Tak Lari Gunung Dikejar

DOKTOR I Ketut Suardana. foto: dok

ADA sebuah ungkapan sederhana yang sangat dalam: “Tak lari gunung dikejar.” Gunung tidak berlari. Ia tidak mengejar siapa pun. Ia tetap berdiri di tempatnya. Kitalah yang berjalan mendekatinya.

Ungkapan sederhana ini sesungguhnya dapat dibaca sebagai sebuah filsafat tentang perjalanan manusia mencari kebenaran.

Manusia sepanjang hidupnya mencari; mencari kebahagiaan, mencari cinta, mencari kekayaan, mencari pengakuan, mencari kedamaian, bahkan mencari Tuhan.

Kita pergi jauh, membaca kitab, mencari guru, mengunjungi tempat-tempat suci, melakukan ritual, bermeditasi. Mencari jawaban dari berbagai penjuru.

Semua itu adalah bagian dari perjalanan. Namun pada suatu saat, pencarian itu mungkin harus berbalik arah: dari luar menuju ke dalam, dari mengejar menuju menyadari, dari mencari menuju mengalami.

Di sinilah kisah Āmrapālī menjadi begitu bermakna. Āmrapālī: Perempuan yang Dicari Dunia. Sekitar abad ke-5 SM, di Vaiśālī, hidup seorang perempuan yang sangat terkenal karena kecantikan dan kedudukannya. Namanya Āmrapālī.

Dalam tradisi Buddhis, Āmrapālī dikenal sebagai nagaravadhū, perempuan terkenal di kota Vaiśālī. Ia memiliki kecantikan, ia memiliki kekayaan, ia memiliki kedudukan, ia dikenal banyak orang. Dunia melihatnya, dunia mengaguminya, dunia mengejarnya.

Namun kehidupan memiliki hukum yang tidak dapat dihentikan: segala sesuatu berubah. Kecantikan berubah, tubuh berubah, kemasyhuran berubah, kekayaan berubah, kehidupan berubah.

Dan ketika segala sesuatu yang selama ini menjadi identitas mulai berubah, manusia akhirnya berhadapan dengan pertanyaan yang paling mendasar: “Siapakah aku, jika semua yang selama ini kusebut sebagai ‘aku’ ternyata berubah?”

Pertanyaan itu dapat menjadi awal perjalanan spiritual. Ketika Āmrapālī Bertemu Buddha, Ketika Buddha Gautama datang ke Vaiśālī, Āmrapālī datang menemuinya. Buddha tidak melihat manusia hanya dari status sosialnya.

Āmrapālī tidak ditolak karena masa lalunya. Ia tidak harus menjadi manusia lain terlebih dahulu untuk mendekati Dharma. Ia datang sebagaimana adanya. Ia kemudian mengundang Buddha dan para bhikkhu untuk makan di rumahnya.

Setelah itu, Āmrapālī mempersembahkan taman mangganya kepada Buddha dan Saṅgha. Di sini terjadi sebuah perubahan simbolis yang indah. Perempuan yang sebelumnya dikenal karena apa yang dunia lihat pada dirinya, kemudian dikenang karena apa yang ia sadari dan persembahkan. Dari memiliki menuju memberi, dari pengakuan menuju pengabdian, dari kehidupan luar menuju perjalanan batin.

Buddhisme: Melihat Ketidakkekalan
Buddhisme membuka salah satu pintu kebijaksanaan melalui anicca, ketidakkekalan. Tubuh berubah, perasaan berubah, persepsi berubah, pikiran dan bentukan batin berubah.

Kesadaran pengalaman juga tidak berdiri sebagai suatu inti pribadi yang kekal. Apa yang kita sebut “aku” tidak ditemukan sebagai satu substansi tetap yang dapat digenggam. Karena itu Buddha mengajarkan anattā—tidak adanya diri kekal yang dapat disebut sebagai “aku” atau “milikku”. Ini sangat penting.

Ketika seseorang dalam meditasi mengamati tubuh, perasaan, pikiran dan pengalaman batinnya, tujuan Buddhis bukan menemukan sebuah Ātman kekal yang tersembunyi di belakang semuanya.

Justru sebaliknya. Ia melihat bahwa semua yang menjadi objek keterikatan bersifat tidak kekal dan tidak layak dianggap sebagai diri yang tetap. Dari penglihatan itu lahir pelepasan. Ketika keterikatan berkurang, penderitaan berkurang.

Ketika keserakahan, kebencian dan kebodohan padam, terbukalah jalan menuju Nirvāṇa. Maka pertanyaan Buddhisme bukan terutama: “Apa yang kekal di dalam diriku?”

Melainkan: “Mengapa aku melekat pada sesuatu yang tidak kekal sebagai ‘aku’ dan ‘milikku’?”

Vedānta: Mencari Yang Tidak Berubah
Vedānta, khususnya Advaita Vedānta, bergerak melalui pertanyaan yang berbeda. Ia juga mengajak manusia melihat bahwa tubuh bukan hakikat terdalam dirinya.

