DENPASAR – Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, menyebutkan, dalam suasana pendidikan dengan kurikulum merdeka, sekolah harus dijadikan taman bagi murid-murid agar tercipta karakter yang bermanfaat bagi lingkungan sosialnya. Pendidikan hakikatnya bukan hanya memberi pengetahuan dan pengajaran, tetapi yang paling penting adalah menciptakan perubahan perilaku anak didik kita menjadi lebih disiplin, lebih sehat, lebih perhatian terhadap lingkungan sekolah sehingga tercipta generasi berkualitas yang bermanfaat bagi lingkungan sosialnya.
“Disiplin bukan berarti menebar rasa takut atau sampai menimbulkan tekan psikologi bagi warga sekolah,” lugas Agung Wiratama pada rapat rutin Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Denpasar di SMPN 10 Denpasar, Kamis (10/11/2022).
Agung Wiratama mengingatkan, kepala sekolah sangat berperan dalam menciptakan suasana yang kondusif di lingkungan sekolah. Warga sekolah harus pakadek pekenyum, sehingga sekolah harus menjadi “taman belajar” bagi siswa.
“Semua tentu sepakat bahwa taman diidentikkan dengan sesuatu yang hal yang indah, sejuk, sedap dipandang, aman dan nyaman untuk dikunjungi. Siswa semangat ketika berangkat ke sekolah, senang selama belajar di sekolah, dan berat hati suara bel tanda pulang sekolah berbunyi,” ujarnya.
Di sisi lain, dia juga menyampaikan hasil survei dari Program for International Student Assessment (PISA) memperlihatkan tingkat literasi masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah. UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang gemar membaca.
Melihat angka itu, Agung Wiratama, menyerukan gerakan literasi digiatkan kembali. Budaya membaca berkaitan erat dengan kemajuan suatu peradaban. Kemajuan teknologi maupun digitalisasi diperoleh dari buku yang menjadi sumber ilmu pengetahuan. Oleh karenanya budaya gemar membaca harus digiatkan kembali. Seperti melalui gerakan literasi.
“Literasi atau minat baca di Indonesia hanya 0,001, artinya 1 orang dari seribu orang yang suka membaca. Itu angka yang menyedihkan, sedangkan buku adalah jendela dunia. Dan saya yakin ini berhubungan erat dengan kemajuan teknologi, era digitalisasi yang semuanya butuh ilmu pengetahuan,” ucapnya.
Agung Wiratama meminta gerakan literasi harus menjadi gerakan nyata. Produk literasi harus nyata. Dia juga mengatakan bahwa hal itu telah diwujudkan di beberapa satuan pendidikan di SD dan SMP telah membuat karya hasil literasi berbentuk buku. Namun jumlahnya perlu ditingkatkan.
Dia melanjutkan, inovasi-inovasi harus terus dilakukan. Guru harus dapat berubah. Jangan terjebak pada rutinitas normal. Namun harus mampu menghadirkan inovasi-inovasi baru bagi kemajuan pendidikan di Kota Denpasar.
“Saya harapkan sekolah menjadi ekosistem yang kemudian konstruktif di bidang literasi, memberikan terobosan-terobosan, inovasi-inovasi bahwa literasi atau membaca maupun menulis bukan hal yang membosankan,” ucapnya menandaskan. tra






















