DENPASAR – Salah satu tradisi di Bali yang masih ajeg lestari di beberapa tempat adalah maprani. Prosesi maprani dilakukan menjelang Hari Raya Nyepi, tepatnya sebelum melakukan Tawur Agung Kesanga serangkaian hari suci Nyepi Saka 1945 di hari Pengerupukan pada pagi harinya.
Seperti prosesi maprani yang dilaksanakan krama Desa Adat Penatih Puri, Kelurahan Penatih, Denpasar Timur, Selasa (21/3/2023). Selain berpusat di Bale Agung, maprani juga dilakukan di masing-masing banjar.
Tradisi ini menurut Bandesa Adat Penatih Puri, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, SH., sebagai ucapan rasa syukur secara sekala dan niskala umat agar mampu menjalankan catur brata penyepian dengan baik. Papranian ini adalah bentuk persembahan umat kepada semua makhluk (sarwa prani=serba hidup) baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan di alam ini.
Ini menunjukkan keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Pencipta (Hyang Widhi) dan alam berserta isinya. Makanya ia mengatakan Hindu sangat akrab dengan alam beserta isinya.
Setelah prani dihaturkan di halaman pura selanjutnya krama desa adat nunas prani yang telah dihaturkan dan duduk di halaman pura dan wantilan bersama anggota keluarga. Makan sambil bercengkrama dengan keluarga lain yang duduk di sebelahnya.
Bahkan ada yang bertukar lauk hanya sekadar mencicipi. Tradisi ini selain sebagai wujud rasa syukur kehadapan Sang Hyang Widhi juga sebagai wadah untuk mempererat tali persaudaraan sebagai implementasi ajaran Vasudhaiva Kutumbakam.
Inilah sebut I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, secara sekala, prosesi maprani ini adalah sarat dengan nilai sosial. Makanya ketika maprani antar-KK saling tukar isi prani. Ini artinya mereka sudah saling maaf memaafkan sebagai modal dasar umat menjalankan catur brata penyepian.
Melalui pelaksanaan tradisi maprani ini, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, berharap krama Desa Adat Penatih Puri selalu diberikan keselamatan, kerahayuan, dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan. Hidup dalam nuansa kekeluargaan dan dijauhkan dari segala ancaman bencana alam.
Kerenanya, tradisi ini tak boleh hilang. Dia berkomitmen akan terus melestarikan tradisi ini, sebagai wujud syukur kepada Ida Sesuhunan yang dipercaya telah memberikan segala yang dibutuhkan krama Desa Adat Penatih Puri. tra























