DENPASAR – Sebanyak 48 peserta mengikuti upacara matatah atau mapandes yang digelar secara massal di Balai Banjar Petangan Gede, Desa Adat Pohgading, Ubung Kaja, Kota Denpasar. Upacara ini digelar bertepatan dengan rahina Purnama, Minggu (15/5/2022) serangkaian Upacara Ngenteg Linggih, Padudusan Alit Wraspatikalpa Agung, lan Nyurud Ayu Pura Ratu Bagawan Penyarikan.
Dalam upacara matatah tersebut melibatkan 6 orang sangging yang bertugas mengasah gigi para peserta. Dalam kesempatan ini, Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara, ikut serta ngayah sebagai sangging dengan menatah gigi tiga orang peserta. Jaya Negara memang tidak asing lagi dalam tugas nyanggingin. Pelaksanaan upacara ini juga dihadiri Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede; dan Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali, AA Ngurah Adhi Ardhana.
Di sela-sela upacara Jaya Negara mengatakan, ritual mapandes yang merupakan salah satu upacara Manusa Yadnya yang wajib dilakukan. “Dalam agama Hindu, mapandes wajib dilakukan ketika anak menginjak usia remaja atau sudah dewasa. Upacara ini bertujuan untuk mengendalikan enam sifat buruk manusia yang menurut agama Hindu dikenal dengan istilah Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia),” jelasnya.
Manggala Karya, I Made Suastana, mengatakan, rentetan Upacara Ngenteg Linggih Padudusan Alit Wraspatikalpa Agung Lan Nyurud Ayu Pura Ratu Bagawan Penyarikan, Banjar Petangan Gede dimulai sejak 30 April 2022 dan berakhir pada 17 Mei 2022. Menurutnya, upacara ini sudah lama tidak dilaksanakan sejak 53 tahun yang lalu.
“Kini dilaksanakan sekaligus usai dilaksanakan pemugaran balai banjar dan bangunan pura banjar yang diresmikan oleh Bapak Wali Kota Jaya Negara dengan penandatanganan prasasti,” katanya. rap






















