Babak Baru Mega Proyek Pembangunan PKB, Koster: Pembangunan Tak Boleh Dilakukan Sembrono

GUBERNUR Koster melakukan prosesi mulang dasar dalam pengerjaan pematangan Kawasan PKB di Klungkung, Rabu (12/1/2022). Foto: ist

KLUNGKUNG – Pengerjaan mega proyek Kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Kabupaten Klungkung memasuki babak baru. Yakni pematangan lahan. Rabu (12/1/2022), Gubernur Bali, Wayan Koster, melakukan upacara ngeruak, nyapuh awu lan mulang dasar yang dipuput oleh Ida Shri Bhagawan Putra Nawa Nata Wangsa Pemayun.

Gubernur Koster menuturkan, awal mula dirinya berencana membangun kawasan PKB ini. Kata dia, pada tahun 2016, tepatnya seusai Pemilu 2014, telah menulis visi pembangunan Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. Dalam visi ini terdapat program prioritas, yaitu pembangunan kebudayaan dengan unsur-unsur adat-istiadat, seni, tradisi, budaya beserta kearifan lokalnya.

Read More

“Salah satu sarana-prasarana yang sangat penting untuk memajukan kebudayaan Bali adalah Pusat Kebudayaan Bali, karena fasilitas di Ardha Candra Art Centre Denpasar sudah tidak memadai lagi,” katanya.

Menurut Koster, PKB berisi fasilitas pentas seni, museum tematik, serta terintegrasi, terpadu dalam sektor-sektor lainnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Tidak saja menampilkan budayanya, tetapi PKB ini juga bakal memberikan efek ekonomi.

“Itulah sebabnya saya pada tahun 2017 atau belum mencalonkan diri sebagai gubernur, saya mulai mikir-mikir di mana ada tanah provinsi yang bisa dipakai untuk membangun PKB,” ujarnya.

Disebutkan, ada beberapa lahan provinsi yang dia ketahui, diantaranya di Padanggalak. “Saat itu saya didampingi Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha pada tanggal 13 Juli 2017. Saya masuk meninjau lahan ini sampai ke dalam hutan yang memiliki luas 8 sampai 9 hektar,” ungkapnya.

”Saya cari lagi tempat lain di Kertalangu, ternyata bukan tanah provinsi. Suatu saat saya lewat, mau ke Karangasem melewati tempat ini (Galian C di Gunaksa, Dawan, Klungkung, red). Saat lewat, lirik ke kiri dan ke kanan, ternyata ada lahan tidak terawat akibat galian C dan saya khusus masuk ke tempat ini. Saya dapat firasat ini tempat yang baik untuk PKB,” tuturnya.

Dia melanjutkan, saat dirinya menjadi calon Gubernur Bali sesuai dengan rekomendasi Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dan kemudian terpilih menjadi Gubernur Bali tahun 2018, dia langsung memikirkan untuk menindaklanjuti PKB.

“Saya panggil Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta yang sebelumnya menjadi lawan atau mendukung sebelah di Pilkada. Tapi dengan niat saya membangun PKB, saya minta kepada Bupati Klungkung agar tanah ini tidak dilepas ke investor dan langsung disetujui,” ceritanya.

Koster menegaskan, pembangunan di bekas galian C ini tidak boleh dilakukan secara sembrono. Karena dari catatannya, kawasan ini merupakan wilayah yang sempat menjadi tempatnya para korban letusan Gunung Agung, korban G30S/PKI, dan korban lainnya, sehingga menjadi tempat yang leteh (kotor). Untuk itu, dirinya melakukan upacara penyucian di kawasan ini, sehingga arwah-arwah korban bisa disucikan kembali dan dibuatkan tempat sucinya.

“Jadi investor sebesar apapun, tidak akan bisa ada yang jalan, kalau niatnya tidak baik. Karena sebelumnya disini banyak bertebaran investor, yang kena tipu juga banyak, sampai ada korbannya, bahkan pembangunan Pelabuhan Gunaksa yang menghabiskan APBN Rp200 miliar lebih itu juga sampai mangkrak pembangunannya. Jadi, saya yakini bahwa pembangunan disini tidak bisa dilakukan secara sembrono,” katanya.

Dikatakan, karena pembangunan kawasan Pusat Kebudayaan Bali dibuat dengan kerja yang tulus dan lurus, Koster merasakan selama proses pembangunan selalu mendapatkan bantuan dari orang baik. Mulai dari hadirnya seorang arsitek Bali yang terkenal di berbagai negara di dunia, yaitu Popo Danes. “Bapak Popo ini mengerjakan desain kawasan PKB dengan cara ngayah dan tidak dibayar. Saking tulusnya, kerja Popo Danes sangat bagus. Jadi ini niat baik, ketemu orang baik, dan ketemu jalan baik,” ungkapnya.

Jalan baik itu, kata Koster, kembali dia dapatkan. Yakni dalam proses pembebasan lahan, dia mendapatkan tawaran dari Menteri Bappenas RI, Suharso Monoarfa, terkait program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebanyak Rp1,5 triliun, tanpa bunga dan sekarang sudah cair untuk pembebasan tanah serta pematangan lahan. “Peminjaman PEN ini juga telah disetujui oleh DPRD Provinsi Bali,” jelasnya.

Dia menambahkan, jalan baik itu muncul kembali. Pekerjaan pematangan ini mendapatkan hasil kerukan di areal Pelabuhan Benoa yang dilaksanakan oleh PT Pelindo (Persero) sebanyak 1,5 juta meter kubik secara gratis.

“Jalan baik selanjutnya didapatkan ketika pemenang tender di kawasan PKB bersedia memberikan bantuan CSR 5 persen. Bahkan sampai ada yang sanggup memberikan CSR 7 persen. Nanti CSR ini akan digunakan untuk pembangunan fasilitas pentas seni atau museum,” ungkap Koster.

Dalam kesempatan itu, Koster kembali mewanti-wanti dan menegaskan agar di dalam proses pembebasan lahan kawasan PKB tidak ada permainan para calo.

“Kalau ada yang macam-macam, saya libas. Sekali lagi, jangan ada main-main, ngaku-ngaku punya tanah, sampai bawa-bawa pengacara. Saya minta tunjukkan bukti konkretnya di Badan Pertanahan, jangan ada sogokan. Siapa yang ada main-main disini dengan niat jahat, alam akan melibas. Kita kerja tulus dan lurus, agar menjadi kebanggaan Bali dan juga Indonesia sebagai ikon peradaban budaya Bali,” tandasnya. alt

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.