Pikiran bukan hakikat terdalam, emosi bukan hakikat terdalam, ego bukan hakikat terdalam. Semua itu berubah.

Tetapi penyelidikan kemudian bergerak kepada pertanyaan: “Siapakah yang mengetahui semua perubahan itu?” Di sinilah konsep Ātman menjadi penting.

Ātman adalah hakikat terdalam diri, bukan ego individual, bukan tubuh, bukan pikiran. Dalam Advaita Vedānta, pengetahuan tertinggi membawa kepada pengenalan bahwa Ātman pada hakikatnya tidak berbeda dari Brahman, realitas tertinggi.

Maka jika Buddhisme mengajarkan anattā, Advaita Vedānta justru menegaskan Ātman. Di sinilah keduanya tidak boleh disamakan.

Dua Jalan yang Berbeda
Buddhisme dan Vedānta dapat sama-sama mengajak manusia melampaui identifikasi dengan tubuh, pikiran, emosi dan ego. Tetapi setelah sampai di sana, keduanya mengambil arah yang berbeda.

Buddhisme berkata: Jangan mencari diri kekal di balik pengalaman. Lihat ketidakkekalan, lihat keterikatan, lihat bagaimana gagasan tentang “aku” terbentuk. Lepaskan kemelekatan.

Vedānta berkata: Jangan mengira tubuh, pikiran dan ego sebagai diri sejati. Telusuri siapa yang menyadari semuanya. Kenali Ātman. Dan dalam Advaita, kenali kesatuannya dengan Brahman.

Dengan demikian, keduanya seperti dua jalan yang dapat bertemu pada disiplin batin, tetapi tidak memberikan jawaban metafisik yang sama tentang hakikat diri. Perbedaan ini justru membuat dialog keduanya menjadi semakin menarik.

Āmrapālī: Dari Yang Dilihat Menuju yang Menyadari
Di sinilah kisah Āmrapālī dapat dibaca kembali. Dunia melihat tubuhnya, dunia melihat kecantikannya, dunia melihat statusnya. Tetapi perjalanan spiritual mengajak manusia bergerak dari yang terlihat menuju yang menyadari.

Dalam pembacaan Buddhis, perubahan tubuh dan kecantikan memperlihatkan anicca. Yang indah tidak kekal, yang muda menjadi tua, yang hadir akan berlalu. Maka jangan menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang tidak dapat dipertahankan.

Dalam pembacaan Vedānta, perubahan itu dapat menjadi pintu pertanyaan yang berbeda: Jika tubuh berubah, pikiran berubah, dan identitas berubah, apa hakikat diri yang tidak identik dengan semua perubahan itu?

Pertanyaan Buddhis dan pertanyaan Vedāntik tidak menghasilkan jawaban yang sama. Namun keduanya sama-sama membawa manusia meninggalkan keterikatan pada permukaan.

Menembus Lapisan-lapisan Diri
Di sinilah perjalanan ke dalam dimulai. Kita pertama-tama mengenali tubuh, kemudian pikiran, kemudian emosi, kemudian keinginan, kemudian identitas.

“Aku seorang guru, Aku seorang pemimpin, Aku seorang ayah, Aku seorang intelektual, Aku berhasil, Aku gagal.” Semua itu adalah bagian dari perjalanan. Tetapi semuanya dapat berubah.

Maka kita mulai bertanya: Apakah aku hanya semua itu?

Buddhisme mengajak kita melihat bahwa ketika semua itu diamati, tidak ditemukan suatu “aku” kekal yang dapat digenggam. Vedānta mengajak kita melanjutkan penyelidikan hingga kepada Ātman sebagai Kesadaran sejati.

Sekali lagi: jalannya dapat berdampingan dalam pencarian batin, tetapi jawabannya berbeda. Dari Mencari Tuhan kepada Menyelidiki Sang Pencari

Manusia sering berkata “Aku sedang mencari Tuhan.” Tetapi ada pertanyaan yang lebih dalam: “Siapakah aku yang sedang mencari Tuhan?”

Pertanyaan ini mengubah arah perjalanan. Bukan berarti Tuhan harus dicari di dalam dan bukan di luar secara sederhana. Lebih tepatnya, manusia mulai menyadari bahwa cara ia mengalami Tuhan juga bergantung pada kondisi kesadarannya sendiri.

Ketika pikiran penuh kegelisahan, dunia terlihat gelisah. Ketika hati penuh keterikatan, segala sesuatu terasa harus dimiliki. Ketika ego menjadi pusat, Tuhan pun dapat dibayangkan sebagai sesuatu yang harus dicapai.

Tetapi ketika kesadaran menjadi jernih, hubungan manusia dengan kehidupan juga berubah. Ia tidak lagi semata-mata mengejar. Ia mulai melihat.

Samarasa: Menyatukan Kesadaran, Rasa, dan Tindakan
Di sinilah gagasan Samarasa menemukan ruangnya. Samarasa tidak perlu menjadi ajaran yang menyamakan Buddhisme dengan Vedānta. Justru Samarasa dapat menjadi ruang dialog.

