketika pendekatan tersebut dikembangkan secara adaptif dan dipadukan dengan pemanfaatan Generative Artificial Intelligence (Generative AI), maka terbuka ruang yang lebih luas untuk menghadirkan pembelajaran yang personal, kreatif, dan interaktif,” jelasnya.
Kendati demikian, Suryadana menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat pembantu, sementara guru tetap menjadi aktor utama pendidikan. Generative AI tidak boleh menggantikan peran guru dalam membimbing, mendidik, membentuk karakter, dan memberikan keteladanan.
“Pemanfaatan Generative AI harus disertai literasi digital, etika, verifikasi informasi, perlindungan data pribadi, serta kesadaran bahwa karya siswa harus mencerminkan proses berpikir mereka sendiri. Jangan sampai teknologi membuat siswa sekadar menerima jawaban secara instan, melainkan mendorong mereka untuk berpikir lebih kritis dan menghasilkan sesuatu yang orisinal,” tegasnya.
Di sisi lain, Suryadana menekankan bahwa MGMP memiliki posisi strategis sebagai komunitas belajar profesional yang melahirkan inovasi pembelajaran. Ia berharap hasil FGD ini tidak berhenti pada diskusi konseptual, melainkan ditindaklanjuti dalam bentuk rancangan pembelajaran, contoh tugas autentik, modul ajar, hingga proyek literasi produktif yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Denpasar melalui Disdikpora terus mendorong terwujudnya pendidikan yang berkualitas, relevan, dan inklusif. “Mari kita manfaatkan teknologi, termasuk Generative AI, dengan prinsip bijak, etis, kreatif, produktif, dan bertanggung jawab. Jadikan teknologi sebagai mitra dalam pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir. Semoga forum ini memberikan kontribusi nyata terhadap akselerasi literasi produktif siswa di Kota Denpasar,” pungkasnya. tra























