Fenomena Bisnis ”Suryak Siu”, Tepat Atau Tidak?

  • Whatsapp
Ni Made Susi Adnyani. Foto: ist

Oleh: Ni Made Susi Adnyani
(Mahasiswa Prodi S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha)

SERING kita melihat fenomena salah satu trend bisnis yang menjamur dan dilakukan oleh banyak orang. Misalnya, trend bisnis minuman kopi yang menjamur karena melihat adanya salah satu bisnis minuman yang digandrungi oleh konsumen. Sehingga banyak yang ikut-ikutan melakukan bisnis tersebut dengan nama yang berbeda. Atau, pernahkah kalian mendengar adanya hasil produksi yang melimpah dipasar sehingga tidak mampu diserap pasar dan pada akhirnya harga atas produk tersebut menjadi jatuh dan tentunya menyebabkan kerugian bagi pihak pengusaha bisnis.

Bacaan Lainnya

Sebut saja kasus harga telur yang anjlok yang baru-baru ini terjadi. Meskipun dapat diserap oleh pasar namun karena produksi yag berlimpah menyebabkan harga telur yang turun namun disisi lain adanya peningkatan permintaan akan pakan ternak ayam karena banyaknya pengusaha telur menyebabkan harga pakan semakin tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana hukum harga permintaan dan harga penawaran terbentuk dan mencari keseimbangannya sendiri sesuai dengan kondisi pasar sesungguhnya. Hal ini memicu para pengusaha beramai-ramai meminta pemerintah untuk ikut turut andil mengintervensi harga pakan ayam.

Kondisi dimana adanya produksi yang berlimpah mungkin salah satunya disebabkan karena banyaknya pengusaha yang melakukan bisnis sejenis karena mengikuti trend bisnis yang banyak dilakoni oleh masyarakat atau ikut-ikutan karena melihat kesuksesan dari salah satu pebisnis. Maraknya media sosial yang ikut memberitakan dan mempropagandakan keberhasilan suatu bisnis yang tengah digandrungi oleh masyarakat, menjadi salah satu pemicu fenomina bisnis ini terjadi. Istilah dalam Bahasa bali “Suryak Siu”.

Baca juga :  Kabar Baik, Pasien Covid-19 Sembuh di Bali Melonjak 131 Orang, Positif 119, Meninggal Bertambah 5

Secara harfiah suryak berarti bersorak, teriak dan siu berarti seribu. Jadi suryak siu berarti teriakan atau sorakan seribu. Ini hanyalah sebuah ungkapan untuk menyebutkan perilaku yang bersifat massal atau tindakan yang mengikuti suara massa (Yuga 2008: 60). Kalau dikaitkan dengan tindakan bisnis yang hanya mengikuti trend dan ikut-ikutan karena sedang banyak dilakukan oleh masyarakat, bisa dikatakan bisnis “Suryak Siu” ini sedang terjadi.

Di dalam ilmu ekonomi perilaku, sering dikenal dengan istilah Herd Instinct atau naluri kerumunan yaitu dorongan manusia untuk berperilaku mengikuti mayoritas dan tidak ingin dianggap berbeda. Bisnis model ini sering terjadi tanpa terlebih dahulu dilakukan analisa pasar yang mendalam, sasaran konsumen yang belum jelas, dan tanpa juga dibarengi dengan keunggulan kompetitive atas produk yang ditawarkan. Yang pada akhirnya, mengakibatkan terjadinya perang harga atau istilah price war terjadi.

Patut kita sadari bersama bahwa, manusia sebagai homo economicus akan selalu berusaha untuk mencari keuntungan atas kegiatan ekonomi yang dilakukan. Pada saat perang harga terjadi, tentu semua akan berpikir bagaimana keuntungan tetap bisa diperoleh dengan menawarkan harga yang lebih rendah. Hal inilah yang memunculkan reaksi persaingan yang tidak sehat, dan bahkan kualitas barang yang menurun.

Tentu yang dirugikan tidak hanya pasar, tetapi juga konsumen. Kekecewaan konsumen terhadap produk yang ditawarkan akan menyebabkan kehilangan pasar dari produk tersebut. Hal inilah yang mengakibatkan banyak pebisnis banyak yang tidak dapat bertahan lama.

