Pandemi Covid-19, Ozone Generator untuk Sterilisasi Ruangan Kian Banyak Digunakan

  • Whatsapp
DHIMAS Drissen selaku Founder TRB Creative (kanan) menyerahkan alat Ozone Generator kepada pihak Kantor P3E Bali Nusra KLHK di Denpasar, Senin (16/11/2020). Foto: ist
DHIMAS Drissen selaku Founder TRB Creative (kanan) menyerahkan alat Ozone Generator kepada pihak Kantor P3E Bali Nusra KLHK di Denpasar, Senin (16/11/2020). Foto: ist

DENPASAR – Pemanfaatan teknologi Ozone Generator untuk sterilisasi ruangan semakin banyak digunakan di tengah pandemi Covid-19, baik oleh instansi pemerintahan, perusahaan swasta, maupun perorangan. Teknologi Ozone (O3) bisa menjadi pengganti disinfektan karena lebih efektif dan efisien dibandingkan penyemprotan disinfektan.

Dhimas Drissen selaku Founder TRB Creative, menjelaskan, teknologi Ozone sangat efektif untuk menghilangkan bau dan sebagai penghasil udara murni. Kemudian membunuh bakteri, jamur patogen, menonaktifkan virus (bukan membunuh). Juga bisa untuk merontokkan pestisida yang ada di sayur dan buah. “Kami tidak mengklaim ini bisa membunuh Covid-19, tetapi alat ini bisa menonaktifkan virus,” ujarnya ditemui di Denpasar, Senin (16/11/2020) sore.

Bacaan Lainnya

Dhimas menguraikan, teknologi Ozone bisa untuk udara dan bisa untuk air. “Kalau untuk udara, bisa untuk dipasang di dalam ruangan atau di luar ruangan. Kalau air, airnya ini kita beri gelembung Ozone, setelah itu bisa dipakai untuk mencuci sayur dan buah itu,” jelas pria asal Yogyakarta ini.

Dia mengatakan TRB Creative, sejak tiga tahun lalu telah memasyarakatkan penggunaan teknologi Ozone pada pengolahan limbah. Teknologi ini telah banyak digunakan perusahaan susu, perusahaan bir, perusahaan air minum dalam kemasan, dan lainnya. “Inovasi Ozone sebenarnya sudah ditemukan 1854. Kami sendiri memanfaatkan sejak tahun 2017, awalnya untuk pengolahan limbah karena kami banyak melakukan edukasi pengolahan limbah. Sebelum Corona, alat ini sudah kami perkenalkan saat FGD tentang perubahan iklim dengan KLHK yang difasilitasi oleh UGM,” tuturnya.

Baca juga :  KAMI Dilarang Gunakan Atribut NU

Menurut Dhimas, sejak wabah virus Corona melanda Indonesia, permintaan terhadap alat ini meningkat drastis. Dia pun mengungkapkan sejumlah keunggulan alat ini dibandingkan penyemprotan disinfektan yang menggunakan cairan klorin atau biodisinfektan. Kata dia, disinfektan selama ini harus isi ulang, harus disemprot manual, jadi pasti ada human error. Dengan alat ini tidak perlu ada isi ulang.

Berikutnya, disinfektan pasti akan ada residu karena yang disemprotkan akan meninggalkan sisa. Kalau dengan Ozone Generator, dengan teknologi elektrikal, ketika alat dinyalakan “on” secara otomatis timer akan bergerak. Setelah itu, O3 akan menyebar ke seluruh ruangan sampai ke sela-sela yang tidak terjangkau dengan penyemprotan disinfektan. “Alat ini safety juga karena sudah memakai sensor panas dan pakai thermostat, jadi ketika alat ini panas dia akan mati sendiri. Alat ini sudah kami set sesuai timernya 10 menit hidup, 10 menit mati,” kata Dhimas.

Sejauh ini Ozone Generator dari TRB Creative sudah banyak digunakan di Yogyakarta, Surabaya, Surabaya, Banten, dan belasan kota lainnya di Pulau Jawa, serta di Lampung. Adapun harga alat ini berkisar 5 juta sampai 10 juta per unit sesuai spek dan ukurannya. “Kali ini kami ke Bali untuk memasang Ozone Generator di Kantor P3E Bali Nusra KLHK. Kantor tersebut pesan lima unit, yang tiga untuk di dalam ruangan dan dua moving (portable). Untuk di Bali, ini yang pertama,” katanya.

Baca juga :  Duh! Jatuh dari Truk, THL Pengangkut Sampah Tewas

Dhimas menambahkan, Ozone Generator sebenarnya sudah jamak digunakan di negara-negara maju. Di Indonesia sendiri, di banyak rumah sakit berkelas internasional, teknologi inilah yang digunakan untuk sterilisasi ruangan. “Di Arab sana, di Kabah, tidak mungkin menyemprotkan disinfektan, tetapi menggunakan Ozone,” pungkasnya. rap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.