Bali Masuk Zona Kuning Cuaca Ekstrem

KEPALA BMKG Dwikorita Karnawati saat memberi keterangan kepada wartawan terkait cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini. foto: ist

MANGUPURA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis adanya potensi cuaca ekstrem di sebagian wilayah Indonesia yang dapat terjadi selama dua hari kedepan, yaitu tanggal 29-30 Desember 2022. Cuaca ekstrem tersebut berpeluang menimbulkan dampak bencana hidrometeorologi berupa banjir, genangan, dan tanah longsor.

Berdasarkan prakiraan berbasis dampak Impact-Based Forecast (IBF), daerah yang ditetapkan berstatus siaga (zona orange) pada periode tanggal tersebut yaitu sebagian Provinsi Banten, Jawa Barat, DKI, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT. Menariknya Bali yang berada diantara apitan wilayah Pulau Jawa dan NTB seolah luput dari status siaga tersebut.

Bacaan Lainnya

Koordinator Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, I Nyoman Gede Wiryajaya, tidaklah menampik bahwa Bali memang luput dari status waspada. Kendati demikian, Bali menjadi salah satu wilayah yang masuk ke dalam kategori waspada (zona kuning), pada periode tersebut.

Adapun dampak yang termasuk dalam status waspada itu, diantaranya longsor, guguran bebatuan atau erosi tanah dengan skala menengah, meningkatnya volume aliran sungai dan banjir.

“Kami mengimbau agar masyarakat senantiasa bisa berhati-hati jika beraktivitas di luar rumah. Kalau tidak ada keperluan mendesak agar jangan beraktivitas di luar rumah. Senantiasa mengupdate informasi dari media massa dan media sosial resmi BMKG, serta mencari informasi dan berkoordinasi dari pihak terkait kebencanaan,” imbau Wiryajaya.

Status waspada itu tidaklah merata di seluruh wilayah Bali. Pada tanggal 28 Desember 2022, status waspada ditetapkan untuk wilayah Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Buleleng, dan Kabupaten Karangasem.

Sementara untuk tanggal 29 Desember 2022, status waspada hanya untuk wilayah Kabupaten Buleleng. Kemudian pada tanggal 30 Desember 2022, status waspada hanya untuk wilayah Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Jembrana.

Secara terpisah, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menerangkan bahwa wilayah yang berstatus siaga itu diprakirakan dapat mengalami hujan lebat yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi.

Adapun yang dapat terjadi, diantaranya adalah volume aliran sungai berpotensi meningkat drastis, sehingga dapat mengakibatkan banjir dan banjir bandang. Besar kemungkinan hujan lebat dapat mengakibatkan potensi tanah longsor, guguran bebatuan, atau erosi tanah, terutama di daerah-daerah dataran tinggi dan lereng-lereng perbukitan dan gunung.

Atas hal itu, pihaknya mengimbau kepada pemerintah daerah setempat dan masyarakat yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai dan wilayah perbukitan, untuk lebih waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan. Terutama jika hujan lebat terjadi dalam intensitas yang cukup lama.

“Mohon kepada masyarakat untuk berhati-hati jika beraktivitas di luar rumah. Jika tidak ada keperluan mendesak, maka sebaiknya di rumah saja menunggu cuaca kembali normal,” imbaunya di Jakarta, Rabu (28/12/2022).

Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto menambahkan bahwa potensi ekstrem ini dipicu oleh aktifnya sejumlah fenomena dinamika atmosfer di sekitar wilayah Indonesia. Seperti peningkatan aktivitas Monsun Asia yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan selatan. Hal itu berpotensi signifikan memicu peningkatan curah hujan di beberapa wilayah.

Meningkatnya intensitas fenomena ‘cold surge’ atau seruakan dingin yang disertai dengan potensi arus lintas ekuatorial, juga memicu aliran massa udara dingin dari Asia memasuki wilayah Indonesia. Kondisi itu dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.

Selain itu, adanya indikasi pembentukan pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Australia, juga dapat memicu peningkatan pertumbuhan awan konvektif yang cukup masif dan berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi, peningkatan kecepatan angin permukaan, serta peningkatan tinggi gelombang di perairan sekitarnya.

BMKG juga memantau fenomena lainnya yang signifikan Madden Julian Oscillation (MJO), yang aktif bersamaan dengan fenomena gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial. Kondisi tersebut berkontribusi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia, terutama di bagian tengah dan timur.

“Kepada masyarakat, kami imbau untuk tidak panik tetapi tetap waspada, dan terus memonitor informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG. Pangkas dahan dan ranting pohon yang rapuh serta menguatkan tegakan/tiang agar tidak roboh tertiup angin kencang,” pungkasnya. gay

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses