Arak Gula Ancam Kelangsungan Perajin Arak Tradisional

GUBERNUR Koster saat tos arak Bali dengan Dubes Ceko, Jaroslav Dolecek, di Jayasabha, Denpasar, Selasa (25/5/2021). Foto: ist
GUBERNUR Koster saat tos arak Bali dengan Dubes Ceko, Jaroslav Dolecek, di Jayasabha, Denpasar, Selasa (25/5/2021). Foto: ist

KARANGASEM – Gubernur Bali, I Wayan Koster, merilis SK Nomor 929/03-I/HK/2022 dan menetapkan tanggal 29 Januari sebagai Hari Arak Bali. Tujuannya mengajak masyarakat Bali menjadikan hari tersebut sebagai hari kesadaran kolektif terhadap keberadaan, nilai dan harkat arak bali.

Tetapi, spirit Hari Arak Bali belum mampu membuat perajin arak di Karangasem gembira. Mereka malah resah, gegara hingga saat ini arak gula masih menjadi momok atas kelangsungan arak tradisional Bali.

Bacaan Lainnya

Menurut salah satu perajin arak asal Kebung, Sidemen, I Kadek Kicen, belakangan ini dia cukup kesulitan mejual arak hasil sulingannya. Terjadi persaingan harga tidak sehat antara arak tradisional buatannya dengan arak gula yang beredar luas di pasaran.

“Kami kalah bersaing harga. Kalau arak tradisional, beli tuak untuk bahan araknya saja Rp10 ribu per liter, sedangkan arak gula itu sudah jadi arak bisa dijual Rp10 per botol. Jelas kami kalah bersaing,” keluhnya, Senin (23/1/2023).

Menurut Kicen, dari 80 liter tuak yang disuling, hanya menghasilkan sekitar 15 liter arak dengan kadar alkohol 40 persen. Dengan harga bahan baku serta proses penyulingan sampai berhari-hari, dia cukup kesulitan untuk bersaing harga.

Dulu dia bisa menjual Rp20 ribu untuk satu botol ukuran 600 ml, tapi karena persaingan harga, kini dijual dengan harga Rp15 ribu per botol. Itu pun cukup susah untuk dijual dengan harga serendah itu.

Baca juga :  Swiss Open: Pramudya/Yeremia ke Perempatfinal Setelah Singkirkan Jagoan India

Kicen berharap ada kejelasan tentang kondisi ini, karena bila terus berlanjut tentu akan mengancam keberadaan perajin arak tradisional yang masih bertahan hingga kini. “Ini sudah turun-temurun kami lakukan, karena memang ini satu – satunya pencarian kami selain berkebun. Semoga ada solusinya,” harapnya. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.