OPOP-OVOP-OVOC, Meringkas Pemikiran Prof Gunawan Sumodiningrat, Ph.D.

  • Whatsapp
NI Kadek Sinarwati, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pendidikan Ganesha

Oleh Ni Kadek Sinarwati dan Luh Putu Yuni Hartini
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pendidikan Ganesha

OVOP (One Village One Product) merupakan sebuah konsep yang ditemukan di sebuah kota yang bernama Oita sekitar tahun 2001. Sebuah konsep pembangunan ekonomi dan sosial untuk masyarakat pedesaan. OVOP bermakna sebuah sub distrik minimal memproduksi satu produk unggulan.

Bacaan Lainnya

Konsep ini kemudian diadopsi oleh Cina dengan nama OBOP (One Barangay One Product), di Malaysia dengan nama One Village One Product Moment dan di Thailand bernama One Tambon One Product (OTOP) yang memiliki tujuan dibidang ekonomi, sosial, psikologi dan politik terbukti mengalami keberhasilan ekonomi sejak di inisiasi. OVOP di Indonesia dimaknai satu desa memiliki sebuah produk. Produk yang dimaksud dapat berupa barang atau jasa atau usaha.

Mengacu pemikiran Prof. Gunawan Sumodininggrat memperkenalkan sebuah konsep OPOP-OVOP-OVOC. Bermula dari OPOP yang merupakan akronim dari One Person One Product maknanya bahwa setiap orang harus bekerja, memperoleh penghasilan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan sisanya kemudian ditabung.

Jargon Kerja-Untung-Nabung selalu diserukan pada tiap pertemuan ilmiah. Bermula dari masing-masing individu dalam rumah tangga memiliki penghasilan menjadi pribadi mandiri, bergabung dalam sebuah komunitas. Pribadi-pribadi yang mandiri yang memiliki sebuah produk baik berupa barang atau jasa kemudian melakukan transaksi atau pertukaran dalam sebuah komunitas di desa, akan mengjasilkan satu produk di desa.

Baca juga :  Hari Ini Tambah 141 Orang, Bali Ranking 7 Nasional Penyumbang Harian Kasus Positif Covid-19

OVOP (One Village One Product) merupakan gabungan produk individu. Pribadi yang mandiri dan memiliki produk (baik barang maupun jasa) akan menjadi lebih kuat jika bergabung dalam sebuah komunitas desa. Produk yang tersedia di desa yang tentu saja merupakan produk berbasis potensi dan kebutuhan masyarakat desa berikutnya berproses melahirkan OVOC (One Village One Corporation) atau satu desa satu perusahaan.

Perusahaan yang tumbuh di desa, menyediakan produk yang dibutuhkan masyarakat desa dan mengelola potensi desa adalah BUMDes atau dapat juga berbentuk koperasi yang merupakan soko guru perekonomian Indonesia. Koperasi yang berasaskan kekeluargaan, dari, oleh dan untuk anggota, jika dikelola secara professional akan mensejahterakan anggota dan masyarakat.

Masyarakat memerlukan dukungan fasilitas agar mampu mandiri dalam rangka mewujudkan konsep OPOP-OVOP-OVOC. Fasilitas dalam arti luas dimaksudkan pendampingan dalam memberikan pemahaman, tindakan, keputusan yang dilakukan seseorang dengan atau bersama orang lain untuk mempermudah tugas yang berupa proses.

Fasilitasi pada dasarnya adalah “mempermudah” sesuatu agar lebih cepat tercapai tujuan dan orientasinya. Pendampingan dapat juga berupa pemberdayaan dan kemudahan berbagai akses bantuan, selain itu pendampingan dapat berupa tindakan proaktif melakukan intervensi langsung ke masyarakat (Sumodiningrat dan Wulandari, 2021).

Terwujudnya konsep OPOP-OVOV-OVOC, tercermin pada tiap “individu” adalah individu mandiri yang produktif mampu menghasilkan satu produk (barang atau jasa) dengan produknya tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Kumpulan produk tiap individu dalam sebuah komunitas missal nya desa menwujudkan sebuah desa yang memiliki produk.

Baca juga :  I Ketut Suarya, Anak Petani yang Terpilih Jadi Ketua PGRI Kota Denpasar

Produk yang terjualbelikan di desa akan melahirkan sebuah perusahaan di desa yang dapat berbentuk BUMDes atau Koperasi. BUMDes maupun koperasi yang dikelola dengan baik niscaya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai muara dari pembangunan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.