MATARAM – Lembaga Kajian Sosial dan Politik M16 menilai kemesraan tiga elite parpol di NTB, Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar, diprediksi akan berlanjut hingga Pilkada Serentak di NTB 2024. Publik di NTB juga dipandang melihat ketiga parpol itu saling memahami kepentingan untuk menyongsong koalisi strategis kelak.
“Ibarat Three Musketeers (tiga ksatria fiksi pengawal Raja Prancis), PDIP, Golkar dan Gerindra NTB kuasa politiknya dalam merespons dinamika politik yang ada. Misalnya dalam perubahan AKD (Alat Kelengkapan Dewan) di DPRD NTB, mereka plus parpol lain di luar koalisi penguasa daerah berhasil mengubah AKD tanpa perlawanan berarti dari parpol koalisi penguasa,” jelas Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, Sabtu (21/5/2022).
Guncangan politik itu dirasa akan merepotkan pemerintahan Zul-Rohmi ketika harus berurusan untuk mendapat legitimasi politisi oposisi yang menguasai unsur pimpinan AKD. Dalam konteks politik lebih luas, pertemuan ketiga elite itu di kediaman Rachmat Hidayat merupakan sinyal kuat sekaligus “cek ombak” untuk berjalan seiring dan searah di kompetisi berikutnya.
Jika kemesraan ketiganya tetap berlanjut hingga Pilkada Serentak 2024, Bambang memastikan akan ada pembagian kekuasaan dalam Pilkada Serentak 2024 mendatang dalam lanskap lokal. “Dukungan PDIP NTB untuk Rannya Agustyra Kristiono, putri Bambang Kristiono, sebagai calon DPD RI harus dimaknai sebagai upaya saling membesarkan dan memanusiakan secara politik,” kata Bambang.
Melihat kapasitas dan performa para elite itu, Bambang yakin mereka akan sulit mencla-menclealias tidak konsisten pada apa yang digagas, meskipun saat ini baru sebatas obrolan tidak resmi. Apalagi mereka aktif berkomunikasi secara intensif untuk membahas dinamika sosial dan politik yang berkembang di NTB.
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan lembaganya, Bambang berujar ketiga parpol memiliki wilayah kekuasaan sesuai hasil konstetasi Pileg dan Pilkada sebelumnya. Misalnya Kota Mataram, Wali Kota dipegang Golkar yakni Mohan Roliskana; dan Ketua DPRD Didi Sumardi merupakan kader Golkar juga. Perolehan Golkar di Pileg 2019 sebanyak sembilan kursi, PDIP lima kursi dan Gerindra enam kursi.
Di Kabupaten Lombok Tengah, baik Bupati HL Pathul Bahri dan Ketua DPRD M. Tauhid sama-sama kader Gerindra. Sementara untuk Kabupaten Sumbawa Barat, Bupati Musyaifirin dan Ketua DPRD Kahar merupakan kader PDIP.
Ketiga contoh wilayah kekuasaan politik yang dipegang parpol tersebut, jelasnya, akan menjadi pijakan menentukan sinergitas menuju Pilkada NTB 2024, termasuk di kabupaten lain maupun Pilgub NTB. “Tentu dengan tetap mengacu pada hasil perolehan kursi Pileg 2024 sebagai tolok ukur utama menentukan posisi tawar untuk posisi satu atau posisi dua,” ulas Bambang.
Koalisi taktis dan strategis ketiga parpol ini, jika terjadi, akan menyederhanakan prosedur. Pengambilan keputusan politik juga lebih cepat, simple dan efisien dari sisi waktu, biaya maupun kepastian politik. “Apalagi ketiga tokoh parpol itu memiliki decision maker yang kuat,” tandas Bambang. rul























