Catatan Jurnalis Pemilu Jadi Media Refleksi untuk Bawaslu, Dinamika Politik Tentukan Kualitas Demokrasi

KORDIV Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu Bali, Ketut Ariyani. Foto: ist
KORDIV Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu Bali, Ketut Ariyani. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Bagi sebagian besar masyarakat, Pemilu dipandang sebatas pada hari pemungutan suara di bilik TPS. Padahal penyelenggaraan Pemilu adalah proses panjang, yang dimulai jauh sebelum hari-H dan berlangsung hingga tahapan akhir. Dinamika di balik layar ini yang sering kali luput dari perhatian publik, tapi justru menentukan kualitas demokrasi. Pelbagai kisah di panggung belakang itu didokumentasikan dalam sebuah buku hasil catatan para jurnalis berjudul “Sejarah Keserentakan Pertama Terbesar di Dunia”, yang dibedah dalam kegiatan Bawaslu, Rabu (20/8/2025).

Kordiv Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu Bali, Ketut Ariyani, menilai hadirnya buku tersebut sebagai momentum penting memperlihatkan kompleksitas penyelenggaraan Pemilu. Melalui catatan jurnalis, masyarakat bisa melihat bahwa Pemilu tidak sesederhana yang tampak di permukaan. “Ada proses panjang, penuh dinamika, dan patut dipahami bersama,” ujarnya usai mengikuti bedah buku secara daring tersebut.

Read More

Menurut Ariyani, jurnalisme Pemilu memiliki peran strategis dalam menjaga transparansi sekaligus membangun kepercayaan publik. Dia menilai tulisan wartawan adalah catatan sejarah. Kritik maupun apresiasi yang disampaikan mesti menjadi bahan evaluasi bagi Bawaslu untuk memperbaiki diri, baik dalam aspek teknis maupun regulasi.

Lebih jauh diungkapkan, catatan jurnalistik seperti yang terangkum dalam buku tersebut juga relevan dengan kerja-kerja pengawasan di daerah. “Di Bali, kami menyadari betul pentingnya media sebagai mitra strategis. Berita dan analisis yang disajikan media dapat menjadi sarana pendidikan politik, yang membantu masyarakat memahami bahwa Pemilu adalah proses bersama, bukan hanya milik penyelenggara,” papar Ariyani.

Bawaslu Bali, sambungnya, terus membuka ruang bagi partisipasi publik melalui Media Center. Dia ingin Media Center bukan hanya milik wartawan, tapi juga ruang diskusi bagi masyarakat, pemantau Pemilu, hingga mahasiswa. Anak muda harus punya ruang untuk menyampaikan gagasan baru. “Dengan begitu, pengawasan partisipatif bisa semakin kuat,” terangnya.

Namun, dia juga menyoroti tantangan era digital dalam pengawasan Pemilu. Menurutnya, derasnya arus informasi di media sosial sering kali membuat masyarakat terjebak dalam informasi yang tidak utuh. Masyarakat saat ini lebih banyak mencari informasi di media sosial, tapi justru di situlah pentingnya jurnalisme yang kredibel. “Informasi yang benar akan membantu publik tidak terseret oleh narasi politik yang menyesatkan,” imbuhnya.

Ariyani berharap catatan jurnalisme Pemilu ini bisa menjadi refleksi bersama. Buku ini mengingatkan semua pihak bahwa demokrasi tidak bisa dibangun sendirian. “Diperlukan partisipasi penyelenggara, media, masyarakat sipil, dan pemuda agar Pemilu benar-benar menjadi sarana kedaulatan rakyat yang inklusif dan bermartabat,” pesannya memungkasi. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.