HANYA berkiprah sebagai Ketua PAC Kediri, Tabanan, tapi nama Nyoman Mulyadi mencuri perhatian para kader dan elite PDIP di Bali, Selasa (16/8/2023). Adalah aksi demo warga yang kecewa nama Mulyadi dicoret dari Daftar Calon Sementara (DCS) untuk DPRD Bali Dapil Tabanan jadi pemantiknya. Apa yang sesungguhnya terjadi di balik tirai hingar-bingar kandidasi pencalegan itu? Berikut petikan wawancara wartawan posmerdeka.com, Gus Hendra, dengan Nyoman Mulyadi, Senin (21/8/2023).
Meski diklaim spontan, aksi demo ke DPD PDIP Bali kemarin dinilai bahwa Anda sebagai penggeraknya. Bagaimana tanggapan Anda?
Kan bisa dicek ke warga yang demo, ada atau tidak saya menyuruh? Saya sudah berusaha menahan, tapi mereka ngotot ke DPD.
Tapi kalau benar itu massa Anda, bukankah Anda bisa kontrol untuk tidak demo seperti permintaan DPC Tabanan?
Bagaimana saya bisa mengontrol begitu banyak orang, sedangkan di sisi lain itu hak mereka menyampaikan aspirasi?
Menurut Anda, kenapa Anda dicoret dari DCS?
Justru karena tidak tahu, makanya saya tidak bisa jelaskan ke masyarakat apa pertimbangan partai mencoret saya. Makanya mereka datang ke DPD untuk menanyakan.
Ada informasi Anda dicoret karena suara calon PDIP kalah di TPS Anda saat Pilkada Tabanan 2020. Bagaimana komentar Anda?
Itu memang benar. Tapi saya juga mau jelaskan apa penyebab situasi itu terjadi. Pertama, karena Pak Koster saat Pilgub 2018 pernah berjanji untuk membangun wantilan di Desa Kediri saat hadir acara akbar. Malah saat itu Pak Koster bilang agar bongkar saja dulu, nanti pasti selesai dibangun. Sampai sekarang Anda bisa lihat wantilan itu tidak dibangun, masih seperti saat dibongkar dulu
Kedua, pemasangan patung Bung Karno yang membuat patung Wisnu Murti di perempatan Bypass Kediri, Tabanan dipindah juga membuat luka perasaan masyarakat. Tidak ada koordinasi dengan prajuru adat, tiba-tiba saja patung Wisnu Murti dibongkar dan diganti patung Bung Karno. Ketiga, memang di daerah sana ada Puri Kediri juga yang mendukung calon Panji Astika.
Informasi lain menyebut Anda dicoret karena mengantar Fraksi PDIP Tabanan ke Bupati Giri Prasta untuk mengurus proposal hibah, akhir tahun lalu. Padahal publik tahu ada rivalitas antara Koster dan Giri Prasta. Bagaimana tanggapan Anda?
Saya tidak bantah, memang benar saya ada ke sana dengan teman-teman Fraksi PDIP Tabanan. Tapi tujuan saya murni untuk membesarkan partai, juga membantu masyarakat di Tabanan, tidak ada maksud untuk begini begitu. Tapi ya, mungkin itu kelemahan saya yang tidak saya sadari waktu itu.
DPP hampir mustahil merehabilitasi pencalonan Anda. Bagaimana sikap Anda?
Sebagai kader partai, saya tentu menghormati apa pun keputusan DPP atas pencoretan saya. Saya juga bukan kader kemarin sore di PDIP. Saya merasa sudah banyak berbuat untuk partai, bahkan sejak muda. Silakan dicek ke bawah apa yang sudah saya perbuat untuk partai.
Waktu Pilpres 2014 dan 2019, kami berjuang gotong royong di Tabanan untuk memenangkan Pak Jokowi. Waktu Pilgub 2018, kami juga berjuang untuk Pak Koster dengan apa yang bisa kami lakukan. Anda bisa tanya itu ke teman-teman PDIP di Tabanan
Namun, yang saya dan masyarakat yang mendukung saya inginkan adalah ada penjelasan apa alasan pencoretan saya itu? Kalau ada salah atau kurang, kenapa saya tidak diklarifikasi misalnya. Kenapa ada calon yang terlihat kurang (potensial menang) tapi tetap dipasang, sedangkan saya yang ada potensi menang malah dicoret? Itu yang belum terjawab tuntas.
Melihat potensi Anda yang terlihat kuat secara logistik dan ada basis massa, ada kemungkinan partai lain akan menggoda Anda untuk pindah. Bagaimana menurut Anda?
Yang jelas saya akan tetap di PDIP. Saya pastikan akan berjuang maksimal untuk Pilpres nanti di daerah saya. Kalau pindah ke partai lain, saya pastikan tidak. Keluarga besar saya sejak dulu “merah”. Dulu waktu Ibu Mega ke Tabanan tahun 2000, juga pernah kami mendampingi beliau. Masa sejarah seperti itu akan saya tinggalkan untuk pindah partai? Nggaklah.
Kalau benar kenal Ibu Mega, kenapa tidak melapor langsung ke beliau?
Saya tahu diri kok saya ini siapa. Kami hanya orang kecil yang ingin mengabdi ke masyarakat lewat partai. Kalau sekarang tidak ditugaskan partai, ya sudah. Tapi ya masalah saya kemarin itu bagaimana menjelaskan ke masyarakat tentang situasi ini agar mereka tidak kecewa. Minimal agar tidak pindah ke partai lain. Masalahnya, partai (saya) juga tidak menjelaskan secara lengkap (alasan pencoretan).
Situasi Anda ini sebenarnya biasa dalam politik, dan logikanya Anda pasti tahu ada kemungkinan seperti ini. Tapi kok seperti baperan berpolitik?
(sempat diam sejenak). Ya, apa pun yang terjadi hari ini, saya akan jadikan pelajaran berharga untuk betul-betul mempersiapkan mental untuk terjun ke politik. Yang sudah ya sudahlah.
Menurut Anda, siapa sebenarnya yang mencoret Anda karena DPC Tabanan mengaku nama Anda sudah diusulkan ke DPD? Soal itu, memang ada beberapa isu dan informasi. Katanya si A, si B atau si C yang mencoret saya, tapi faktanya bagaimana saya juga tidak tahu. Makanya mau bertanya ke partai. *























