Ciptakan Sepeda Listrik “Le-Bui”, Gubernur Zul : Jangan Remehkan Anak NTB

  • Whatsapp
MANTAN Gubernur TGB mencoba menaiki sepeda listrik karya Gede Sukarmati Jaya didampingi Gubernur NTB, kemarin malam. Foto: rul
MANTAN Gubernur TGB mencoba menaiki sepeda listrik karya Gede Sukarmati Jaya didampingi Gubernur NTB, kemarin malam. Foto: rul

MATARAM – Satu lagi karya terbaru anak NTB, yaitu sebuah sepeda listrik yang diberi nama Le-Bui. Kendaraan dengan berbagai model ini membuat bangga masyarakat dan pemerintah Provinsi NTB. Bagaimana tidak, sepeda hasil karya tangan kreatif Gede Sukarmati Jaya itu, sudah menembus pasar internasional.

Tidak tanggung- tanggung, hanya negara-negara di Benua Afrika yang belum bisa menikmati karyanya ini. Selain itu, ratusan sepeda listrik yang diinisiasi sejak 2016 itu telah dinikmati dan dipakai oleh pecinta sepeda listrik di dunia. Bahkan mantan Gubernur NTB Dr. TGH. Muhamad Zainul Majdi ikut mencoba menaiki sepeda listrik dengan nama “Le-Bui” itu pada Sabtu (27/6) malam.

Setelah pada Jumat (26/6) sebelummya, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah melakukan uji coba (test drive) sepeda tersebut di STI Park Banyumulek. Sepeda tersebut mampu menempuh jarak 30 Km untuk sekali pengisian daya, sekitar dua sampai empat jam.

Gubernur NTB yang akrab disapa Bang Zul ini menyampaikan kehadiran sepeda listrik, motor listrik dan mobil listrik menunjukkan bahwa anak anak NTB memiliki kemampuan yang selama ini tidak disadari banyak orang. Apalagi, ide dan gagasan besar itu muncul di tengah musibah Covid-19. Bahkan kata Bang Zul, musibah Covid-19, merupakan bencana yang menghadirkan keberkahan.

Baca juga :  Pedagang, Pengelola dan Jukir Pasar Adat Ubung Dites Cepat, Ini Hasilnya

‘’Sejatinya pembangunan itu adalah sebuah proses besar untuk meng-upgrade human capacity, meng-upgrade kemampuan masyarakat. Alhamdulillah Corona ini adalah satu bencana yang menghadirkan keberkahan buat NTB sehingga masyarakat NTB sadar bahwa banyak kemampuan yang kita miliki yang tersimpan di bawa karpet selama ini,’’ jelas Gubernur dalam siaran tertulisnya, Minggu (28/6).

Menurut Gubernur,  munculnya inovasi-inovasi seperti ini, akan bisa menyadarkan banyak pihak, bahwa anak NTB bisa memproduksi minyak kelapa, bisa bikin sabun, bisa bikin motor listrik, alat pelindung kesehatan serta berbagai inovasi lainnya. ‘’Oleh karena itu, tugas pemerintah adalah membantu, menghidupkan UMK ini, menghasilkan feedback yang konstruktif untuk kemudian menghasilkan produk yang kompetitif, bukan hanya untuk NTB, tetapi akan kita jual di seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia,’’ tegas Bang Zul.

Baca juga :  Pasien Sembuh Bertambah 235 Orang, Positif Covid-19 Naik 415, Meninggal 27

Sementara itu, Gede Sukarmati Jaya menceritakan awal mula gagasan untuk membuat sepeda listrik itu. Awalnya, pembuatan sepeda listrik ini diilhami oleh hobinya waktu kecil, yaitu sepedaan. Namun karena usia, ia tidak bisa lagi sepedaan dengan jarak tempuh yang jauh. Sehingga, muncullah ide bagaimana agar tetap bisa sepedaan dengan jarak tempuh yang jauh.

‘’Saya googling, tanya-tanya teman, bagaimana saya tetap bisa sepedaan jauh dan tidak membosankan. Ketemulah dengan yang namanya elektric kit. Yaitu mengubah sepeda yang kita beli di toko kemudian kita pasang elektric kit-nya, kemudian kita bisa sepedaan jauh,” ucapnya.

Kemudian, seiring dengan waktu, ditambah dengan hasil diskusi bersama anggota komunitas, ia kemudian menambah kemampuan untuk berinovasi pada sepeda itu. Termasuk menambah kecepatan sepeda listriknya.

“Sepeda yang kita beli di toko itu harus kita bikinkan prime costume. Sehingga bisa menampung baterai berkapasitas besar. Saya coba bikin, sudah jadi, saya iseng-iseng pakai, bikin video di jalan, unggah ke media sosial saya. Orang-orang luar kemudian melihat dan mereka suka, karena unik,’’ jelasnya.

Baca juga :  Hadapi New Normal, Kemenpora Mulai Siapkan Protokol Olahraga

Ia mengaku, sepeda yang ia bikin tersebut bukan yang pertama dan yang terbaik bagi orang luar. Namun, ada keunikan yang mereka lihat, seperti style, cara mewarnai dan cara pembuatan yang masih hand made.

‘’Kalau bicara teknologi, tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Tapi kalau bicara masalah seni, tidak ada yang mampu mengalahkan kita,’’ ungkapnya.

Keunikan itulah katanya mambuat orang tertarik, sehingga tidak kurang dari seratus unit sepeda listrik yang sudah ia ekspor ke luar negeri, seperti negara-negara di Benua Asia, Amerika dan Australia.

Untuk membuat satu sepeda listrik itu, ia membutuhkan waktu sekitar satu bulan, mulai dari proses awal hingga dapat dipakai. Untuk harga per unitnya, sepeda tersebut dinilai sekitar Rp15 juta, karena pembuatannya masih hand made, belum menggunakan teknologi yang modern.

“Kemampuan yang mesin 350 Watt, baterai yang 40 volt, kecepatan maksimum, kalau di barat orang mengatakan street legal, masih boleh di jalan, tanpa harus surat-surat. Kecepatannya di bawah 30 km/jam,’’ tandasnya.

Gede Sukarmati Jaya berharap ke depan, pembuatan sepeda ini dapat didukung oleh teknologi modern yang dapat menghasilkan produk sepeda yang banyak dan berkualitas serta harga yang murah. 031

banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 SMK BALI DEWATA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.