LOMBOK TIMUR – Keberhasilan Provinsi NTB yang pernah menyandang predikat World Best Halal Tourism Destination dan World Best Halal Honeymoon Destination, harus terus dipertahankan eksistensinya. Predikat itu akan menjadi contoh baik dalam pengembangan wisata halal di Indonesia. Apalagi, dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno terus mendorong konsep moslem friendly. Di mana, titik tolak dari program tersebut adalah para santri di semua wilayah Indonesia. Termasuk, para santri di bawah naungan lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI).
‘’Halal Tourism Destination adalah peluang yang sudah diciptakan oleh NTB. Karenanya, perlu para santri dan pengurus NWDI, mengambil momentum itu untuk menciptakan produk UMKM yang berasal dari Pancor. Ini karena konsep moslem friendly akan terus kami pacu keberadaannya,’’ ujar Sandiaga saat menjadi narasumber secara virtual pada Muktamar ke-1 Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) secara virtual di Pondok Pesantren Darunnahdlatain, Pancor, Lombok Timur (Lotim), Minggu (30/1).
Menurut Sandiaga, keberadaan moslem friendly juga harus ditopang dengan adanya regulasi, pengembangan SDM, hingga pengembangan infrastruktur. Oleh karena itu, ia berencana akan memulai kegiatan tur spritual destinasi wisata halal yang akan dimulai dari Pulau Lombok. Hal ini dimaksudkan agar pengembangan destinasi wisata, pengembangan produk kuliner, dan memperbanyak event di wilayah Pulau Lombok bisa terus dilakukan secara berkelanjutan.
‘’Pastinya, konsep pengembangan pariwisata kita ke depannya itu harus berkelanjutan. Dan, NTB punya tonggaknya, yakni keberadaan Maulana Syekh Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang sudah membuat NWDI telah mendunia dan dikenal seantero nasional. Wajarlah, kalau program tur spiritual destinasi wisata halal kita mulai dari Lombok untuk Indonesia yang lebih maju ke depannya,’’ tegas Manperekraf Sandiaga.
Sandiaga berkata, dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, maka potensi besar dalam pengembangan industri pariwisata halal harus terus dipelihara dan ditingkatkan keberadaannya. Terlebih, ia berkeinginan agar Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah dunia.
Menurut Sandiaga Uno, wisata halal akan mampu mendatangkan manfaat bagi masyarakat secara luas, khususnya dalam upaya penciptaan lapangan pekerjaan. Diketahui, pengeluaran sektor wisata halal di Indonesia pada 2019 mencapai 220 miliar dolar AS dan pada 2025 angka tersebut diproyeksi bertambah hingga 330,5 miliar dolar AS.
‘’Pengembangan ekonomi kreatif syariah ini harus 360 derajat. Fokusnya apa yang kita makan sehari-hari, apa yang kita pakai sehari-hari dan apa yang kita lihat sehari-hari, yaitu halal food, modest fashion, media and recreation. Oleh karena itu, kita perlu menghadirkan para enterpreneur muda khususnya di Pancor dan wilayah Indonesia lainnya,’’ jelas Sandiaga.
Ia menyatakan, pengembangan ekonomi syariah melalui wisata halal ini sejalan dengan pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. Lantaran wisata halal bukanlah wisata yang eksklusif, melainkan inklusif, karena dapat dikonsumsi oleh seluruh kalangan. Hal ini yang menjadikan wisata halal begitu diminati wisatawan di berbagai belahan dunia.
Namun, posisi Indonesia sendiri dalam laporan Global Islamic Economi Indonesia 2020/2021, menempati urutan ke empat setelah Malaysia, Saudi Arabia, dan UAE. Oleh karenanya, Menparekraf ingin agar Indonesia yang dihuni 87 persen penduduk muslim dapat memaksimalkan potensi wisata halalnya.
Hal ini agar mampu negara Indonesia, menjadi pusat ekonomi syariah terkemuka di dunia. “Tapi, tentunya dengan mengimplementasikan tiga pilar utama yaitu inovasi dengan teknologi digital, adaptasi melalui protokol kesehatan dan kolaborasi dengan berbagai stakeholders. Insyaallah saya akan datang ke Lombok lagi untuk memastikan hal ini. Termasuk saya akan mengecek ulang kesiapan NTB, khususnya sirkuit Mandalika, menggelar event tes Pra-musim MotoGP pada Februari ini,’’ tandas Sandiaga Uno. rul






















