PADA suatu kesempatan, pelatih Manchester City, Pep Guardiola, menyatakan skuatnya kelelahan melakoni tiga kompetisi ketat tahun ini yakni Piala FA, Liga Premier Inggris, dan Liga Champions. Namun, perjalanan mereka di tiga palagan itu malah mengejutkan karena berada kian dekat dengan status juara alias Treble Winner. Pernyataan merendah Guardiola, dengan gaya permainan tiki-taka, ternyata sekadar mind games (permainan pikiran) dengan dua tujuan: membuat lawan lengah dan menjadikan timnya tangguh.
Dalam dunia politik Tanah Air, diumumkannya Ganjar Pranowo sebagai capres PDIP oleh Megawati Soekarnoputri pada Kamis (21/4/2023) memiliki similaritas dengan mind games ala Guardiola atau Sir Alex Ferguson. Mega dengan kalem memperlihatkan ke seteru maupun sekutu betapa dalam dan matang skuat PDIP. Sampai-sampai membuat gemas partai lain dan mencoba pelbagai cara menarik kader PDIP sebagai medium pendongkrak elektabilitas. Hanya, pada periode tertentu, Mega membiarkan dinamika konflik internal PDIP menjadi tontonan publik dan dianalisis.
Salah satu kekuatan terbesar PDIP, terutama Mega, adalah kuatnya menjaga rahasia. Bak pesulap, kerahasiaan trik adalah harga mati demi menjaga eksistensi unsur kejutan, dan pesulap, itu sendiri. Publik bisa menebak Mega kecil peluangnya mengorbankan kepentingan partai mendulang hattrick kemenangan pemilu demi bisa mencalonkan Puan Maharani, anak biologisnya. Tetapi caranya seperti apa, itu justru tontonan tak kalah menarik dibandingkan hasil akhir permainan.
Terpilihnya Ganjar sebagai capres PDIP bisa dimaknai sekurang-kurangnya tiga hal. Pertama, elektabilitas survei tetap jadi magnet partai menjatuhkan pilihan. Survei dengan rasionalitas ilmiah menjadi kunci utama, jika tidak paling utama. Menterengnya popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas Ganjar dalam periode lama terlalu mahal untuk diabaikan. PDIP belum bergerak saja sudah bersinar, apalagi jika PDIP melumasi mesin partainya.
Kedua, PDIP membuktikan diri sebagai game changer dalam kandidasi pilpres. Upaya partai lain membangun koalisi jauh-jauh hari, menurut Hasto Kristiyanto, hanya sekadar dansa politik. Pula strategi menggoda PDIP, yang mengantongi 27.503.961 atau 19,33 persen suara di Pileg 2019 atau 128 kursi DPR RI, segera mengumumkan calonnya. Saking kuatnya magnet PDIP, begitu Ganjar dicapreskan, sejumlah ilmuwan politik menganalisis peta koalisi akan berubah. Secara komunikasi massa, pengumuman pencapresan Anies Baswedan oleh Nasdem memang sempat menyedot perhatian. Tapi begitu PDIP memberi khalayak “mainan baru”, sorot lampu panggung Anies sontak padam.
Ketiga, terpilihnya Ganjar juga membuktikan dia memiliki kualitas godokan kawah Candradimuka dengan menjadi martir partai dalam isu, dan kegaduhan, penolakan Timnas Israel dalam Piala Dunia U-20 pada Maret lalu. Meski Piala Dunia U-20 urung dilangsungkan di Indonesia, tapi hasil terakhir sejumlah lembaga survei, Ganjar tetap di atas Prabowo dan Anies. Memang ada penurunan dibanding sebelum Maret, tapi konstan tertinggi. Tetapi, mesti diakui elektabilitas Ganjar tidak terlepas dari citra sebagai salah satu kandidat yang disukai Jokowi untuk melanjutkan pembangunan.
Jika dilihat dari perspektif “lucu-lucuan”, pertunjukan panggung depan ala PDIP bak permainan sulap dengan Mega sebagai the magician. Dalam sulap, sekurangnya ada tiga unsur yakni misdirection (pengalihan perhatian), deception (muslihat), dan surprise (kejutan). Berbekal pengalaman sebagai politisi tegar sejak tahun 1993, plus menjadikan “diam” sebagai senjata, Mega terampil membaca karakter dan selera rakyat Indonesia dalam berpolitik praksis.
Mega melepas orang berbicara apa saja (misdirection), momen itu dijadikan peluang mengerjakan yang ingin dikerjakan tanpa gangguan (deception), dan membuat keputusan tanpa terlacak kapan diumumkan (surprise). Mirip ketika pesulap berkata “lihat tangan saya, kosong kan?” dan kemudian secara ajaib mengeluarkan puluhan kartu dari tangannya.
Disengaja atau tidak, Ganjar saat ini diposisikan sebagai solidarity maker partai, sekaligus menguatkan party ID kader yang sebelumnya disebut-sebut agak redup dengan ditiupkannya nama Puan Maharani dalam kandidasi. Kala media dipenuhi warta soal rivalitas Puan dan Ganjar sejak tahun 2021, Mega dalam sunyi memanfaatkan momentum guna mengharmonisasi elektabilitas survei dengan suasana kebatinan kader dan konstituen. Ganjar menjadi the one alias yang terpilih, itulah hasilnya.
Kandidasi menepi, kompetisi menanti. Publik tentu berharap munculnya lima bakal calon presiden yakni Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo akan menyajikan tarung gagasan produktif sebagai jembatan menuju Indonesia Emas tahun 2045. Tarung ide membuat kita punya salah satu indikator politik yang naik kelas, yakni kualitas perbincangan publik lebih berorientasi pada gagasan dan program penyelesaian persoalan masyarakat (Gun Gun Heryanto, 2018). Pula palagan politik yang mewajibkan setiap kandidat siap ditelanjangi rekam jejak, kapasitas, dan integritasnya (Burhanudin Muhtadi, 2013).
Rakyat niscaya mendamba kompetisi yang tidak mengulang politik identitas sebagaimana kita saksikan pada Pilpres 2014 dan 2019 lalu. Mau main kampanye negatif? Silakan, sejauh tersaji data yang bisa didebatkan atau diverifikasi. Yang penting jangan kampanye hitam alias tuduh sana tuduh sini yang dasarnya adalah fitnah, rumor, atau pembunuhan karakter yang dapat menumpulkan nalar kritis, pun menjebak pada heteronomi, alih-alih substansi, komunikasi. Apalagi berbasis sesat logika burden of proof alias A menuduh B berbuat sesuatu, tapi B dituntut membuktikan bahwa dia tidak seperti yang dituduhkan A.
Apakah benar Ganjar jadi suksesor Jokowi? Biarlah sejarah yang membuktikan pada Pilpres 2024 kelak. Yang terbukti saat ini adalah Mega political magician andal, dan tiki-taka ala PDIP mengirim pesan mereka terdepan dalam mind games politik. Gus Hendra
























