Blunder, Syarat Pelancong dengan PCR

  • Whatsapp
PASCA dibukanya kembali objek wisata di Pulau Dewata Bali membawa angin segar berupa kebangkitan ekonomi bagi sektor pariwisata setempat. Salah satunya di kawasan objek wisata Bedugul yang berlokasi di kabupaten Tabanan, Bali yang perlahan mulai ramai dikunjungi pelancong dari luar daerah Bali. Tapi kedepannya, tampaknya mulai terancam, menyusul kebijakan pemerintah yang memberlakukan syarat pelancong ke Bali harus dengan swab PCR yang biayanya cukup tinggi. foto: net

BANYAK pihak heran dan kecewa. Di tengah covid-19 menurun di tanah air, dibukanya sejumlah penerbangan internasional, termasuk Bandara Ngurah Rai Bali – ekonomi rakyat mulai bergerak – pemerintah malah kembali mempersulit rakyat, khususnya para pelancong.

Jauh hari sebelumnya, dalam penerbangan Jawa-Bali pulang pergi (PP), masyarakat yang ingin berwisata hanya memerlukan bukti dua kali vaksin dan swab antigen.

Bacaan Lainnya

Tetapi belakangan sejak akhir Oktober 2021, kembali diberlakukan swab PCR dengan biaya cukup tinggi. Swab antigen hanya 99 ribu rupiah. Sementara PCR sampai 500 ribu rupiah.

Ini mah, bukan mau membantu rakyat. Tetapi mencekik rakyat. Malah banyak yang curiga, pemerintah membantu pengusaha yang baru saja membeli peralatan PCR. Bukannya mau mengembangkan ekonomo rakyat, tetapi mundur lagi dengan dalih demi kesehatan.

Bali sudah dibuka saja, belum ada turis datang. Ehhh…, tiba-tiba kembali ada aturan lebih berat bagi masyarakat kita. Sungguh kebijakan blunder dan kurang konsisten. Banyak netizen di media sosial kecewa berat dengan policy pemerintah tersebut.

Tidak kurang dari Ketua DPR-RI Puan Maharani juga mengecam kebijakan yang tidak pro-rakyat ini. Ketua DPR adalah wakil rakyat. Kalau kelas wakil rakyat saja kecewa, apalagi rakyatnya.

Baca juga :  Persiapan PON Papua 2021 Capai 70 Persen

Aktivis media sosial Denny Siregar, yang sering kontra dengan Puan Maharani bahkan mendukung keluhan Ketua DPR-RI tersebut, salah satu tokoh perempuan yang digadang-gadang sebagai calon Presiden 2024.

Sesuatu kebijakan semestinya dikaji secara mendalam. Jangan kelihatan mencla-mencle dengan mendadak. Malulah kepada rakyat yang sudah semakin kritis.

Sudah lama perjalanan dengan bebas PCR akibat kondisi memberikan peluang yang makin aman. Tiba-tiba muncul lagi ketentuan sangat memberatkan buat masyarakat banyak, khususnya di Jawa-Bali yang menjadi poros utama hidupnya ekonomi negeri ini.

Iming-iming guna membantu suatu daerah seperti Bali, supaya kembali “hidup” ekonominya, jangan dilakukan seperti memberikan permen kepada anak kecil supaya mau diam. Bali sudah lama menderita.

Sebetulnya ada keinginan membuka Bali saja sudah mendapat sambutan baik dari masyarakat, sekalipun kenyataan belum ada turis mau ke Bali, terutama yang dari negara lain.

Paling tidak pelancong domestik (wisdom) mulai bergerak menuju Bali. Jangan mereka diperangkap lagi dengan persyaratan yang sebelumnya sudah dilonggarkan. Sungguh policy yang sangat blunder, menurunkan citra pemerintah di mata masyarakat. Sangat kita sayangkan! (Made Nariana)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.