Durian Tamblang Tembus Pasar Belanda

  • Whatsapp
ROMBONGAN petani asal Sulawesi Barat mendatangi perkebunan durian di Banjar Dinas Tangkid, Desa Tamblang. Foto: ist
ROMBONGAN petani asal Sulawesi Barat mendatangi perkebunan durian di Banjar Dinas Tangkid, Desa Tamblang. Foto: ist

BULELENG – Komoditas buah durian berukuran jumbo jenis Kane dan Montong berasal dari Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, ternyata tidak saja menguasai pasar Denpasar, Surabaya, Bandung, hingga Jakarta, namun hingga menembus pangsa pasar Eropa, khususnya Belanda.

Pengembangan budi daya buah durian oleh Kelompok Tani Tirta Giri Suci dan Ambara Fruits yang sukses ini, kini membuat sejumlah petani asal Provinsi Sulawesi Barat berniat mengadopsi teknologi pengembangan kawasan durian, sehingga nantinya mampu menguasai pasar.

Bacaan Lainnya

Pada Selasa (6/4/2021), rombongan petani Sulawesi Barat dipimpin Kabid Hortikultura Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat, Hermanto, datang ke perkebunan durian di Banjar Dinas Tangkid, Desa Tamblang, milik Made Jelada (51). Kedatangan mereka diterima Kepala Dinas Pertanian (Distan) Buleleng, Made Sumiarta; dan Kabid Hortikultura, Gede Subudi.

Pemilik Ambara fruit, Made Jelada, mengatakan, hasil budidaya buah durian Kane dan Montong sudah mampu menembus pasar Belanda sejak Februari 2021, selain menguasai pangsa pasar di Indonesia. Hanya saja, jumlahnya masih terbatas.

Menurut Jelada, budi daya buah durian ini sudah dilakukan sejak 1980 lalu. Saat ini luas lahan yang dikelola Kelompok Tani Tirta Giri Suci bersama 24 orang anggota mencapai 60 hektare. Dari jumlah itu, sekitar 15 hektare sudah ditanami durian dan seluas 45 hektare ditanami buah mangga.

Baca juga :  Bali Nihil Penambahan Kasus Positif Covid-19, Pasien Sembuh Bertambah 8 Orang

Untuk lahan perkebunan dikelola Ambara Furit mencapai 1 hektare. Dijelaskan Jelada, per hektare lahan mampu ditanami sekitar 300 pohon hingga 350 pohon durian. Tapi yang sudah mulai produktif mencapai 150 pohon. Dari berbunga sampai bisa dipetik perlu waktu sekitar 100 hari atau 3 bulan lebih lamanya.

‘’Sekali panen, setiap hektare lahan mampu menghasilkan sekitar 5 ton buah durian. Asumsinya itu setiap pohon berusia 30 tahun mampu menghasilkan 5 kwintal buah. Tapi pohon yang baru berusia 4 sampai 5 tahun mulai berbuah 2 atau 3 biji. Bobot setiap buah durian sekitar 3 sampai 5 kilogram,’’ kata Jelada.

Untuk harga pasaran buah durian per Kilogram (kg) bervariasi, mulai buah durian di pohon bisa dihargai Rp30 ribu hingga Rp55 ribu per Kg. Sedangkan durian kelas ekspor bisa dihargai Rp38 ribu per Kg. Selama perawatan, sebut Jelada, dilakukan secara intens, baik itu dari pemupukan hingga pengairan yang teratur. Ini dilakukan untuk  menjaga kadar humus tanah.

‘’Humus tanah harus terjaga, agar pohon durian tetap berbuah. Biasanya musim berbuah bulan Agustus sampai Maret. Saat panen usahakan siapkan orang paham durian, agar tahu mana durian yang sudah matang dan belum,’’ jelas Jelada.

Kepala Distan Buleleng, Made Sumiarta, tak menampik, kualitas durian Kane yang dibudidayakan di Tamblang, selain besar juga punya rasa enak dengan daging buah tebal. ‘’Durian Kane ini potensi untuk dikembangkan. Apalagi sekarang ini sudah tidak mengenal musim, buktinya musim bulan April masih ada buah durian,’’ ujar Sumiarta.

Baca juga :  Angin Kencang Terjang Tabanan, Bale Bali Saka Kutus Roboh, Kerugian Rp 80 Juta

Sementara Kabid Hortikultura Dinas Tanaman Pangan hortikultura dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat, Hermanto, mengaku, pihaknya ingin mengadopsi teknologi budidaya durian, baik sisi penanamannya, pemupukan, pengairan hingga penggunaan humus, untuk bisa diterapkan di Sulawesi Barat seperti Mamuju dan Polewali Mandar. Terlebih kata Hermanto, petani di wilayahnya memiliki lahan yang luas mencapai 10 ribu hektare yang ditanami durian.

Luas lahan itupun belum termasuk yang ekstensifikasi lahan mencapai sekitar 40 hektare untuk pengembangan durian. Secara kuantitas durian dihasilkan tergolong besar.

‘’Petani di sini (Buleleng) justru luasnya yang tidak besar, namun hasilnya bagus dan kualitasnya sangat mumpuni. Ini yang mau kami adopsi dan benahi di Sulbar (Sulawesi Barat). Minimal setingkat dengan kualitas durian di Buleleng ini,’’ pungkas Hermanto. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.