Setop Polarisasi Pilpres 2019, TGB Ajak Perbanyak Perjumpaan

TUAN Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi saat menyampaikan sambutannya pada Halal Bihalal TGB Center, Senin (30/5/2022). Foto: rul

MATARAM – Ketua Umum PB NWDI periode 2022-2027, Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi, mengajak semua elemen bangsa dan elite politik bahu-membahu menghilangkan ketegangan, khususnya akibat Pilpres 2019.

Sebab, menurut Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia ini, polarisasi yang tajam imbas Pilpres 2019 terlihat amat jelas dirasakan masyarakat Indonesia. Pembelahan yang terjadi memunculkan sejumlah persoalan sosial hingga politik.

Read More

“Karena itu, menuju Pemilu Serentak 2024 mendatang, salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk memberi relaksasi sosial adalah dengan memperbanyak perjumpaan,” pesan TGB saat menyampaikan sambutan pada Halal Bihalal yang dilakukan TGB Center di Kota Mataram, Senin (30/5/2022).

Mantan Gubernur NTB dua periode itu menegaskan, adanya perjumpaan akan mampu membawa begitu banyak harapan. “Mari para tokoh bangsa, tokoh politik perbanyak halal bihalal, perjumpaan. Dengan itu terasa teduh semua. Friksi, agitasi antarkelompok, dan labelling akan dapat terkikis,” tegasnya.

Dia menilai adanya rajutan kebersamaan merupakan semangat, dan elemen vital, yang harus terus terpatri di diri setiap anak bangsa. Karena itu, mulai saat ini sebaiknya semua pihak kembali menjadikan ajaran agama sebagai kemudi dalam berpolitik.

Agama akan memberi ilham. “Mari para tokoh agama, bangsa, dan budaya kita ambil nilai yang terbaik demi merukunkan bangsa,” ajaknya.

Dalam kesempatan itu, cucu Pahlawan Nasional TGKH Zainuddin Abdul Madjid itu tak menampik dua tahun mendatang Indonesia kembali akan dihadapkan pada konstelasi yang sama. Padahal residu ketegangan Pilpres 2019 belum juga punah.

Sejumlah tokoh bangsa menyampaikan harapan agar pesta rakyat tersebut tidak kembali membawa begitu banyak kebencian. Menurut TGB, polarisasi yang muncul usai Pilpres 2019 merupakan buah dari dinamika politik yang tidak terkontrol.

Selaras dengan itu, menuju Pemilu Serentak 2024, justru belum ada upaya serius untuk menyembuhkan luka akibat Pilpres 2019. Karena itu apa yang terjadi tahun 2019 berpotensi terjadi kembali pada 2024.

Dahulu, ulasnya, banyak yang tidak mengira dinamika politik 2019 merupakan ujung dari hiruk pikuk pertentangan dan politik identitas dalam makna negatif. Sayang, realita yang sama masih terjadi hingga kini.

“Itulah potret kita, seperti tidak beranjak titik di mana kita berada di titik yang sangat kritis pada 2019, (kini) kita menuju lubang yang sama,” ucapnya bernada prihatin.

“Hati-hati, kalau kita tidak segera bekerja, berikhtiar bersama, maka kita akan sampai di titik di mana kita sudah tidak tahu cara membenahi negara,” tandasnya mengingatkan. rul

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.