Kecelakaan, Komisioner Bawaslu Patah Tulang Rusuk, Tim Verfak KPU Denpasar Disangka Tukang Tagih

KOMISIONER KPU Denpasar (tengah) saat memverifikasi faktual warga yang identitasnya masuk dalam Sipol sebagai anggota parpol, beberapa waktu lalu. Foto: ist

DENPASAR – Namanya berhadapan dengan orang banyak, dengan banyak karakter pula, niscaya menghadirkan beragam pengalaman. Alih-alih direspons dengan sepatutnya, tim verifikasi faktual (verfak) keanggotaan parpol KPU Denpasar justru disangka tukang tagih utang oleh warga yang didatangi.

Hal itu menyebabkan sejumlah warga enggan diajak komunikasi, dengan alasan tak mau ikut campur urusan orang lain. “Ya, suka-duka verfak ini macam-macam. Malah Pakyan Sudarsana, anggota Bawaslu Denpasar, sampai kecelakaan saat bertugas mengawasi verfak,” tutur Ketua KPU Denpasar, I Wayan Arsajaya, ditemui, Rabu (2/11/2022).

Read More

Lebih jauh dikisahkan, tim verfak mulai turun sejak 18 Oktober lalu. Karena ada sembilan parpol yang diverfak, dia membagi tim menjadi tiga tim besar. Berhubung areal yang disasar berada dalam Kota Denpasar yang jalan ke lokasinya relatif kecil, dia dan tim merasa lebih efektif mengendarai sepeda motor.

Rerata tim KPU mengendarai dua sepeda motor, ditambah pengawas dari Bawaslu di motor lainnya. “Kalau gimana, malah kami boncengan dengan rekan Bawaslu. Itu bentuk kerjasama kami di lapangan,” cetusnya terkekeh.

Berhubung tahapan verfak berlangsung pada saat musim hujan, Arsajaya mengaku faktor cuaca jadi tantangan tersendiri. Karena ditenggat waktu, bahkan saat hujan pun tim verfak harus tetap bekerja. Badan demam dan sakit karena flu adalah konsekuensi yang “wajib” diterima.

Disinggung kesiapan parpol yang diverfak, Arsajaya menyebut ada parpol mengakomodasi dan mendelegasikan proses verfak dengan cara membentuk koordinator di masing-masing desa.

Jadi, tim verfak KPU tinggal bertemu liaison officer (LO) atau narahubung, dan langsung diarahkan ke warga yang jadi sampling. “Yang begini ini sangat membantu kerja kami memverifikasi. Bisa dikatakan 50 persen kerja kami diringankan,” puji komisioner penghobi lari tersebut.

Kalau ada parpol yang dinilai “plus”, tentu ada juga parpol yang bernilai “minus”. Maksudnya, parpol itu tidak punya tim koordinator, LO tidak ada, dan KPU mesti cari sendiri sampel data warga yang dicari. Kalau alamatnya jelas tentu tidak masalah, tapi lumayan banyak yang alamatnya kurang jelas.

Lebih sial lagi, sudah putar-putar cari alamat, yang dicari tidak pula di tempat; entah bekerja atau pindah alamat. Jika tidak menemukan sampel itu, Arsajaya berujar akan minta kesaksian dari tetangga atau kepala lingkungan.

Bila orangnya ditemukan, KPU akan memverifikasi keanggotaan parpol dengan KTP elektronik dan KTA parpol. “Kalau tidak ada KTA digital, foto Whatsapp juga bisa dan orangnya menyatakan benar, udah, diteken. LO jadi saksi, Bawaslu mendokumentasikan,” paparnya.

Soal dukanya, dia berujar tim verfak sempat disangka tukang tagih utang alias debt collector. Penilaian itu yang membuat banyak orang tidak mau membantu mencari alamat warga yang disampling.

Ada juga yang serta merta menolak membantu ketika dijelaskan bahwa tujuannya untuk verfak keanggotaan parpol, dengan alasan enggan dikaitkan dengan politik. “Ujung-ujungnya mereka malas jadi saksi (ketika sampel yang dicari tidak ada)” pungkasnya geleng-geleng kepala.

Di kesempatan terpisah, anggota Bawaslu Denpasar, I Wayan Sudarsana, membenarkan dia mengalami kecelakaan saat melakukan pengawasan pada Jumat (28/10) lalu. Motornya terjatuh di Jalan Patih Nambi, Denpasar dan akibatnya lumayan fatal.

Tulang rusuk kirinya, yang semula “dirasa” cuma luka ringan, ternyata patah. “Kalau narik napas terasa sakit, tapi sudah diberi obat ama dokter. Ini masih rawat jalan, besok (hari ini) dicek lagi,” jawabnya lewat Whatsapp. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.