POSMERDEKA.COM, BANGLI – Kenaikan harga cabai rawit di tingkat petani di Kabupaten Bangli terus berlanjut. Harga komoditas ini mencapai Rp80.000 per kg atau naik dibandingkan akhir November lalu yang diperdagangkan di posisi Rp75.000 per kg.
Salah seorang petani cabai rawit di Banjar Pucangan, Desa Kayubihi, Wayan Sudirman, menyebut kenaikan harga cabai rawit di tingkat petani terjadi sejak seminggu terakhir.
Hal juga berlaku pada komoditas cabai merah besar yang diperdagangkan Rp65.000 hingga Rp70.000 per kg, atau naik dari posisi Rp50.000 per kg. “Harga cabai rawit di pasaran bisa jadi sudah naik lagi atau di atas harga di petani. Mungkin sudah Rp85.000 hingga Rp87.000 per kg,” tuturnya.
Melonjaknya harga cabai rawit, sebutnya, dipicu meningkatnya permintaan pasar menjelang momen akhir tahun. Selain itu produksi di tingkat petani mengalami penurunan, dan saat ini intensitas hujan menyebabkan rontoknya bunga yang menjadi cikal bakal tumbuhnya cabai. “Banyak tanaman cabai rontok akibat musim hujan. Rata-rata mengalami penurunan produksinya 15 persen dari rata-rata normal,” ujarnya.
Mengingat kondisi itu, dia menilai harga cabai rawit di tingkat petani berpotensi semakin naik. Bahkan berpeluang menembus Rp100.000 per kg atau lebih seperti pernah terjadi pada tahun sebelumnya. Sebab, di sentra produksi lain, termasuk luar Bali, produksinya semakin menipis dan harga naik.
Di Jawa, harga cabai rawit di petani menyentuh Rp90.000 per kg. Dia mengakui kenaikan harga cabai rawit tentu disambut gembira para petani karena, meski produksi turun, petani masih bisa menerima keuntungan.
Pedagang sembako di Pasar Kidul Bangli, Sang Ayu Wati, menyampaikan, selain beras, cabai rawit menjadi komoditas yang menonjol kenaikan harganya. Kenaikan harga terjadi di tingkat suplayer, sehingga dia hanya menyesuaikan kenaikan harga. Namun, konsumen cenderung mengurangi pembelian. ”Saya pun tidak berani menyediakan banyak, karena takut busuk akibat tidak laku,“ pungkasnya. gia























