Gelorakan Spirit Perjuangan Marsinah, Ketut Rudia Didaulat Pimpin Partai Buruh Bali

Ketut Rudia. Foto: ist
Ketut Rudia. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Serangkaian dengan Hari Buruh Sedunia (May Day) yang jatuh setiap tanggal 1 Mei, Partai Buruh Provinsi Bali akan menggelar diskusi kelompok terarah (focus group discussion atau FGD) dengan mengangkat tema “Marsinah di Mata Buruh”. Kegiatan diskusi akan dilaksanakan pada Jumat (9/5/2025) mendatang, di Renoma Café, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar.

Ketua Executive Committee (Exco) Partai Buruh Provinsi Bali, I Ketut Rudia, di tengah persiapan kegiatan tersebut, Rabu (7/5/2025) mengatakan, FGD yang diagendakan bertujuan untuk selalu mengingatkan kepada semua pihak, ada seorang perempuan buruh yang berani bertaruh nyawa memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Marsinah adalah aktivis buruh perempuan yang bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo pada masa Orde Baru. Dia dikenal sebagai tokoh yang berani memperjuangkan hak-hak pekerja, terutama mengenai upah layak dan kondisi kerja yang manusiawi.

Read More

“Ini memang harus selalu digelorakan kepada para pengambil kebijakan, agar hak-hak kaum buruh, terutama soal kelayakan upah, kesehatan, dan hak lainya harus terus diperjuangkan,” ucap mantan komisioner Bawaslu Bali tersebut.

Lebih jauh Rudia menuturkan, akibat keberaniannya tersebut,  Marsinah diculik dan ditemukan dibunuh tiga hari kemudian pada tanggal 8 Mei 1993 di Wilangan, Nganjuk dengan tanda-tanda luka berat. Kasus pembunuhan Marsinah menjadi salah satu kasus pelanggaran HAM yang paling mencolok di Indonesia. “Dan, ini menjadi simbol perjuangan hak-hak buruh,” imbuh Rudia.

Dalam FGD nanti, sambungnya, akan menghadirkan dua narasumber. Mereka adalah Wakil Presiden Partai Buruh, Jumisih, dan satu orang dari Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Provinsi Bali. Peserta yang diundang adalah para pengurus Partai Buruh di kabupaten/kota di Bali, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah perguruan tinggi, dan beberapa serikat pekerja yang ada di Bali. Menimbang Marsinah adalah simbol dari perjuangan kaum buruh, dia menilai sangat relevan ini terus diangkat ke publik agar terus menjadi literasi bersama. Baik bagi kaum buruh maupun para pengambil kebijakan, dalam hal ini pemerintah, dan yang terpenting adalah para pemilik perusahaan.

Disinggung dia kini banting setir ke politik praksis dari penyelenggara pemilu dengan menjadi nakhoda baru di Partai Buruh Bali, Rudia mengaku pilihan politik itu sudah dipertimbangkan masak-masak. “Ini jalan pengabdian baru saya setelah purnatugas sebagai penyelenggara pemilu,” jawabnya memberi alasan. Namun, dia tak merinci apa alasan dan sejak kapan dipercaya memimpin partai di Bali. Bicara soal Partai Buruh, Rudia berujar partai ini merupakan bagian dari koalisi partai pengusung pasangan Koster-Giri dalam Pilkada Bali 2024. Sebagai bagian dari koalisi itu, dia mengaku perjuangan partainya adalah mengawal kebijakan Gubernur dalam pemerintahan bersama partai-partai koalisi. “Ini sudah ditegaskan Presiden Partai Buruh, Pak Said Iqbal, agar tegak lurus dengan kebijakan gubernur, sepanjang untuk kesejahteraan masyarakat. Terutama bagaimana kaum buruh di Bali mendapat perlindungan atas hak-haknya,” ulas Rudia memungkasi. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.