PHRI Optimis Lebih Banyak Datangkan Wisatawan, Petani Organik Kawasan Kaldera Batur Minta Ada Harga Khusus

PETANI di kawasan Geopark Batur, Kintamani harapkan ada kekhususan harga hasil panen pertanian organik, petani juga kesulitan mendapat bahan organik jadi, terutama untuk penanggulangan serangan hama penyakit. Foto: ist

BANGLI – Berbagai kendala dihadapi petani di kawasan Geopark Batur, Kintamani untuk mengembangkan pertanian organik. Selain belum ada kekhususan harga hasil panen pertanian organik, petani juga kesulitan mendapat bahan organik jadi, terutama untuk penanggulangan serangan hama penyakit.

I Made Broto, salah seorang petani organik asal Desa Buahan, Kintamani mengaku mengembangkan pertanian organik sejak empat tahun terakhir. Tanaman yang dikembangkan, terutama hortikultura seperti bawang merah, tomat, kubis dan cabai. Selama penerapan pertanian organik, dia merasa kendala pada saat musim tertentu akibat serangan hama.

Read More

“Terutama di bulan November sampai Februari. Cuaca di daerah Kintamani sangat ekstrem, hujan yang terlalu deras menyebabkan serangan penyakit seperti lalat buah, dan ulat kian ganas menyerang tanaman,” keluhnya.

Sejauh ini, dia berupaya menanggulangi hama dengan membuat pestisida nabati dari bahan serai dan lengkuas. Sayang, hasilnya tidak bisa maksimal. Ujung-ujungnya dia terpaksa menggunakan zat kimia beberapa kali pada musim tersebut, untuk membuat serangan hama tidak terus meluas.

Mendapat bahan organik jadi dirasa memang sulit. “Kami harus bikin sendiri. Biasanya petani kan inginnya praktis. Kalau ada yang jual, tentu kami mau menerapkan dan lebih bisa dijamin kandungannya karena sudah melalui uji lab,” tuturnya.

Selain itu, dia mengeluhkan belum ada kebijakan pemerintah untuk memberi harga khusus untuk terhadap hasil pertanian organik. Hasil pertanian organik dan kimia harganya sama saja, meski dari pengalamannya hasil panen tanaman organik bisa lebih tahan lama. “Dari hasil rembuk dengan beberapa petani, banyak mengusulkan hasil pertanian organik harganya dikhususkan,” pintanya.

Lebih lanjut disampaikan, pengembangan pertanian organik di kawasan Geopark Batur masih sulit diterapkan. Saat ini baru ada lima kelompok pertanian organik. Padahal pengembangan pertanian organik, selain bisa mengurangi pencemaran lingkungan, hasil panennya juga bisa lebih bagus.

Broto mengaku pernah mencoba bikin demplot untuk pengembangan bawang organik, dan menghitung per hektar bisa menghasilkan 22 ton. Beda jauh dengan menggunakan kimia, yang hasilnya hanya 18 ton per hektar. “Kami berharap dukungan penuh pemerintah untuk benar-benar mendukung program pertanian organik di kawasan Kaldera Batur,” pesannya.

Usulan agar kawasan Geopark Batur dikembangkan sebagai sentral pengembangan pertanian organic, mendapat tanggapan positif pelaku pariwisata. “Kami berharap sekali kawasan Geopark Batur bisa menjadi pionir pengembangan pertanian organik. Itu akan sangat luar biasa,” sebut Ketua PHRI Bangli, I Ketut Mardjana.

Sebab, menurut dia, pertanian organik sudah menjadi kebutuhan masyarakat dunia. Jika pertanian organik bisa dikembangkan di Geopark Batur, dia yakin akan menambah daya tarik bagi wisatawan berkunjung ke Kintamani. Wisatawan tentu ingin menyaksikan langsung bagaimana cara pengembangan tanaman organik.

Tindak lanjut dari itu, dia mengaku berkomitmen untuk lebih banyak menyerap komoditas pertanian di wilayah sekitar. Pelaku pariwisata dijamin akan menyerap hasil pertanian dari Kintamani seperti jeruk dan sayur-mayur.

“Ke mana lagi? Masa kita beli ke daerah luar? Yang ada di daerah sendiri tentu akan kita utamakan. Dengan begitu, pariwisata maju, pertanian juga akan maju. Begitu pula sebaliknya,” pungkas Mardjana. gia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.