Permohonan Pembuatan Paspor Menurun Drastis

  • Whatsapp
KEPALA Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Nanang Mustofa. Foto: rik
KEPALA Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Nanang Mustofa. Foto: rik

BULELENG – Sejak pandemi Covid-19, jumlah warga yang yang memohon untuk membuat paspor di Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, menurun drastis. ‘’Penurunan bisa sekitar 60 sampai 70 persen,’’ kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Nanang Mustofa, Jumat (20/11/2020).

Berdasarkan data, dari Januari sampai pertengahan November 2020 ini, permohonan penerbitan paspor dari masyarakat yang tinggal di wilayah kerja Imigrasi Kelas II Singaraja yakni Buleleng, Jembrana dan Karangasem, baru sebanyak 1.799 paspor. Jumlah tersebut turun drastis jika dibandingkan dengan 2019 lalu yang mencapai dua kali lipat lebih sebanyak 3.815 permohonan paspor.

Bacaan Lainnya

Ia menyebut, ada beberapa faktor penyebab terjadinya penurunan permohonan pembuatan paspor. Selain akibat adanya pandemi Covid-19 sehingga membuat beberapa penerbangan internasional ditiadakan, ada kemungkinan beberapa negara lain memberlakukan larangan bagi WNI untuk masuk ke negaranya karena situasi lockdown dan sebagainya. Dan terakhir, adanya kekhawatiran masyarakat akan tertular virus Corona jika melakukan perjalanan keluar negeri.

‘’Jadi faktor ini yang mendasari permohonan paspor ini turun drastis. Jadi sangat jauh berkurangnya (jika dibandingkan tahun 2019 lalu),’’ jelas Nanang Mustofa.

Baca juga :  Sosialisasi Pilkada Selipkan Pesan Lawan Covid-19

Meski demikian Nanang mengaku, untuk pelayanan di Kantor Imigrasi Singaraja tetap berjalan seperti biasa, namun diperketat dengan penerapan protokol kesehatan. Dampak dari adanya penurunan permohonan pasport ini, diakui Nanang, berpengaruh terhadap Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Nilai potensi PNBP yang terancam hilang, urai Nanang, jika dihitung dengan rata-rata biaya satu paspor sekitar Rp350 ribu dan dilihat 60 persen penurunan dari jumlah tahun lalu sebanyak 3.815 pemohon paspor, maka diperkirakan pendapatan yang hilang berkisar Rp600 juta lebih.

Kondisi ini diprediksi akan terus terjadi, selama pandemi Covid-19 belum berakhir. “Ada pengaruh terhadap PNBP, sekitar 60 persen penurunannya, jadi potensinya kisaran Rp600 juta-an (terancam kehilangan pendapatan). Jadi ini akan berpengaruh pada anggaran, jadi kegiatan prioritas akan diutamakan dijalankan,’’ ujar Nanang Mustofa.

Melihat kondisi yang ada, Nanang berharap, agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir, dan masyarakat bisa beraktivitas kembali dengan normal. ‘’Kami berharap, agar pandemi ini bisa segera berakhir. Masyarakat bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa, dan kami tetap akan melayani masyarakat yang memerlukan pelayanan keimigrasian,’’ pungkas Nanang Mustofa. 018

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.