POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dinilai sangat ideal untuk menerapkan pembelajaran mendalam (deep learning). Hal ini karena materi IPS membahas isu kehidupan nyata dan masalah sosial yang menuntut kemampuan berpikir kritis serta empati siswa.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Bali, I Wayan Surata, saat membawakan materi bertajuk “Pembelajaran Mendalam di Kelas Nyata: Praktik Pembelajaran IPS SMP yang Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan”. Kegiatan ini merupakan bagian dari workshop yang digelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS Kota Denpasar di Aula SMPN 2 Denpasar, Kamis (10/9/2026).
Menurut Surata, IPS bukan sekadar hafalan fakta, melainkan ajakan bagi murid untuk memahami lingkungan, masyarakat, ekonomi, kewarganegaraan, sejarah, hingga perubahan sosial.
”Oleh karena itu, pembelajaran IPS dapat dimulai dari fenomena yang terjadi di sekitar kita, bukan hanya terpaku pada apa yang ada di dalam buku,” ujar Surata.
Ia menjelaskan bahwa mengaitkan materi IPS dengan konteks kehidupan sehari-hari membuat siswa tidak sekadar menghafal teori, tetapi juga memahami penerapan ilmu sosial secara nyata. Surata mencontohkan fenomena terdekat dengan kehidupan siswa, seperti penyebab kenaikan harga cabai atau alih fungsi lahan. Masalah-masalah kontekstual tersebut dapat dijadikan pintu masuk pembelajaran.
”Dari kehidupan nyata, kita bergerak menuju pemahaman yang lebih dalam serta pencarian solusi untuk masa depan,” lanjutnya.
Di akhir pemaparannya, Surata menegaskan pentingnya kelas nyata, masalah nyata, dan pembelajaran nyata agar hasil belajar di kelas dapat berdampak positif bagi masyarakat.
Ia menekankan bahwa pembelajaran mendalam bukan berarti memperbanyak materi atau tugas, melainkan membentuk murid yang semakin sadar dan paham. Pendekatan ini juga bukan sekadar memanfaatkan teknologi canggih, melainkan melatih murid untuk mampu berpikir dan bertindak.
”IPS tidak hanya mengajarkan murid memahami masyarakat, tetapi juga harus memampukan mereka membaca masalah, memahami perubahan, dan ikut menciptakan solusi,” pungkas Surata.
Integrasi Kecerdasan Artifisial dalam IPS
Sehari sebelumnya, workshop menghadirkan Ketua Tim Kerja Data dan Evaluasi BGP Provinsi Bali, I Wayan Santi Darmawan, yang membawakan materi “Optimasi dan Integrasi KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial) dalam Mata Pelajaran IPS”.
Dalam kesempatannya, Santi Darmawan mengingatkan bahwa penggunaan Kecerdasan Artifisial (AI) tidak boleh menggeser peran guru sebagai figur sentral yang memiliki interaksi sosial dan emosional tak tergantikan. Guru tetap berperan penting sebagai teladan, pengarah, dan pengawas agar pemanfaatan AI berjalan aman, etis, serta mampu mendorong kreativitas siswa.
”AI tidak akan pernah bisa menggantikan keahlian, pengetahuan, atau kreativitas seorang pendidik. Namun, AI dapat menjadi alat bantu yang berguna untuk meningkatkan dan memperkaya pengalaman belajar-mengajar,” tutup Santi. tra
