Buddhisme mengajarkan kejernihan melihat ketidakkekalan dan pelepasan keterikatan. Vedānta mengajarkan penyelidikan terhadap hakikat diri dan realitas tertinggi.

Samarasa dapat mengambil inspirasi dari kedalaman pengalaman keduanya tanpa menghapus perbedaan filosofis masing-masing.

Dalam kerangka Citta, Rasa, dan Karsa: Citta melihat dengan jernih. Rasa mengalami kehidupan dengan empati. Karsa menerjemahkan kesadaran menjadi tindakan.

Kesadaran tanpa tindakan dapat berhenti menjadi pengalaman pribadi. Rasa tanpa kejernihan dapat berubah menjadi keterikatan. Tindakan tanpa kesadaran dapat menjadi dorongan ego. Ketiganya perlu menemukan keseimbangan. Itulah Samarasa.

Tak Lari Gunung Dikejar
Sekarang ungkapan itu memperoleh makna yang lebih dalam. “Tak lari gunung dikejar” bukan berarti manusia tidak perlu berjalan. Justru kita harus berjalan.

Belajar, Bekerja, Bermeditasi, Mencintai, Berkarya, Melayani. Tetapi kita tidak perlu mengejar kebenaran dengan kegelisahan.

Gunung tidak lari. Kebenaran tidak perlu dikejar seperti sesuatu yang sedang melarikan diri. Yang perlu dilakukan adalah berjalan dengan kesadaran. Langkah demi langkah, lapisan demi lapisan. Sampai kita melihat apa yang selama ini tidak terlihat.

Kembali kepada Asal
Di sinilah istilah Asal menjadi penting. Dalam kerangka Vedānta, seseorang dapat berbicara tentang Brahman sebagai realitas tertinggi dan mengenali Ātman sebagai hakikat terdalam.

Dalam Buddhisme, kita harus berhati-hati menggunakan istilah “Asal” seolah-olah menunjuk kepada suatu diri kekal atau Tuhan pencipta. Jalan Buddhis tidak dibangun di atas gagasan tersebut.

Namun secara puitis, “kembali kepada Asal” dapat digunakan untuk menggambarkan berakhirnya keterikatan, kebodohan dan keterpecahan batin. Jadi Asal bukan harus dipahami sebagai satu doktrin yang sama.

Ia adalah bahasa reflektif tentang pulang dari keterasingan menuju kejernihan.

Āmrapālī dan Jalan Pulang
Āmrapālī memperlihatkan bahwa perjalanan spiritual tidak selalu dimulai dari kehidupan yang sunyi. Kadang ia dimulai dari tengah dunia. Dari kecantikan, dari kekayaan, dari popularitas, dari pengalaman, dari keberhasilan. Bahkan dari kehidupan yang penuh kontradiksi.

Tidak ada pengalaman manusia yang otomatis menutup pintu menuju transformasi. Yang menentukan adalah apakah manusia mampu melihat pengalaman itu dengan kesadaran.

Āmrapālī dapat menjadi simbol bahwa kehidupan yang dahulu membuat manusia melekat justru dapat menjadi pintu untuk memahami ketidakkekalan dan pelepasan.

Gunung Tetap di Sana
Mungkin pada akhirnya inilah pesan yang ingin disampaikan oleh ungkapan sederhana itu: Gunung tidak pernah lari. Kita yang bergerak, kita yang mencari, kita yang tersesat, kita yang belajar, kita yang kembali.

Buddhisme mengingatkan: Jangan melekat pada sesuatu yang berubah sebagai “aku” dan “milikku”. Vedānta bertanya: Jika semua yang berubah bukan hakikat diri, lalu apakah hakikat diri yang sejati? Samarasa mengajukan pertanyaan lain: Bagaimana kesadaran itu diwujudkan menjadi cara hidup yang selaras?

Tiga pertanyaan, tiga pendekatan. Namun semuanya membawa kita kepada satu tugas manusia: hidup dengan kesadaran. Maka jangan takut jika perjalanan terasa panjang. Jangan takut jika kita belum menemukan jawaban. Jangan takut jika kita pernah tersesat.

Gunung tidak pergi. Kebenaran tidak berlari. Dan Asal tidak harus dicari di tempat yang jauh. Kita hanya perlu terus berjalan. Dengan Citta yang jernih. Dengan Rasa yang hidup. Dengan Karsa yang sadar.

Sampai suatu hari kita berhenti sejenak. Menarik napas, diam, melihat ke dalam. Dan menyadari: Yang selama ini kucari mungkin bukan sesuatu yang hilang. Aku hanya belum melihat dengan jernih. Maka perjalanan ini bukan tentang mengejar gunung.

Gunung tetap di sana. Perjalanan adalah tentang mengubah cara kita melihat. Tentang menembus lapisan-lapisan diri, tentang melepaskan apa yang bukan hakikat, tentang mengenali apa yang perlu dilepaskan, dan tentang belajar pulang.

Tak lari gunung dikejar. Gunung tetap di sana. Kita yang akhirnya belajar berjalan pulang! (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.