Bunga dan Buah Lokal Bali

Made Nariana. foto: ist

Oleh Made Nariana

BALI sebagai daerah wisata dan budaya, tidak terlepas dari bunga dan buah. Apalagi dikaitkan dengan agama. Dalam literatur agama diajarkan sederhana. “Cukup aturkan buah, bunga, air, dan api buatku”. Makanya Umat Hindu jika melakukan persembahyangan tidak terlepas dari buah, bunga, air (tirta) dan api (dupa). Sederhana bukan?

Read More

Hanya karena Bali daerah seni, kalangan masyarakat (utamanya ibu-ibu) menghaturkan persembahan buah dan bung itu dengan gaya berbeda. Mereka buat gebongan yang tinggi. Ditata dengan apik dan bentuk yang menawan, disertai canang dengan berbagai bunga sehingga enak dipandang. Budaya dan seninya menonjol.

Di balik itu diselipi beraneka kue. Bahkan zaman sekarang, ditata bersama minuman botol. Persembahan tetap memiliki seni yang tinggi, namun substansinya mengikuti perkembangan zaman juga. Jangan lupa, persembahan dalam sok (sokasi tertutup pun) diaturkan beraneka makanan yang enak disertai bunga dan minuman botol yang praktis.

Makin maraknya upacara keagamaan di Bali, masyarakat sering kekurangan bahan-bahan untuk kegiatan agama itu. Janur, buah, bunga, telor, ayam dan lain-lain, banyak masih didatangkan dari luar Bali. Potensi tersebut selain untuk kegiatan keagamaan, juga untuk kepentingan dunia pariwisata.

Di suatu saat, pernah kegiatan keagamaan bersamaan dengan hari raya umat lain di Jawa. Ibu-ibu kesulitan mendapatkan janur, karena selama ini banyak dipasok dari Jawa Timur. Juga mahalnya telor, karena sebelumnya didatangkan dari Nusa Tenggara Barat (NTB).

Berbagai kesulitan tersebut, semestinya peluang bagi Bali. Peluang petani Bali untuk memenuhi kekurangan yang ada. Dengan menjamurnya pedagang lele, ayam goreng dan bebek goreng di pinggir jalan, ternyata banyak lele dan bebek luar masuk Bali. Bukankah ini peluang besar bagi petani Bali?

Belakangan saya catat Gubernur Bali sukses engembangkan bunga gumitir Sudamala. Gubernur juga berharap petani Bali mengembangkan tanaman kelapa, sehingga janur tidak didatangkan dari luar. Cara ini perlu “digasspullkan” oleh semua kabupaten dan akademisi yang ada di Bali.

Mengapa akademisi? Merekalah yang perlu memberikan pendampingan kepada petani dengan cara ilmiah dan sederhana. Bagiamana cara memelihara bebek, lele, ayam, menanam bunga dan kelapa yang baik? Ahli pertanian dan peternakan harus turun gunung.

Saya mengamati, peranan Perguruan Tinggi belum maksimal menggunakan SDM-nya membangun Bali, khususnya di bidang pertanian dan peternakan. Mungkin ada, namun dilakukan hanya seremonial belaka. Kurang dilakukan pendampingan yang serius sejak awal sampai pemasaran.

Jangan biarkan Kepala daerah bekerja sendirian. Diperlukan bantuan kalangan cendikiawan, akademisi dan praktisi — bersama-sama membangun Bali di bidang pertanian/peternakan. Jangan semua pikirannya ke dunia pariwiasata, sementara sektor lain sebagai pelengkap dunia hiburan itu adalah pertanian dalam arti luas.

Sebaliknya pemerintah wajib memberikan fasilitas yang diperlukan kalangan perguruan tinggi. Mereka harus bekerja atas dasar target yang pasti. Konon, di Thailand, Raja langsung turun memerankan akademisinya, sehingga negara itu berhasil memproduksi berbagai buah terkenal ke seluruh dunia. Masyarakat banyak tergantung buah dari negeri itu.

Salah satu contoh yang saya amati, sering kalangan usaha mencairkan dana pengabdian masyarakat (CSR) mereka, beramai-ramai melakukan penghijauan dan menebar bibit ikan. Besoknya dimuat berbagai media buat publikasi. Tetapi ditanam dan ditebar begitu saja. Selebihnya tidak ada pemeliharaan. Akhirnya gerakan penghijauan dan penebaran ikan hanya sekadar prosesi basa-basi mencari sensasi. Tidak ada manfaatnya bagi lingkungan.

Rintisan bunga gumitir Sudamala dan anjuran lainya dari Pak Gubernur, hendaknya jangan sekadar dianggap basa-basi. Tetapi diikuti kalangan lain sebab Bali memang kekurangan berbagai bahan untuk kepentingan agama dan pariwista. Dunia bisnis mengatakan, berbagai hambatan adalah…peluang dan tantangan! (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.