Hadapi Tantangan “Kuda Api”, Nyoman Kenak Kuatkan Militansi- Evaluasi MGPSSR

NYOMAN Kenak selaku Ketua Umum MGPSSR Pusat saat memberi sambutan pada Pesamuan Agung XIX yang digelar di Sekretariat MGPSSR, Jalan Cekomaria, Denpasar, Sabtu (27/12/2025). Foto: IST
NYOMAN Kenak selaku Ketua Umum MGPSSR Pusat saat memberi sambutan pada Pesamuan Agung XIX yang digelar di Sekretariat MGPSSR, Jalan Cekomaria, Denpasar, Sabtu (27/12/2025). Foto: IST

DENPASAR – Menyongsong tahun 2026 yang diprediksi penuh dinamika, Ketua Umum Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Pusat, I Nyoman Kenak, memberi arahan strategis dalam Pesamuan Agung XIX di Sekretariat MGPSSR, Jalan Cekomaria, Denpasar, Sabtu (27/12/2025). Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya anggota DPR RI, I Wayan Sudirta; Gubernur Bali periode 2008-2018, Made Mangku Pastika; Wakil Bupati Karangasem, I Wayan Pandu Prapanca Lagosa; serta jajaran pengurus MGPSSR se-Bali dan luar daerah.

Nyoman Kenak mengungkapkan, berdasarkan perhitungan Wariga Bali dan petunjuk para Pandita, tahun 2026 merupakan tahun Kuda Api. Fenomena ini dimaknai sebagai masa yang menuntut kerja keras, kecepatan, dan ketahanan mental tinggi. “Bagi yang memperjuangkan kebaikan, kuncinya harus tahan banting. Kita harus meningkatkan militansi menjaga solidaritas agar tidak goyah menghadapi tantangan di masa depan,” tegasnya.

Read More

Selain membahas tantangan masa depan, Pesamuan Agung ini menjadi momentum evaluasi kinerja pengurus sepanjang 2025. Kenak menekankan penerapan Catur Swadharma Kepasekan wajib dilakukan, namun tetap disertai inovasi agar relevan dengan perkembangan zaman. Pengurus diingatkan untuk selalu refleksi diri dan terus berpacu dengan waktu dalam pengabdian.

“Semangat gotong royong dan rasa jengah harus diperkuat. Kita harus menjadi seperti baja; semakin ditempa panasnya tantangan ‘Kuda Api’, kita harus semakin kuat dan kokoh,” serunya.

Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), Kenak memberi penekanan khusus pada peran warga Pasek dalam menjaga stabilitas keamanan di Bali. Seluruh semeton diajak berperan aktif mendukung pemerintah menciptakan suasana kondusif. “Sebagai Pasek yang berarti paku penguat, kita memiliki tanggung jawab moral menjaga harmoni di Bali,” jelasnya. Ia pun melarang keras sikap egois yang dapat merusak toleransi antarumat beragama. Sebagai bentuk nyata implementasi Tri Hita Karana, khususnya aspek Bhuta Hita, Kenak mengapresiasi kedisiplinan pengurus menjaga kebersihan selama acara. Masalah sampah menjadi perhatian serius sebagai wujud pengabdian kepada alam. “Saya bersyukur dalam Pesamuan Agung ini sampah sudah terkendali dan tidak ada berserakan,” ungkapnya. Menurutnya, keberhasilan mengelola sampah di tingkat organisasi adalah cerminan tanggung jawab warga Pasek menjaga kesucian jagat Bali. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.