Buleleng Targetkan Angka Stunting Turun 7 Persen

KEPALA Dinas P2KBP3A Buleleng, Ni Made Dwi Priyanti Putri Koriawan. Foto: rik

BULELENG – Persoalan stunting menjadi perhatian serius Pemkab Buleleng. Seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ikut serta menangani permasalahan stunting beserta tim pendamping keluarga (TPK) masing-masing desa/kelurahan, saat ini dikerahkan untuk dapat menurunkan angka stunting di Buleleng.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Buleleng, Ni Made Dwi Priyanti Putri Koriawan, mengatakan, pihaknya telah membentuk tim untuk dapat menurunkan stunting di Buleleng.

Bacaan Lainnya

‘’Kami bersama 12 SKPD dan TPK desa/kelurahan berkolaborasi untuk mencegah stunting, agar angka stunting turun,’’ kata Dwi Priyanti, Kamis (12/5/2022).

Secara nasional, target penurunan angka stunting di Indonesia sampai tahun 2024 adalah 14 persen dari angka stunting 24 persen tahun ini. Untuk di Buleleng, angka stunting ditargetkan turun menjadi 7 persen.

‘’Khusus di Buleleng, stunting saat ini berada pada angka 8,9 persen. Kami genjot terus untuk bisa turun menjadi 7 persen sesuai target di tahun 2022 ini,’’ ujar Dwi Priyanti.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas P2KBP3A Buleleng, adapun keluarga berisiko stunting di Kabupaten Buleleng terbanyak berada di Kecamatan Buleleng dengan jumlah 9.630 keluarga, dan terendah berada di Kecamatan Busungbiu dengan jumlah 4.328 keluarga.

Baca juga :  Melasti Nyepi Dilakukan di Wewidangan Desa Adat Masing-masing

Kabid Keluarga Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga, Nyoman Mandayani, menjelaskan, data tersebut didapat dari pendataan yang dilakukan Tim Pendataan Keluarga 2021 (PK21), melalui banyak kriteria.

‘’Misal untuk bayi diukur standar gizi oleh Dinas Kesehatan, yaitu perbandingan antara tinggi dan berat badan. Begitu juga diukur antara berat badan dan umur,’’ jelas Mandayani.

Pendataan tidak hanya dilakukan pada bayi, namun juga dilakukan skrining kesehatan kepada calon pengantin untuk mencegah adanya keturunan stunting.

Nantinya calon pengantin akan diukur tinggi badan, lingkar lengan atas sampai dengan pengukuran tingkat hemoglobin, yang mengacu standar kesehatan pencegahan beresiko stunting.

‘’Kami melalui forum generasi berencana melakukan pembinaan dan edukasi ke sekolah untuk dapat menyampaikan apa itu kesehatan reproduksi, pendewasaan usia kehamilan, pencegahan HIV/AIDS, karena itu bisa menjadi pencetus terjadinya kasus stunting,’’ pungkas Mandayani. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.