Gibran Cawapres karena Megawati Tolak Jokowi 3 Periode?

Ari Junaedi dan Sirra Prayuna. Foto: ist
Ari Junaedi dan Sirra Prayuna. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, MATARAM – Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka resmi mendaftar ke KPU sebagai bakal capres-cawapres pada Rabu (25/10/2023). Di tengah pendaftaran itu, publik diramaikan dengan wacana menolak politik dinasti, yang dialamatkan ke sosok Gibran.

Direktur Nusakom Pratama Institute, Ari Junaedi, menduga Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan banyak manuver menjelang Pilpres 2024, karena keinginannya menjabat untuk tiga periode ditolak Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Ari mengatakan Jokowi tiga kali kecewa lantaran keinginannya tidak didukung Megawati.

Read More

Menurut Ari, ketika pandemi Covid-19 belum parah di Indonesia, ada sejumlah kepala desa dan pejabat desa pergi ke Gelora Bung Karno guna mengusulkan perpanjangan masa jabatan presiden hingga tiga periode. Kemudian ada wacana jabatan presiden diperpanjang hingga tiga periode akibat pandemi Covid-19.

“Ide itu disampaikan kepada Bu Mega, Bu Mega tetap firm (tegas) tidak sepakat. Sebab, harus sesuai dengan konstitusi, presiden bisa dipilih sebanyak-banyaknya dua kali. Saya dan berbagai kalangan tetap percaya Pak Jokowi kecewa dengan dua permintaan yang tidak dituruti,” klaim Ari dalam program Obrolan Newsroom di kanal Youtube miliknya, Sabtu (28/10/2023).

Permintaan ketiga Jokowi, sambungnya, adalah agar putra sulungnya sekaligus Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, dijadikan capres atau cawapres. Ari kembali mengklaim usul itu juga ditolak Megawati. Namun, kini Gibran berhasil menjadi cawapres setelah diminta Prabowo dan partai-partai pendukungnya.

“Permintaan-permintaan yang di luar nalar politik, di luar akal sehat dari seorang politisi senior, walau Bu Mega tidak pernah menjadi dua kali presiden,” papar Ari. Namun, tidak dijelaskan apa bukti Jokowi mengajukan usulan itu ke Megawati. 

Mantan Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Mataram (IKA-Unram), Sirra Prayuna, juga ikut mengomentari kemunculan Gibran sebagai bacawapres Prabowo. Dalam momentum Hari Sumpah Pemuda, dia menyindir kehadiran Gibran dalam kontestasi Pilpres kali ini. Menurut Sirra, pendidikan yang baik adalah bagaimana mengarahkan pikiran membangun kesadaran akal budi pekerti. Pula memiliki kepribadian tangguh agar kelak dapat menjadi teladan, serta menghargai sebuah proses hidup.

“Negara Indonesia butuh pemimpin visioner yang tangguh, memiliki karakter dan kemampuan akal sehat, untuk mengelola problematika kehidupan, sehingga kapal besar yang ditumpangi 270 juta lebih rakyat Indonesia tidak ikut tenggelam oleh arus besar karena salah tata kelola,” jelasnya melalui pesan WhatsApp, Minggu (29/10/2023). 

Wakil Ketua Umum Front Kebangsaan ini memaknai Hari Sumpah Pemuda dengan menyinggung pendidikan yang baik dan berkaitan dengan bernegara. Kata dia, pemuda harus diasah untuk memiliki pemikiran visioner, bukan menjadi calon pemimpin secara instan dengan memanfaatkan privilese kekuasaan.

“Betapa naifnya Indonesia dikelola anak muda yang tak pengalaman, tak memiliki pemikiran visioner, dan lahir sebagai calon pemimpin secara instan dan pragmatis dalam privilese kekuasaan dan hukum,” sesalnya.

Dalam peristiwa politik Gibran, dia menilai filosofi pemuda luluh ditelan zaman yang serbapragmatis dan instan. Hanya, anak muda seperti itu juga tak bisa disalahkan begitu saja. ”Justru saya bertanya, apakah kelahiran pemimpin instan adalah hasil sebuah dialektika antara yang mendidik dengan yang dididik,” lugasnya menandaskan. rul

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.