Dewi Saraswati: Sungai Suci, Sabda, dan Cahaya Pengetahuan

Dr. I Ketut Suardana. foto: ist

SETIAP enam bulan menurut kalender Pawukon, umat Hindu di Bali merayakan Hari Suci Saraswati. Pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, buku, lontar, dan pustaka ditata serta dihormati. Hari ini menjadi saat untuk bersyukur atas anugerah ilmu pengetahuan dan memohon tuntunan agar ilmu membawa kehidupan menuju kebaikan.

Read More

Makna Dewi Saraswati jauh lebih luas daripada penghormatan kepada buku. Dalam perjalanan tradisi Hindu, Sarasvatī dikenal sebagai sungai suci, dikaitkan dengan daya sabda, lalu berkembang sebagai Dewi pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan. Berbagai gambaran itu memperlihatkan hubungan antara alam, bahasa, ilmu, dan kehidupan rohani.

Dari sungai suci menuju aliran pengetahuan
Dalam Ṛgveda, Sarasvatī dipuji sebagai sungai dan daya ilahi yang memberi kehidupan. Salah satu himne yang ditujukan kepadanya terdapat dalam Ṛgveda 6.61.

Sungai menyediakan air, menyuburkan tanah, dan menopang kehidupan. Karena itu, Sarasvatī dihormati bukan hanya sebagai aliran air, tetapi juga sebagai kekuatan yang memberi kesuburan, perlindungan, dan inspirasi.

Lokasi sungai yang disebut dalam teks kuno masih menjadi bahan kajian. Salah satu identifikasi yang sering dibahas adalah sistem sungai purba Ghaggar-Hakra di wilayah barat laut India dan Pakistan.

Sejumlah penelitian mengkaji alur sungai purba di kawasan tersebut, tetapi para ahli belum sepakat sepenuhnya tentang hubungannya dengan Sarasvatī dalam Ṛgveda. Maka, Sarasvatī sebagai sungai suci dalam teks Hindu perlu dibedakan dari identifikasi ilmiah mengenai alur sungai modern atau purba yang mungkin berkaitan dengannya.

Dari gambaran sungai yang mengalir, makna Sarasvatī kemudian berhubungan dengan aliran sabda dan pengetahuan. Air memberi kehidupan kepada tubuh dan tanah; sabda serta ilmu memberi kehidupan kepada pikiran dan kebudayaan.

Sarasvatī dan Vāc, daya sabda
Ṛgveda juga memuat Vāk Sūkta atau Devī Sūkta (Ṛgveda 10.125), sebuah himne ketika Vāc—Sabda yang dipersonifikasikan sebagai kekuatan ilahi—berbicara dengan suaranya sendiri.

Vāc dan Sarasvatī memiliki hubungan erat dalam perkembangan tradisi Hindu, tetapi keduanya tidak selalu disebut sebagai sosok yang sama dalam setiap teks. Dalam tradisi berikutnya, Sarasvatī semakin dikaitkan dengan ucapan suci, mantra, bahasa, dan kemampuan menyampaikan pengetahuan.

Hubungan ini penting karena Weda diwariskan melalui śruti, yakni ajaran yang didengar dan dilantunkan. Sabda menjadi jembatan yang menjaga pengetahuan agar dapat diterima dan diteruskan. Sarasvatī pun menjadi lambang kepandaian sekaligus kesucian ucapan dan tanggung jawab dalam menggunakan kata-kata.

Vāc dalam kisah Rāmāyana
Hubungan Sarasvatī dengan sabda tampak dalam dua kisah yang dikenal dalam tradisi Rāmāyaṇa: lahirnya syair Vālmīki dan permintaan Kumbhakarṇa kepada Brahmā.

Dalam Bālakāṇḍa, Vālmīki melihat seekor burung jantan dibunuh oleh seorang pemburu, sementara pasangannya meratap. Kesedihan dan rasa iba mendorong Vālmīki mengucapkan kata-kata berirama.

Ucapan itu kemudian dikenang sebagai awal bentuk syair śloka. Brahmā mendorongnya menyusun kisah Rāma; dalam penjelasan atas bagian ini, Sarasvatī dipahami hadir sebagai Dewi sabda yang menuntun ucapannya.

Kesedihan Vālmīki berubah menjadi puisi yang membawa ajaran. Kisah ini memperlihatkan bahwa rasa kemanusiaan, ketika dibimbing oleh ilham dan kebijaksanaan, dapat melahirkan karya yang bermakna.

Kisah Kumbhakarṇa memperlihatkan sisi lain daya tutur. Dalam Uttarakāṇḍa, para dewa meminta Sarasvatī menguasai ucapan Kumbhakarṇa ketika ia hendak meminta anugerah kepada Brahmā.

Kumbhakarṇa akhirnya meminta tidur panjang, lalu tersadar dan heran atas kata-kata yang baru saja diucapkannya. Dalam versi populer, ia dikisahkan bermaksud meminta Indrāsana—takhta Indra—tetapi mengucapkan Nidrāsana, keadaan tidur.

