Bawaslu Nilai Politik Uang Rentan Terjadi Saat Pandemi Corona

  • Whatsapp
KETUT Ariyani. Foto: gus hendra
KETUT Ariyani. Foto: gus hendra

DENPASAR – Penundaan Pilkada Serentak 2020 tidak otomatis proses pengawasan oleh Bawaslu ikut berhenti. Justru penundaan berarti kian panjang juga pengawasan yang dijalankan, meski tidak harus ke lapangan karena situasi wabah Covid-19. Selain itu, kaum perempuan sebagai salah agen demokrasi juga perlu lebih aktif berartisipasi dalam pengawasan. Dua hal tersebut mengemuka dalam diskusi daring dalam rangka Hari Kartini yang diadakan Bawaslu Bali, Selasa (21/4/2020).

Dipandu Ketua Bawaslu Bali, Ketut Ariyani, diskusi khusus peserta perempuan ini mengangkat tema “Perempuan dan Pengawas Partisipatif dalam Pilkada 2020 di Tengah Covid-19”. Selain komisioner Bawaslu kabupaten/kota, diskusi juga diikuti akademisi AA Istri Ari Atu Dewi, dan penggiat pemilu, Luh Riniti Rahayu. “Diskusi ini untuk mendapat saran dan masukan bagi kami terkait pelaksanaan pengawasan Pilkada 2020. Karena untuk memperingati Hari Kartini, semua pesertanya perempuan,” kata Ariyani usai diskusi.

Bacaan Lainnya

Ada sejumlah hal dibahas dalam diskusi selama 1,5 jam tersebut. Ariyani bilang jajarannya sementara tidak bisa ke lapangan karena keterbatasan kondisi dan instruksi bekerja dari rumah. Di sisi lain, Bawaslu tetap wajib memaksimalkan pengawasan dan potensi pelanggaran yang terjadi dengan memanfaatkan pandemi Covid-19 ini. Misalnya ada pihak menggunakan politik uang dengan sasaran kelompok rentan yang punya hak pilih, atau bahkan ke penyelenggara pemilu.

Baca juga :  Mendikbud Ingatkan Sekolah Hati-hati Melaksanakan Aktivitas di Luar Sekolah

Saat diskusi, akademisi Atu Dewi menanyakan apa saja bentuk pengawasannya, dan dijawab Ariyani dengan sosialisasi pendekatan humanisme ke organisasi masyarakat atau kelompok rentan agar mereka ikut berperan aktif. Menurut Atu Dewi, dengan penundaan pilkada berarti Bawaslu bisa lebih panjang melakukan pengawasan. Pun tidak mesti ke lapangan, karena Bawaslu bisa mengamplifikasi pentingnya pengawasan melalui kekuatan media sosial. Sementara menurut Luh Riniti, kendati sementara harus di rumah, perjuangan para “Kartini” Bawaslu sangat bagus karena tidak melupakan pengawasan pemilu.

“Karena perempuan bisa sebagai agen demokrasi, sehingga perlu ditanamkan dan disosialisasikan pentingnya pengawasan. Spirit ini yang ingin kami gemakan dalam memperingati Hari Kartini,” pungkas Ariyani. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.