DENPASAR – Persembahyangan hari raya Saraswati di SMPN 3 Denpasar, Sabtu (22/10/2022) berlangsung khidmat. Seluruh warga sekolah terlibat nyanggra piodalan Sang Hyang Aji Saraswati tampak pakedek pakenyum.
Momentum hari suci ini juga dirangkai dengan selebrasi proyek IKM mengambil tema kearifan lokal dengan topik Spentri Ngayah (Ngiring Ajegang Budaya lan Dharma). Juga peresmian yel-yel Spentri OKKE dan moto SMPN 3 Denpasar (Spentri) yakni “Bhavana Satyam Jayate” oleh Kepala SMPN 3 Denpasar, I Gusti Ayu Putu Tirtawati, S.Pd.
Tirtawati menjelaskan, Spentri OKKE adalah singkatan dari Optimis, Kreatif, Kompetitif, Ekselent (Keunggulan). Sementara moto “Bhavana Satyam Jayate” dimaknai sebagai langkah memupuk kejujuran untuk meraih kejayaan dan kemenangan.
Ia mengungkapkan, moto “Bhavana Satyam Jayate” diambil dari kitab meditasi atau yoga. Kata Bhavana berasal dari bahasa Sansekerta, Satyam (Selokantara 37) dan kata Jayante terdapat di dalam naskah India Kuno Mundaka Upanisad.
Bhavana artinya memupuk atau pengembangan. Layaknya kebun apa yang harus kita lakukan untuk “menumbuhkan” pikiran kita yang menguntungkan secara rohani, emosional dan mental. Satyam artinya kebenaran dan kejujuran. Janganlah seperti pemegang kekuasaan yang sering korupsi, yang masih bisa tersenyum tanpa peduli dengan uang haram, yang menyebabkan penderitaan banyak orang. Karenanya Satyam penting untuk dimiliki setidaknya mulailah dari diri sendiri. Jayate artinya berjaya atau kemenangan. Yakin dan percayalah Tuhan akan selalu melindungi orang-orang yang ada di jalan kebenaran.
Terkait proyek IKM yang kedua ini diawali dengan sosialisasi tari tradisional yakni tari Rejang Dewa dan Baris Gede. Berikutnya soal upakara dan upacara hari raya Saraswati. Saat pujawali hari raya Saraswati para siswa memantaskan tari Rejang Dewa, Baris Gede, termasuk dipentaskan ilen-ilen wayang lemah dan topeng.
Tirtawati mengungkapkan bahwa proyek Profil Pelajar Pancasila merupakan salah satu bentuk dari esensi nyata Kurikulum Merdeka. Mengutip dari pandangan Ki Hadjar Dewantara, kata Tirtawati, esensi dari Kurikulum Merdeka ialah memberikan ruang seluas-luasnya pada peserta didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.
Di hari raya Saraswati, Tirtawati mengajak siswa lebih giat belajar, gemar membaca dan mengimplementasikan ajaran-ajaran agama. Selain itu tetap hormat pada guru dan menjadikan ilmu pengetahuan menjadi bekal untuk mencari kehidupan, bukan untuk merusak. ‘’Dengan Saraswati Puja kita bisa mengembangkan diri dan mengendalikan diri. Rajin belajar juga harus diimbangi dengan perilaku berbudi pakerti yang baik,’’ ujarnya menandaskan. tra






