Permainan kata itu tidak muncul dengan cara yang sama dalam semua versi. Dalam teks Vālmīki yang dirujuk di sini, penekanannya ialah bahwa Sarasvatī memengaruhi ucapannya dan ia meminta tidur.

Kedua kisah ini menunjukkan bahwa ucapan bukan perkara kecil. Kata-kata dapat menjadi puisi dan pengetahuan, tetapi juga dapat membawa akibat yang tidak dikehendaki. Karena itu, manusia perlu menjernihkan pikiran sebelum berbicara dan bijaksana dalam memilih kata.

Hubungan Sarasvatī dengan Brahmā
Dalam banyak tradisi Hindu, Sarasvatī dipandang sebagai śakti—daya atau energi ilahi—Dewa Brahmā, yang dikenal sebagai dewa pencipta.

Secara simbolis, Brahmā melambangkan daya mencipta, sedangkan Sarasvatī melambangkan pengetahuan, sabda, dan kebijaksanaan yang memberi arah pada penciptaan. Penciptaan memerlukan keteraturan dan pemahaman agar kehidupan yang hadir dapat memiliki makna.

Kisah mengenai hubungan Sarasvatī dan Brahmā berbeda-beda dalam sejumlah Purāṇa dan tradisi. Ada yang menyebutnya sebagai permaisuri Brahmā, sementara kisah lain menggambarkan hubungan mereka dengan cara berbeda.

Karena itu, satu versi tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya ajaran semua umat Hindu. Perlu pula dibedakan antara Brahmā, dewa pencipta, dan Brahman, kenyataan mutlak dalam berbagai aliran filsafat Hindu. Keduanya bukan istilah yang sama.

Ilmu yang menuntun kehidupan
Sarasvatī mengingatkan kita bahwa pengetahuan bukan sekadar kumpulan informasi, gelar, atau kecakapan. Ilmu seharusnya menjernihkan pikiran, menuntun ucapan, mengembangkan kemampuan, dan membantu manusia memahami kehidupan.

ika digunakan tanpa kebijaksanaan, pengetahuan dapat disalahgunakan. Jika dibimbing oleh Dharma, ilmu dapat menjadi jalan untuk menjaga kehidupan dan menolong sesama.

Menghormati Sarasvatī berarti menghormati proses belajar: tekun mencari pengetahuan, rendah hati di hadapan kebenaran, dan bertanggung jawab atas apa yang kita ketahui. Buku dan lontar yang dihormati pada Hari Saraswati merupakan lambang ajaran yang perlu dipelajari, direnungkan, dan diterapkan.

Rangkaian Saraswati dalam tradisi Bali
Di Bali, Hari Saraswati jatuh pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, satu putaran Pawukon yang berulang setiap 210 hari. Tata pemujaan terhadap pustaka dan aksara dikenal dalam tradisi ritual Bali, termasuk melalui Lontar Sundarigama. Perayaan ini mempertemukan penghormatan Hindu kepada ilmu dengan kalender dan tata upacara lokal.

Hari Saraswati kemudian diikuti oleh Banyu Pinaruh, Soma Ribek, Sabuh Mas, dan Pagerwesi. Rangkaian ini dapat direnungkan sebagai perjalanan ilmu dalam kehidupan: pengetahuan diterima, diri dijernihkan, kesejahteraan dirawat, kekayaan dikelola dengan bijaksana, lalu batin diteguhkan agar ilmu tetap digunakan di jalan Dharma. Makna dan pelaksanaan upacara dapat berbeda menurut tradisi keluarga, desa, dan wilayah.

Di berbagai wilayah India, pemujaan Sarasvatī sering dikaitkan dengan Vasant Panchami, sedangkan umat Hindu di Bali dan banyak komunitas Hindu di Indonesia mengikuti perhitungan Pawukon. Kalender dan tata cara perayaan berbeda, tetapi penghormatan terhadap pengetahuan dan kebijaksanaan menjadi benang merahnya.

Menjadikan pengetahuan sebagai cahaya
Dewi Sarasvatī melambangkan pengetahuan yang mengalir dan menerangi kehidupan. Sungai memberi air bagi bumi; sabda menjaga ajaran; ilmu membantu manusia memahami dan mengolah kehidupannya.

Penghormatan kepada Sarasvatī mengajak kita bertanya: apakah pengetahuan yang kita miliki membuat kita semakin bijaksana? Apakah ilmu menuntun kita membedakan yang baik dari yang merugikan? Apakah kemampuan kita digunakan untuk membawa manfaat?

Jika ilmu menumbuhkan kejernihan, tanggung jawab, dan kepedulian, pengetahuan telah menjalankan hakikatnya. Di situlah Sarasvatī hadir: dalam pikiran yang terbuka, ucapan yang benar, dan tindakan yang membawa kebaikan. (Penulis adalah pemerhati budaya dan juga dosen tidak tetap Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.