Anies, Media, dan Rasionalisasi Persepsi Kita

Gus Hendra
Gus Hendra

MAKIN kontroversial seseorang dalam politik, makin terkenal dan menjual pula sosoknya. Anies Baswedan termasuk di dalamnya. Bagi yang suka, Gubernur DKI itu dipuja sebagai sosok juru selamat Indonesia dari situasi buruk saat ini. Bagi pencela, nama Anies identik sebagai politisi tipe Machiavelis (padahal hampir semua politisi Machiavelis). “Gubernur Ayat Mayat” adalah julukan untuk Anies akibat gaya politisasi jargon agama dengan sangat vulgar– untuk tidak menyebut kasar.

Namun, ketika Anies dideklarasikan sebagai calon Presiden oleh Partai Nasdem, banyak yang kebakaran jenggot. Foto Surya Paloh sebagai nakhoda Nasdem yang duduk bersebelahan sembari tertawa bersama Anies, dijadikan meme, dan dipakai medium menghina Surya dan Nasdem. Nasdem dituding tidak peka dengan nasionalisme yang mereka gempitakan sejak sebagai ormas.

Read More

Kenapa kok milih Anies? Sederhana saja, Anies itu populer, pendukungnya banyak, dan elektabilitasnya bagus, di atas dua digit. Jauh di atas putri mahkota PDIP cum Ketua DPR RI, Puan Maharani, misalnya. Soal apakah dia benar bisa “menata kota” atau sekadar “menata kata”, itu beda cerita. Semua itu hanya soal persepsi kita atas informasi yang kita peroleh, atau lebih tepatnya ingin kita peroleh, melalui media dan, terutama, media sosial.

Ngobrolin persepsi, pendukung dan pencela politisi selalu berada di dua kutub berbeda melihat suatu fakta. Ambillah Ganjar Pranowo dari PDIP, yang diandaikan politisi ideal dan sangat layak jadi suksesor Jokowi, apa prestasinya yang fenomenal? Apa pula prestasi Jokowi saat pertama kali jadi capres tahun 2014? Tidak jelas juga, sama tidak jelasnya dengan prestasi Anies.

Tapi realita itu tidak membuat mereka kehilangan pendukung juga, karena ya itu tadi, soal persepsi. Persepsi positif lahir karena pencitraan, yang lahir karena konstruksi dan dipabrikasi oleh tim mereka. Lihat saja, Jokowi dicitrakan merakyat dengan blusukan, baju putih lengan panjang dilinting, pendek kata: orang biasa. Beda dengan Prabowo yang konstruksi pencitraan kelas menengah-atas dengan mengimitasi gaya bicara seperti Bung Karno.

Soal apakah setelah berkuasa mereka konsisten dengan persepsi yang dikonstruksi, itu lain hal. Berhasil atau gagalnya konstruksi sosial bergantung pada bagaimana sosok itu mengorkestrasi seluruh aspek komunikasi di lingkungannya, termasuk di media massa dan media sosial untuk membranding dirinya (Burhan Bungin, 2018).

Pencitraan paling kuat saat ini dilakukan lewat media sosial di internet, karena evolusi teknologi komunikasi dan informasi menciptakan evolusi politik, terutama terhadap praktik demokrasi. Perubahan ini mengakibatkan korelasi kuat antara demokrasi dan partisipasi. Banyaknya komentar, baik mendukung maupun mengkritik Anies, setelah dicapreskan Nasdem, menandakan tingginya partisipasi publik dalam demokrasi digital. “Demokrasi digital adalah satu upaya mengimplementasikan konsep demokrasi tanpa terkungkung limitasi waktu, ruang, dan kondisi fisik lainnya (Hacker dan Dijk, 2000).

Dengan demokrasi digital kita bisa partisipasi politik, partisipasi kebijakan, dan partisipasi sosial. Partisipasi politik digital misalnya melihat kemenangan Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI 2012. Partisipasi kebijakan bisa kita lihat dalam kasus Cicak vs Buaya antara KPK dan Polri tahun 2008. Sementara partisipasi sosial antara lain saat Revolusi Arab tahun 2011, yang menumbangkan rezim hegemonik di Mesir, Tunisia, dan Libya dengan kekuatan media sosial.

Suka tidak suka, secara realitas politik harus diakui Anies itu kuat. Bagi kelompok Islam politik, pilihan terbaik saat ini adalah Anies yang “terbukti” memanjakan kaum Islam politik di Jakarta. Jumlah kelompok ini juga terlalu menggiurkan untuk diabaikan bagi kepentingan insentif elektoral dengan pura-pura tidak butuh, dan Anies rasanya belum ada pesaing di kubu ini.

Bahwa Nasdem sejak dini mencalonkan Anies, itu jelas tidak gratisan. Sebagai partai nasionalis medioker, Nasdem belum mampu merebut hati kalangan Islam politik yang sebelumnya sukses direkrut Prabowo dan Gerindra sejak 2014. Dengan memberi Anies panggung, Nasdem berharap simpatisan Anies akan memilih Nasdem pada pemilihan legislatif. Selanjutnya, entah Anies menang atau kalah Pilpres, itu juga kalau misalnya lolos sebagai capres yang berkontestasi, Nasdem sudah pasti mendapat efek ekor jas Anies.

Singkat tutur, apa yang dilakukan politisi akan membentuk dan mempengaruhi realitas politik. Sebaliknya, realitas politik juga akan mempengaruhi bagaimana sikap dan cara politisi merespons.  

Sebagai penikmat berita politik, saya hanya bisa menyarankan kita semua menikmati tontonan ini dengan santai. Tidak usah baperan dengan Anies dipilih Nasdem, seburuk apapun sosoknya dikonstruksi di media dan media sosial. Toh bagi pendukungnya, kinerja menempati urutan kesekian untuk mencintai Anies. Sama dengan pembencinya, segudang prestasi Anies (kalau ada) tidak akan mengubah persepsi politik mereka.

Kalaulah ada masalah “agak serius” untuk Nasdem, terutama di daerah yang secara demografi di luar kubu Islam politik, adalah bagaimana membuat narasi atau rasionalisasi atas pilihan Surya Paloh tersebut. Adanya resistensi kader di Bali seperti Ni Luh Djelantik atau AA Ngurah Panji karena ogah satu biduk dengan Anies, bisa dibaca sebagai resistensi atas politik identitas brutal yang dilekatkan ke sosok Anies. Sekecil apapun gejolak internal niscaya memiliki pengaruh terhadap soliditas partai dengan jargon Restorasi Indonesia ini, di tengah harapan ada suntikan insentif elektoral dari ketenaran Anies Baswedan. Gus Hendra

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.