MATARAM – Wakil Ketua DPRD NTB, Muzihir, memberi klarifikasi terkait pernyataannya yang menyinggung Ketua DPD PDIP NTB, Rachmat Hidayat. Secara lugas, Ketua DPW PPP NTB itu mengaku tidak ada niat tendensius untuk menanggapi pernyataan Rachmat Hidayat.
Selaku junior, dia hormat kepada Rachmat Hidayat yang didaku sebagai guru politik. “Secara pribadi, saya tidak ada niatan menyinggung beliau,” kata Muzihir di ruang kerjanya, Senin (20/3/2023).
Meski tidak ada niat buruk, tapi jika pernyataannya membuat Rachmat Hidayat geram, dia menyatakan minta maaf. “Saya secara pribadi maupun atas nama lembaga, saya minta maaf kepada Pak Rachmat. Nanti kalau beliau sudah pulang, saya akan sowan langsung ke beliau, menjelaskan secara rinci. Sekaligus momentum ramadhan, kita saling memaafkan,” ungkapnya.
Muzihir mengaku dapat memahami pernyataan Rachmat yang melarang anggota Fraksi PDIP untuk ikut kunker ke luar negeri. Pernyataan itu dinilainya itu sah-sah saja, sebagaimana sikap yang disampaikan Partai Gerindra. Siapa pun, sambungnya, bisa memberi kritik terhadap lembaga DPRD, apalagi sekaliber Rachmat Hidayat.
“Semata-mata tidak ada niatan kami agar beliau tersinggung, saya terutama, yang junior ini. Beliau kan sudah anggota DPRD kabupaten, Provinsi maupun DPR RI (selama) 35 tahun. Saya masih 15 tahun, terlalu jauh,” ucapnya bernada merendah.
Mengenai kunker ke luar negeri, Wakil Ketua II DPRD NTB itu beralasan program itu anggarannya sudah jelas. Kegiatan itu kedudukannya sama saja dengan program yang lain. Oleh karenanya bagi yang mau ikut disilakan, tidak ikut juga tidak apa-apa. “(Partai) PPP tidak melarang, tidak juga menyuruh, bergantung kesadaran masing-masing. 15 tahun saya di Dewan, tidak pernah saya ikut,” bebernya.
Buru-buru dia menambahkan, meski tidak pernah ikut, bukan berarti dia anti dengan kunker ke luar negeri. Namun, bila agenda itu mendapat izin dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri), maka tidak ada alasan untuk tidak dijalankan.
Bagi pihak yang kontra dengan kunker ke luar negeri, dia berpandangan hal itu sebagai dinamika yang biasa saja. Program lain juga pasti terjadi pro dan kontra. “Riak-riak saja, ndak berpengaruh,” tepisnya santai.
Terkait anggaran kunker yang disebut Muzihir berkisar Rp 3,6 miliar itu dinilai sebaiknya untuk kebutuhan yang lain, dia tegas tidak setuju. Menurutnya, anggaran itu jelas porsinya, demikian juga untuk kegiatan yang lain. Jika ada yang skeptis, dia merasa tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. “Cuekin aja,” imbuhnya.
Sebelumnya, Ketua DPD PDIP NTB, Rachmat Hidayat, melarang anggotanya ikut kunker dan mengkritik kegiatan tersebut tidak ada urgensinya. Menanggapi kritikan itu, Muzihir melihatnya sebagai tanggapan orang luar DPRD NTB. Dia pun minta Rachmat jangan mempengaruhi internal DPRD. “Kami juga tidak pernah ikut campur (program kegiatan) DPR RI,” balasnya. rul























