Menyikapi Kejadian Gempabumi Besar dan Kita Bersiap

GEMPABUMI Blitar bermagnitudo 5,9 SR mengagetkan seluruh warga Jawa Timur pada Jumat (21/5/2021) malam. Wajar masyarakat merasakan guncangannya, secara kekuatannya yang tak kalah besarnya dengan kejadian Gempabumi Malang yang terjadi 10 April 2021. Kondisi tersebut berlaku juga terhadap daerah-daerah di sekitarnya hingga luar Pulau Jawa.

Dua kejadian gempa signifikan yang hanya berselisih sebulan itu, berturut-turut dirasakan oleh warga Bali dan Lombok. Kebanyakan masyarakat terheran-heran dan timbul pertanyaan besar, “Mengapa gempanya di Jawa Timur tetapi warga Bali dan Lombok juga merasakan?”

Read More

Gempabumi Blitar 5,9 SR

Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa Gempabumi ini berada di koordinat 8,63 LS dan 112.34 BT atau pusat gempa berada di laut 57 km Tenggara Blitar dengan kedalaman 110 km. Menyimak lokasi episenter dan kedalamannya, gempabumi tersebut terjadi akibat aktifitas subduksi. Hasil analisa lanjutan menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan sesar naik dengan kombinasi geser (oblique thrust fault) akibat aktifitas subduksi lempeng selatan Jawa. Dengan kata lain gempabumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Data BMKG menunjukkan guncangan gempa paling kuat terasa di Blitar yang kekuatannya mencapai skala V MMI (Modified Mercalli Intensity) atau getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, barang-barang terpelanting, dan barang besar tampak bergoyang. Tidak hanya itu, terdapat 32 kabupaten/kota di Pulau Jawa, Bali, dan Lombok turut merasakan guncangan dengan skala antara IV-II MMI.

Mengapa Guncangannya cukup luas?

Meski tergolong gempabumi menengah, Gempabumi Blitar menimbulkan dampak guncangan yang cukup luas. Hal ini menjadikan banyak orang bertanya, mengapa Gempabumi Blitar mengguncang hingga wilayah Bali dan Lombok? Ternyata, kondisi tersebut berkaitan dengan kedalaman hiposenter dan magnitudonya. Prinsipnya, semakin dalam hiposenter semakin luas pula cakupan energi gelombang gempa.  Semakin besar kandungan energi gempa (magnitudo) maka akan semakin besar efek goncangan atau getaran tanah. Semakin besar getaran tanah maka akan semakin besar pula kemampuan merusaknya terhadap bangunan.

Prinsip tersebut selaras dengan kejadian gempa ini, dimana dengan kombinasi kekuatan gempa yang besar dengan kedalaman menengah membuat 32 daerah turut merasakan guncangannya. Meskipun jumlah daerah terdampaknya lebih banyak jika dibandingkan dengan kejadian gempabumi sebelumnya, patut disyukuri bahwa efek guncangannya tidak terlalu parah.

Hal ini didukung karena hiposenter pada gempa kali ini lebih dalam dibandingkan sebelumnya, sehingga energi gelombang merambat pada jarak yang lebih jauh dan mengalami proses atenuasi (proses mengecilnya respon tanah) yang lebih banyak. Wajar saja gempa kali ini lebih sedikit menimbulkan dampak kerusakan. Namun patut diketahui, cakupan guncangannya lebih besar karena hiposenternya lebih dalam.

Hal yang Patut Diwaspadai                                                                                             

Gempabumi Blitar merupakan gempa besar kedua di selatan Jawa Timur dan hanya berselang kurang lebih sebulan setelah Gempabumi Malang terjadi, merupakan sebuah “warning” bagi penduduk terdampak, khususnya dampak terhadap bangunan. Kejadian ini mengingatkan kita terhadap Gempabumi Lombok yang secara berurutan terjadi dengan magnitudo dan dampak yang signifikan.

Adanya “sinyal alam” ini, sepatutnya masyarakat segera menyadari untuk memperhatikan betul kondisi bangunanya akibat gempuran gempabumi signifikan ini. Normal saja kekuatan suatu bangunan kian lama makin melemah dengan adanya guncangan gempa beberapa kali.  Oleh karena itu, diharapkan masyarakat memperkuat struktur bangunannya dan/atau mendirikan bangunan berbahan ringan.

Idealnya syarat tersebut mampu mengurangi timbulnya korban luka-luka bahkan korban jiwa. Berdasarkan fakta dilapangan, penyebab terbesar timbulnya korban adalah bangunan yang roboh bukan kejadian gempabumi itu sendiri. Memang betul “biang keladinya” adalah gempabumi akan tetapi kita perlu menyadari juga bahwa kejadian gempabumi tidak dapat kita kendalikan sama sekali. Selain itu, kita mengenal betul bahwa kita hidup ditengah-tengah wilayah rawan gempabumi, sehingga bukan menjadi hal yang baru untuk terlalu difokuskan melainkan ada hal yang lebih “urgent” saat ini, yaitu penerapan mitigasi bencana melalui pemerhatian struktur bangunan.

Perlu ditekankan kembali bahwa gempabumi tidak dapat melukai, namun reruntuhan bangunan dan kepanikan dari masyarakat itu sendirilah penyebabnya. Tentu kita berharap semua akan baik-baik saja. Oleh sebab itu, masyarakat diminta untuk tidak terpengaruh hoaks serta meningkatkan kepedulian terhadap bencana di daerah tempat tinggal masing-masing, seperti memasang peta jalur evakuasi, melakukan pengecekan konstruksi bangunan secara berkala, dan memberdayakan instansi terkait untuk pemberian edukasi kebencanaan. I Gusti Ketut Satria Bunaga, S.Tr., Staf Operasional BMKG Stasiun Geofisika Klas III Mataram

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.