Selamatkan Cucu, Mara Rela Terkena Reruntuhan Bangunan

  • Whatsapp
WAYAN Mara saat menggendong cucunya yang selamat dari reruntuhan tembok akibat gempa yang terjadi di Desa Ban, Kubu, Karangasem, Sabtu (16/10/2021). Foto: net

KARANGASEM – Insting melindungi cucu saat terjadi gempa bumi, Sabtu (16/10/2021) spontan timbul di pikiran Wayan Mara (42), warga Dusun Temakung, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem. Ketika bumi berguncang, dia spontan memeluk cucu perempuannya yang masih balita agar terhindar dari reruntuhan rumah, ketika keluarga yang lain berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.

Ditemui di kediamannya, Minggu (17/10/2021) sore, Mara berkisah sebelum kejadian dia bersama tujuh anggota keluarga sedang tertidur lelap. Tiba-tiba guncangan dahsyat terjadi, yang membuat seluruh keluarga dalam rumah berhamburan keluar menyelamatkan diri.

Bacaan Lainnya

Di tengah kepanikan, Mara yang hendak keluar rumah melihat cucu perempuannya masih berada dalam rumah. Spontan dia memeluk cucunya tersebut agar terhindar dari reruntuhan puing-puing rumah yang mulai berjatuhan.

Benar saja, saat Mara memeluk cucunya, sebagian tembok rumah yang ambruk langsung menimpa tubuhnya. “Saat tembok menimpa tubuh saya, saya sudah pasrah antara hidup dan mati, yang saya pikirkan hanya cucu saya. Saya berusaha melindungi cucu saya agar terhindar dari reruntuhan,” kata Mara penuh haru.

Beruntung, meski tertimpa tembok rumah, dia masih mampu bangkit menyelamatkan diri dengan penuh luka di bagian kepala belakang dan juga kaki. Darah sempat mengalir dari kepalanya saat berusaha keluar rumah untuk menyelamatkan diri bersama sang cucu. “Ini kepala saya luka terkena reruntuhan tembok rumah,” kisahnya sambil menunjukan bagian belakang kepalanya yang luka.

Baca juga :  ASN Dikarangasem Jalani New Normal

Saat Mara dan keluarga lain sampai di luar rumah, ternyata istrinya, Ni Nyoman Murni, juga terkena tembok yang ambruk. Luka yang dialami Murni lebih parah, sehingga langsung dilarikan ke Puskesmas setempat. “Istri saya mengalami luka cukup parah di bagian kepala, bahkan darah sempat mengalir cukup deras. Akibat luka tersebut, istri saya harus dijahit 11 di bagian kepala,” imbuhnya.

Karena rumah satu-satunya hancur hingga tidak bisa untuk ditinggali lagi, Mara berharap ada perhatian lebih dari pemerintah. “Ini rumah satu-satunya yang saya miliki dan sekarang sudah hancur. Saya sangat berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah, untuk dapat mengurangi beban saya dan juga warga yang lain,” pintanya.

Kini, Mara dan anggota keluarga yang lain tinggal untuk sementara di rumah mertuanya, yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya. Nasib baik, rumah mertuanya hanya mengalami kerusakan ringan.

Dari hasil pantauan di lapangan, selain sebagian besar rumah warga rusak ringan hingga berat, di beberapa titik lokasi juga terjadi longsoran ringan yang membuat ruas jalan sedikit tertutup.

Beberapa warga terlihat sibuk membersihkan puing-puing rumah yang hancur untuk menyelamatkan barang-barang berharga, yang kemungkinan masih bisa untuk diselamatkan. Sementara, sejumlah warga yang mengalami luka-luka terlihat beristirahat di rumah kerabat terdekat, juga terlihat ada warga menangis meratapi nasib yang dialami.

Baca juga :  Laga Uji Coba U15, Perseden Ungguli Persewangi Banyuwangi 2-1

Sejumlah warga yang ditemui di lokasi kejadian mengaku masih trauma dengan musibah gempa, yang membuat sebagian besar rumah yang ada di sana hancur. Seperti dikatakan Wayan Sweca dan istrinya, yang mengaku sangat trauma.

Dia bahkan mengaku takut masuk ke dalam rumah dan dapur, karena sebagian titik mengalami keretakan. “Saya takut masuk ke dalam rumah karena beberapa bagian tembok rumah saya retak. Takutnya ketika saya masuk ke dalam, tiba-tiba ambruk. Saya cari aman saja dengan tinggal di luar rumah dulu,” kata Sweca. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.