Baca juga :  Laksanakan Program Kemenparekraf

Fenomena bisnis “Suryak Siu” ini, sesuatu yang harus kita hindari? Tentunya sebelum kita melakukan suatu bisnis, terlebih dahulu harus dilakukan analisa-analisa yang mendalam terhadap rencana bisnis tersebut. Bukan hanya semata-mata mengikuti tren bisnis yang sedang ramai dilakukan, meskipun menggunakan tren yang ada sebagai pertimbangan bisnis juga bukan hal yang keliru.

Agar kita tidak terjebak dalam bisnis “suryak siu” yang menyebabkan investasi kita tidak berkembang, ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebelum memutuskan untuk memulai suatu bisnis, yaitu:

Analisa pasar dan tren yang sedang terjadi.
Kita harus analisis kebutuhan pasar, apa yang diminati dan diinginkan pasar, sebesar apa pangsa pasar yang meminati produk tersebut, apakah tren ini bersifat tidak fundamental atau hanya kebutuhan sesaat. Hindari tren yang tidak fundamental karena akan mengalami perubahan minat pasar yang relative cepat.

Pastikan sumber daya untuk bisnis kita terpenuhi dan memadai.
Memastikan sumber daya untuk melakukan bisnis tersebut dapat diperoleh dan jumlahnya memadai adalah sangat penting karena jangan sampai pada saat kita akan memenuhi permintaan pasar, tidak dapat terpenuhi karena sumber daya yang tidak tersedia atau tercukupi, atau sumber daya yang terbatas akan meningkatkan biaya produksi karena biaya untuk memperoleh sumber daya tersebut akan semakin naik. Tentu disini Kembali lagi hukum penawaran dan permintaan yang menentukan harganya.

Tentukan segmen konsumen yang akan kita sasar.
Dalam merencanakan bisnis, kita harus bisa mengidentifikasi segmen pasar yang akan kita sasar, sehingga bisa menentukan model pemasaran, promosi dan termasuk kualitas serta harga yang akan kita tawarkan.

Baca juga :  Awalnya Divonis DB, Ternyata Bocah SD Meninggal karena Positif Covid-19

Pastikan bahwa produk yang kita tawarkan memiliki keunggulan kompetitive dibanding produk lain.
Untuk bisa bersaing apalagi untuk bisnis yang sedang tren, kita harus bisa menawarkan produk yang memiliki keunggulan kompetitive dibanding produk lain, sehingga akan memunculkan sifat fanatisme dari sisi konsumen terhadap produk yang kita tawarkan. Keunggulan kompetitive ini bisa berupa kualitas produk yang berbeda dibanding pesaing, pelayanan purnajual, dan atau kemudahan-kemudahan yang dapat diperoleh konsumen atas produk kita.

Lakukan studi kelayakan bisnis yang rasional dan pastikan bahwa harga yang kita tawarkan sudah ada margin keuntungan yang kita inginkan.
Jika kita berbisnis, pasti tujuannya untuk mencari keuntungan. Jangan sampai hanya karena agar bisa bersaing dipasaran, perang harga dilakukan tanpa memperhitungkan biaya-biaya yang kita keluarkan serta keuntungan yang akan kita peroleh.

Pilih strategi pemasaran yang tepat untuk produk yang akan kita tawarkan.
Untuk memilih strategi pemasaran yang tepat, kita perlu menganalisa perilaku ekonomi yang mempengaruhi konsumen yang akan kita sasar. Misalnya, konsumen yang kita sasar adalah ibu rumah tanggan yang biasanya sangat antusias apabila diberikan diskon, maka kita bisa memanfaatkan pemberian diskon ini untuk menarik pelanggan. Apabila kita bisa memanfaatkan perilaku ekonomi ini dalam berbisnis, kemungkinan perolehan keuntungan akan semakin besar.

Dengan melakukan analisa-analisa tersebut, kita akan dapat memastikan apakah bisnis yang sedang tren akan menjadi pilihan kita atau tidak. Dan apakah bisnis yang akan kita lakoni hanya sekedar ikut-ikutan atau memang bisnis yang menjanjikan keuntungan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.